![]() |
| (Doc. Humas Unesa) Pejabat Unesa dan Konjen Australia dalam forum diplomasi pendidikan vokasi |
Dekan Fakultas Vokasi Unesa, Suprapto, menegaskan bahwa kerja sama pendidikan menjadi langkah strategis dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Australia. Menurutnya, kolaborasi tidak hanya berhenti pada diskusi formal, tetapi harus diwujudkan dalam program nyata bagi mahasiswa.
“Kami ingin mendorong mahasiswa Vokasi untuk tidak ragu melanjutkan studi ke luar negeri, bertujuan peningkatan kapasitas akademik. Dukungan beasiswa dari Australia sangat menjanjikan kenyamanan bagi mahasiswa,” ujar Suprapto.
Ia menjelaskan, Fakultas Vokasi Unesa saat ini tengah menjajaki kerja sama riset dan pembukaan kelas internasional bersama Greenfield University, Australia. Upaya tersebut akan diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan nota kesepakatan (MoA) dalam waktu dekat.
Selain itu, Unesa juga berencana mengundang akademisi dari Australia dalam konferensi internasional ICASVI mendatang sebagai bagian dari penguatan jejaring global.
Sementara itu, Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew, menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan hubungan kedua negara. Ia menilai pengalaman internasional mahasiswa dapat menjadi jembatan diplomasi jangka panjang.
“Hubungan pemerintah itu penting, tapi hubungan antar masyarakat lebih fundamental. Mahasiswa yang kuliah di Australia akan kembali ke Indonesia dengan pengalaman baru dan hubungan seumur hidup dengan Australia,” kata Glen.
Ia juga mengungkapkan adanya peningkatan kuota visa pelajar untuk kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang mencapai 25 ribu visa. Hal ini menjadi peluang besar bagi mahasiswa Indonesia untuk mengakses pendidikan di Australia.
Tak hanya itu, Glen menyoroti keunggulan program beasiswa pemerintah Australia yang telah berjalan selama lebih dari 50 tahun. Program tersebut mencakup biaya hidup yang komprehensif, sehingga dinilai mampu memberikan dukungan maksimal bagi mahasiswa internasional.
“Meski memiliki perbedaan mencolok dari segi budaya, agama, hingga iklim ekstrem yang suhunya bisa menembus 50 derajat Celsius, perbedaan tersebut justru menjadi peluang kolaborasi,” tutupnya.
(rin/red)
