![]() |
| (Doc. Istimewa) Siswa SMK Negeri 1 Bagor mengikuti uji kompetensi bersama asesor industri |
Uji kompetensi ini tidak sekadar menjadi formalitas kelulusan, tetapi menjadi penentu kesiapan siswa menghadapi industri yang semakin kompetitif. Kehadiran asesor dari industri memberikan standar penilaian yang ketat, meliputi kemampuan teknis, sikap kerja, kedisiplinan, hingga kemampuan beradaptasi.
Pada jurusan Tata Boga, uji kompetensi dipimpin oleh Topan Nurudin sebagai asesor utama dari industri perhotelan Aston Inn Batu. Ia didampingi sejumlah chef profesional yang memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar dapur profesional.
“Penilaian kami tidak hanya pada rasa, tetapi bagaimana mereka bekerja. Teknik, kebersihan, manajemen waktu, hingga pemahaman suhu menjadi kunci utama,” tegas Topan.
Para siswa diuji secara menyeluruh mulai dari teknik memasak, penyajian, hingga manajemen dapur. Menu yang diolah pun merupakan hidangan khas Indonesia seperti soto ayam, sate tempe, hingga rujuk buah. Seluruh proses dilakukan secara mandiri tanpa intervensi untuk mengukur kemampuan riil masing-masing peserta.
Sementara itu, jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) menghadirkan tantangan berbeda. Proses sertifikasi dipimpin oleh Binarto yang menguji kemampuan siswa dalam desain dan kreativitas visual.
“Peserta dituntut mampu menghasilkan karya yang tidak hanya estetis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan industri kreatif saat ini. Penilaian mencakup pemahaman konsep, penguasaan software, hingga kemampuan membaca tren pasar,” kata Binarto.
Binarto menambahkan bahwa kolaborasi dengan praktisi industri ini sangat penting mengingat dunia desain terus berkembang pesat. Menurutnya, tanpa adaptasi terhadap teknologi dan kebutuhan pasar, lulusan berpotensi tertinggal.
“Desain bukan hanya soal visual, tapi juga solusi. Siswa harus paham kebutuhan pasar dan terus belajar mengikuti perkembangan teknologi,” sebut Binarto.
Guru pendamping, Ika Gunartin, menegaskan bahwa sertifikasi ini menjadi tolok ukur utama kesiapan siswa. Ia memastikan seluruh peserta benar-benar diuji dengan standar profesional, bukan sekadar memenuhi syarat administratif kelulusan.
Menurutnya, pendekatan ini menjadi langkah konkret dalam meningkatkan daya saing lulusan SMK. Dengan keterlibatan langsung industri, siswa mendapatkan pengalaman nyata yang tidak bisa diperoleh hanya dari pembelajaran di kelas.
“Kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri. Sekolah tidak lagi berjalan sendiri, melainkan berkolaborasi untuk menciptakan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Dengan uji kompetensi berbasis industri ini, SMK Negeri 1 Bagor berharap lulusannya mampu bersaing secara profesional dan memiliki standar kompetensi yang diakui, sekaligus menjawab tantangan dunia kerja yang terus berubah,” pungkas Ika Gunartin.
(adv/red)
