![]() |
| (Doc. Hariancendekia.com) Ilsutrasi Kampus Hijau. |
Cerpen, Hariancendekia. | Di sebuah hutan yang terkenal sangat hijau, berdiri sebuah kerajaan pendidikan yang megah.
Dari kejauhan, siapa pun yang melihatnya akan berdecak kagum. Pohon-pohon rindang tumbuh subur, slogan-slogan kebajikan terpampang di setiap batang, dan para penghuni hutan gemar membanggakan diri bahwa mereka adalah bagian dari tempat paling bergengsi untuk membangun peradaban dunia di antara hutan-hutan lainnya.
Namun, seperti banyak kisah tentang hutan yang terlalu sibuk memoles daun, akar yang membusuk sering kali luput dari pandangan.
***
Di sudut hutan, di bawah pohon-pohon kokoh yang menjulang tinggi, hidup sekawanan tikus tua yang terkenal lihai menggerogoti lumbung makanan bersama.
Anehnya, meski banyak penghuni hutan mengetahui siapa saja tikus yang pernah mencuri gandum, mereka tetap diberikan tempat duduk empuk di kursi-kursi panas kerajaan. Sebagian bahkan diberi gelar kehormatan; entah karena kompetensi atau sekadar menjadi panggung eksistensi.
“Kenapa tikus itu masih duduk di sana?” tanya seekor kelinci muda.
Seekor burung hantu tua menjawab lirih.
“Karena aturan tertinggi di hutan ini, yang sering dihukum bukanlah pencurinya, melainkan mereka yang terlalu keras menunjuk pencurinya.”
Maka para tikus yang bersinggasana cukup duduk melingkar dengan suguhan kopi dan canda tawa.
Mereka berjalan di lorong-lorong kerajaan dengan dada tegak, seolah ingin menunjukkan bahwa sejarah hanyalah debu yang dapat disapu dengan karpet kekuasaan.
***
Tidak jauh dari balai kerajaan, terdapat sebuah taman yang seharusnya menjadi tempat aman bagi seluruh penghuni hutan.
Namun taman itu perlahan berubah menjadi wilayah yang membuat banyak rusa, kelinci, dan burung-burung kecil merasa takut berjalan sendirian.
Di balik semak-semak, sering terdengar kisah tentang para pemangsa yang memanfaatkan kuasa, senioritas, jabatan, bahkan kedekatan dengan penguasa hutan untuk memangsa mereka yang lebih lemah.
Ketika korban bersuara, sebagian penghuni hutan justru bertanya:
“Apakah kau punya bukti?”
“Kenapa baru sekarang bicara?”
“Jangan merusak nama baik hutan.”
Seolah reputasi taman lebih penting daripada keselamatan penghuninya.
Sementara itu, para pemangsa telah memahami satu hal: diamnya sistem sering kali lebih melindungi pelaku daripada korban.
***
Di puncak pohon tertinggi, hiduplah seekor gajah tua yang menjadi pemimpin kerajaan.
Tubuhnya besar.
Telinganya lebar.
Namun entah mengapa, suara-suara dari bawah sering kali membutuhkan waktu sangat lama untuk sampai kepadanya.
Ketika para penghuni hutan mengirim surat keluhan, surat itu berputar-putar seperti daun kering yang tersangkut di dahan.
Ketika para penghuni hutan mengajukan aspirasi, jawaban yang datang sering kali berupa janji bahwa masalah akan dibahas pada musim berikutnya.
Musim berganti.
Daun gugur.
Tunas tumbuh.
Masalah tetap sama.
Para penghuni mulai bertanya-tanya.
Apakah telinga gajah terlalu jauh dari tanah?
Ataukah ia memang lebih nyaman mendengar tepuk tangan daripada keluhan?
***
Di tengah hutan terdapat sekumpulan monyet yang mengaku sebagai representasi suara para penghuni hutan.
Mereka menamakan diri sebagai kelompok yang menjembatani suara penghuni hutan kepada penguasa.
Setiap kali musim pemilihan tiba, mereka melompat dari pohon ke pohon.
Membawa janji.
Membawa slogan.
Membawa spanduk.
Membawa semangat perubahan.
Namun setelah memperoleh pisang kekuasaan, sebagian besar dari mereka justru sibuk berfoto dan mengurus agenda pribadinya masing-masing.
Lebih ironis lagi, pemimpin kawanan monyet saat ini tampak lebih sibuk mengurus perutnya sendiri di luar hutan daripada menyuarakan suara-suara penghuni hutannya.
Rapat demi rapat hanya berakhir menjadi dokumentasi.
Program demi program hanya menghasilkan unggahan pencitraan di media sosial.
Tetapi ketika penghuni hutan bertanya:
“Apa yang sudah kalian perjuangkan?”
“Apa yang sudah kalian kerjakan?”
Jawabannya sering kali hanya gema kosong yang memantul di antara pepohonan.
Banyak penghuni mulai berbisik.
“Kalau hanya menuliskan nama hitam di atas putih, monyet bisu pun bisa melakukannya.”
***
Di sisi lain terdapat sekelompok burung merak yang bertugas mengawasi jalannya kerajaan.
Mereka disebut sebagai dewan perwakilan penghuni hutan.
Tugasnya sederhana: mendengar, mengawasi, mewakili.
Namun para merak lebih sering sibuk menghitung bulu-bulunya sendiri.
Ketika penghuni hutan mengeluh, mereka berkata:
“Kami sedang mengkaji.”
Ketika masalah membesar, mereka berkata:
“Kami sedang berkoordinasi.”
Ketika krisis datang, mereka berkata:
“Kami akan menjadwalkan pembahasan.”
Sementara itu penghuni hutan menunggu.
Dan terus menunggu.
Sampai pada akhirnya banyak yang lupa untuk apa para merak itu dipelihara.
***
Yang paling lucu dari seluruh cerita ini adalah bahwa hutan tersebut selalu menyebut dirinya sebagai “kampus hijau”.
Hijau pada spanduk.
Hijau pada logo.
Hijau pada taman.
Hijau pada brosur.
Tetapi tidak selalu hijau pada moralitas birokrasi.
Tidak selalu hijau pada keberanian menindak pelaku.
Tidak selalu hijau pada kepekaan terhadap korban.
Tidak selalu hijau pada keberpihakan terhadap mahasiswa.
Karena warna hijau tidak otomatis berarti kehidupan.
Kadang-kadang ia hanya menjadi cat yang menutupi kayu yang lapuk.
***
Maka nanti, akan ada masanya seekor semut kecil berdiri di tengah lapangan hutan.
Ia bukan pejabat.
Bukan pengurus.
Bukan tokoh terkenal.
Hanya seekor semut biasa.
Namun ia berkata dengan suara lantang:
“Masalah terbesar hutan ini bukan tikus yang mencuri.”
“Bukan pemangsa yang berkeliaran.”
“Bukan gajah yang lamban.”
“Bukan monyet yang malas.”
“Bukan merak yang diam.”
“Masalah terbesar hutan ini adalah ketika seluruh penghuni mulai menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar.”
Dan mendadak seluruh hutan menjadi sunyi.
Karena tidak ada kerajaan yang runtuh hanya karena korupsi.
Tidak ada institusi yang hancur hanya karena pelecehan.
Tidak ada organisasi yang mati hanya karena pemimpinnya buruk.
Mereka runtuh ketika orang-orang baik memilih diam terlalu lama.
***
Itulah sebabnya kisah ini disebut “Jenaka Kampus Hijau”.
Sebab yang paling lucu bukanlah para tikus, pemangsa, gajah, monyet, atau merak.
Yang paling lucu adalah sebuah hutan yang terus mengajarkan moralitas, tetapi belum selesai bercermin pada dirinya sendiri. (*)
_________
*) Penulis: Gelandangan Terdidik.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
