![]() |
| (Doc. Istimewa) Tragedi Bintaro yang terjadi pada 19 Oktober 1987 |
Insiden di jalur padat penyangga Jakarta ini menewaskan sekitar tujuh orang dan melukai sedikitnya 81 lainnya, serta memicu perbincangan luas publik yang mengaitkannya dengan Tragedi Bintaro 1987.
Data terbaru menyebut jumlah korban meninggal dunia dalam kecelakaan kereta Bekasi Timur bertambah menjadi tujuh orang. Sebanyak 81 korban luka kini menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.
PT Kereta Api Indonesia menyampaikan seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek yang berjumlah 240 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Penanganan difokuskan pada penumpang KRL yang mengalami dampak paling parah.
Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menjelaskan rangkaian KRL berada dalam kondisi berhenti sebelum tertabrak.
“KRL berhenti, di belakangnya ada Kereta Argo Bromo,” kata Franoto.
Ia menyebut KRL tersebut sebelumnya tertemper kendaraan di perlintasan langsung dekat Bulak Kapal, sehingga terpaksa berhenti di jalur.
Peristiwa ini segera memicu reaksi luas di media sosial. Banyak warganet mengaitkan kecelakaan tersebut dengan Tragedi Bintaro 1987, salah satu kecelakaan kereta paling mematikan di Indonesia.
Tragedi Bintaro yang terjadi pada 19 Oktober 1987 melibatkan dua kereta dari arah berlawanan dan menewaskan 139 orang serta melukai 254 lainnya. Peristiwa itu terjadi di jalur padat dan dipicu persoalan komunikasi serta prosedur perjalanan.
Kesamaan pola tabrakan antarkereta, lokasi di jalur sibuk, serta munculnya korban jiwa membuat publik kembali mengingat tragedi tersebut. Meski demikian, secara teknis kedua peristiwa memiliki perbedaan mendasar.
Dalam kasus Bekasi Timur, tabrakan terjadi dari arah belakang saat KRL dalam posisi berhenti. Sementara pada Tragedi Bintaro, dua kereta bertabrakan dari arah berlawanan di lintasan tunggal.
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, menyatakan proses evakuasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan korban. Ia menegaskan investigasi penyebab kecelakaan diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi.
“Penanganan dilakukan maksimal. Untuk penyebab, kita tunggu hasil investigasi KNKT,” ujarnya.
Sejumlah pertanyaan kini muncul terkait penyebab kecelakaan. Publik menyoroti kemungkinan gangguan di perlintasan, sistem persinyalan, hingga komunikasi perjalanan kereta.
Kecelakaan ini juga berdampak pada operasional perjalanan. KAI menyebut jalur hilir lintas Bekasi–Tambun sempat kembali dilalui pada pukul 01.04 WIB, sementara jalur lainnya masih dalam proses penanganan.
Sejumlah perjalanan kereta dari Stasiun Gambir dan Pasarsenen dibatalkan. KAI juga memberikan pengembalian tiket penuh kepada penumpang terdampak.
Selain itu, posko informasi didirikan di Stasiun Bekasi Timur untuk membantu keluarga korban memperoleh data penumpang. Layanan informasi turut dibuka melalui kanal resmi perusahaan.
Insiden ini menjadi sorotan serius terhadap sistem keselamatan transportasi publik. Kecelakaan di jalur padat seperti Bekasi Timur dinilai sebagai alarm bagi seluruh pemangku kepentingan.
Tragedi ini tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga menguji kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi kereta api yang selama ini menjadi andalan mobilitas harian. (*)
*) Catatan Redaksi
