Harian Cendekia

Puncak Jakal Bookshop Festival Hadirkan Ratih Kumala dan Perbincangan Warisan Sastra Joko Pinurbo

Ratih Kumala berbincang dalam puncak Jakal Bookshop Festival di Toko Kopi Petroek, Yogyakarta, Minggu (30/8/2026), Foto. Talita for Hariancendekia
Hariancendekia.com | Jakal Bookshop Festival yang digelar di Toko Kopi Petroek pada 20–30 Agustus 2026 mempertemukan pembaca dengan sejumlah penulis melalui diskusi mengenai karya, pengalaman kepenulisan, serta gagasan dalam sastra. Pada Minggu (30/8/2026), festival tersebut menghadirkan penulis Ratih Kumala serta Nurmaeni Firmina Pinurbo, istri mendiang penyair Joko Pinurbo, bersama penulis Cyntha Hariadi dan Hifzha Aulia Azka.

Sesi pertama menghadirkan Ratih Kumala, novelis sekaligus penulis skenario Gadis Kretek. Dalam kesempatan tersebut, Ratih memperkenalkan bukunya, Larutan Senja, yang mengangkat isu feminisme melalui bentuk fabel.

Pemilihan bentuk fabel menjadi salah satu hal yang menarik perhatian peserta. Sebagian hadirin mengaku semula mengira Larutan Senja merupakan novel romantisme lantaran judulnya terdengar lembut dan puitis. Namun, dugaan tersebut berubah setelah mengetahui bahwa buku itu justru mengangkat persoalan feminisme melalui pendekatan cerita fabel.

Ratih mengungkapkan bahwa semut merupakan salah satu hewan yang struktur sosialnya didominasi betina. Menurut Ratih, kondisi serupa juga ditemukan pada sejumlah spesies hewan lainnya.

Pembahasan tersebut memperlihatkan bagaimana isu mengenai relasi gender dapat disampaikan melalui medium cerita yang tidak secara langsung menggurui pembaca. Fabel menjadi sarana bagi Ratih untuk menghadirkan gagasan feminisme melalui karakter, kehidupan, dan relasi antarmakhluk di dalam cerita.

Sesi berikutnya beralih pada perbincangan mengenai mendiang Joko Pinurbo. Nurmaeni Firmina Pinurbo hadir untuk berbagi cerita mengenai kehidupan dan karya sang penyair. Ia didampingi penulis Cyntha Hariadi dan Hifzha Aulia Azka. Diskusi tersebut dimoderatori Polanco S. Achri, lulusan Sastra Universitas Gadjah Mada yang kini aktif sebagai penulis dan pengamat sastra.

Dalam diskusi tersebut, Nurmaeni mengungkapkan pesan yang disampaikan Joko Pinurbo sekitar sepuluh hari sebelum berpulang. Pesan tersebut berbunyi, “Telah kutulis segala senja dan segala prosesnya. Telah kutulis prosesnya menuju senja.”

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian yang mengemuka dalam sesi diskusi. Senja, yang kerap hadir dalam karya Joko Pinurbo, kembali muncul sebagai idiom untuk menggambarkan proses kehidupan sekaligus perjalanan kepenyairannya.

Cyntha Hariadi dan Hifzha Aulia Azka turut membagikan pengalaman mereka selama mengenal Joko Pinurbo dalam lingkungan sastra. Keduanya menilai Joko memberikan ruang yang membuat mereka lebih berani menulis puisi tanpa dibayangi ketakutan terhadap penilaian atas pilihan diksi maupun standar sastra.

Joko dikenal melalui karya-karya yang kerap menggunakan bahasa lisan dan ungkapan sehari-hari. Kesederhanaan bahasa tersebut tidak menghilangkan kedalaman makna yang hendak disampaikan kepada pembaca. Pendekatan itu pula yang dinilai membuat karya Joko terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Pacar Kecil” menjadi salah satu karya yang dibicarakan dalam sesi tersebut. Nurmaeni menjelaskan bahwa karya itu terinspirasi dari putrinya, Lea. Ketika berusia tiga tahun, Lea pernah bertanya mengenai arti kata “pacar”.

Orangtuanya kemudian menjelaskan bahwa pacar adalah teman dekat atau seseorang yang disayangi. Mendengar penjelasan tersebut, Lea menjawab dengan polos, “Kan aku disayang Pak Oko (panggilannya kepada Joko Pinurbo), berarti aku pacar Pak Oko.”

Pengalaman sederhana tersebut kemudian menjadi bagian dari proses kreatif Joko Pinurbo dalam menghasilkan karya. Kisah itu juga memperlihatkan bagaimana peristiwa sehari-hari dalam keluarga dapat bertransformasi menjadi gagasan sastra.

Jakal Bookshop Festival ditutup dengan peresmian Toko Buku Kopi Petroek. Para hadirin mengikuti prosesi tersebut dengan antusias. Peresmian ini sekaligus menandai hadirnya ruang baru yang mempertemukan buku, penulis, dan pembaca dalam satu ruang literasi.

Melalui rangkaian diskusi dan peresmian tersebut, Jakal Bookshop Festival tidak hanya menjadi ruang pertemuan antara penulis dan pembaca, tetapi juga wadah untuk membicarakan gagasan, proses kreatif, serta keberlanjutan ekosistem sastra di Yogyakarta. (Red)