zmedia

Mengukir Pengalaman di Dunia Pendidikan melalui Asistensi Mengajar di SMP Negeri 11 Malang

(Doc. Istimewa) Mahasiswa Asistensi Mengajar UM bersama siswa SMPN 11 Malang usai kegiatan pembelajaran dan pendampingan sekolah
Hariancendekia.com - Program Asistensi Mengajar (AM) dalam kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) menjadi wadah krusial bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke realitas dunia pendidikan. Di sini, kami penulis esai ini yaitu, Ahmad Bahriz Kurnia Ilahi, Muhammad Malik Fajar Febrian, Raditya Dava Mahendra, dan Salman Alfariz, selaku Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) Fakultas Ilmu Keolahragaan, Departemen Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Angkatan 2023 tidak sekadar menonton, melainkan bertindak sebagai mitra guru, fasilitator, sekaligus pembelajar yang menguji teori perkuliahan di lapangan.

Kami sangat beruntung ditempatkan di SMP Negeri 11 Malang, sebuah sekolah yang bukan hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki atmosfer lingkungan yang sangat mendukung pertumbuhan profesional kami.

Pengalaman Pertama Mengajar: Dari Ketegangan Menjadi Kedekatan

Kami memulai langkah di SMPN 11 Malang pada tanggal 9 Februari 2026 yang dimana kita sama sama memicu perpaduan rasa gugup dan antusias, tak rasa ini terjadi juga sesama teman sejawat kita yang sedang melakukan program Asistensi Mengajar.  Teori micro teaching yang kami kuasai di kampus ternyata berbeda dan sangat menantang saat dihadapkan pada dinamika kelas yang nyata. Momen krusial terjadi saat kami mengajar materi pertama di kelas VIII.

Awalnya, respons dari peserta didik cukup pasif dan kurang tertarik, akan tetapi kami enggan menyerah, dan kita mengubah strategi. Pembelajaran konvensional kami ganti dengan penayangan video interaktif, serta sebelum simulasi praktik di lapangan kita mengadakan penjelasan sedikit mengenai materi yang akan kita ajarkan kepada peserta didik. Hasilnya luar biasa; mereka menjadi sangat kompetitif, ceria, dan selalu menantikan jam pelajaran PJOK berikutnya. Dari sini kita paham bahwa esensi mengajar adalah menciptakan ruang belajar yang bermakna.

Inovasi Pembelajaran Berbasis Teknologi

Menghadapi tantangan pendidikan modern, kami mengintegrasikan media digital dalam proses belajar-mengajar. Platform seperti Canva kami gunakan untuk menyusun materi visual yang menarik, sementara Google Form dan Google Meet dioptimalkan untuk evaluasi dan ruang diskusi alternatif.
Menyerap Ilmu dari Guru Pamong dan Budaya Sekolah.

Pembelajaran terbesar tidak hanya datang dari siswa, melainkan dari ekosistem sekolah. Bu Zihan, selaku guru pamong, sangat telaten memberikan evaluasi konstruktif. Beliau mengajari kita seni mengelola kelas, manajemen waktu, hingga cara membangun ikatan emosional dengan siswa.

Selain itu, budaya di SMPN 11 Malang sangat membentuk karakter. Aktivitas rutin seperti menyambut peserta didik di gerbang pagi hari, jumat KOBER (Kegiatan Olahraga BERsama), PPK Nasionalis, PPK Literasi, dan program Adiwiyata memperlihatkan komitmen sekolah dalam membentuk kepribadian peserta didik yang disiplin serta peduli lingkungan, dan juga keterbukaan dari seluruh guru mata pelajaran lain membuat kami merasa diterima di dalam keluarga besar ini.

Kegiatan Non-Akademik yang Menginspirasi

Aktivitas kami tidak terbatas di dalam kelas. Kita juga terlibat aktif dalam Jumat KOBER (Kegiatan Olahraga BERsama), kedatangan Mahasiswa AM sebelum peserta didik datang ke sekolah, pengkondisian untuk sholat, dan program berbasis lingkungan. 
Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah pendampingan lomba voli antar pelajar dan O2SN cabor karate yang diikuti siswa kelas VII, VIII, dan IX. yang dimana Mahasiswa AM diberikan kesempatan dan pengalaman buat mendampingi peserta didik dalam kegiatan lomba. Pada Momen ini mengubah peran kami dari pengajar di kelas menjadi pengganti figur guru dan orang tua di lapangan, yang bertanggung jawab penuh atas fisik dan mental peserta didik.

Mendampingi atlet remaja SMP adalah seni mengelola emosi mereka yang dipenuhi rasa takut sekaligus ekspektasi besar. Fokus kami bukan lagi pada strategi teknis permainan, melainkan pada bagaimana menyalurkan ketenangan saat mereka panik dan mengembalikan rasa percaya diri saat mereka mulai ragu.
Walaupun kita tidak diikutkan dalam latihan sebelum lomba dilaksanakan, akan tetapi kita dapat Pelajaran dan pengalaman buat motivasi mereka yang akan bertanding dicabang olahraga bola voli dan karate. Pengalaman mengemban estafet peran guru sebagai pendamping lomba ini memberikan kesadaran mendalam bagi kami: bahwa menjadi pendidik berarti siap menjadi jangkar bagi peserta didik di tengah badai kecemasan mereka, dan menjadi pemandu yang percaya pada potensi mereka, bahkan sebelum mereka memercayai diri mereka sendiri.

Tantangan dan Solusi

Tantangan terbesar kami adalah menghadapi peserta didik yang memiliki kemampuan dan karakter yang berbeda-beda.. Menghadapi mereka yang terlalu aktif maupun yang pendiam menuntut kami menerapkan strategi ganda: melibatkan mereka yang aktif sebagai pemimpin diskusi, dan melakukan pendekatan personal bagi peserta didik yang pemalu demi memupuk rasa percaya diri mereka. Selain itu, manajemen waktu antara tugas mengajar, urusan administrasi, dan kewajiban kuliah dapat diatasi dengan baik berkat kerja sama tim mahasiswa yang solid.

Refleksi Diri dan Penutup

Pengalaman di SMPN 11 Malang mematangkan cara pandang kami. Mengajar bukan sekadar transfer informasi, melainkan perpaduan antara empati, kesabaran, dan dedikasi untuk terus beradaptasi. Secara keseluruhan, program Asistensi Mengajar ini merupakan pengejawantahan nyata dari filosofi Ki Hadjar Dewantara: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Kami merasa lebih siap secara kompetensi dan mental untuk melangkah ke dunia profesi sebagai pendidik yang adaptif, humanis, dan siap menginspirasi masa depan.

Sebagai penutup, kami ingin mengutip pemikiran dari Penyair dan Perail Nobel dari irlandia yaitu William Butler Yeats yang mengatakan bahwa “Pendidikan bukanlah sedakar mengisi ember yang kosong, melainkan menyalakan sebuah api”. Tugas kami bukanlah menjejali kepala kalian dengan materi, melainkan memantik api rasa ingin tahu. Semoga percikan semangat yang kita nyalakan bersama ini akan terus berkobar untuk mengantar kalian meraih cita-cita. (*)
_________
*) Penulis: Ahmad Bahriz Kurnia Ilahi, Muhammad Malik Fajar Febrian, Raditya Dava Mahendra, dan Salman Alfariz.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
-Advertisement-