![]() |
| Kuliner tradisional Surabaya tetap diminati di tengah tren kafe modern, Foto. Istimewa |
Perubahan gaya hidup membuat tempat makan kini tidak hanya dipilih berdasarkan menu. Kenyamanan, harga, suasana, hingga fasilitas ikut menjadi pertimbangan masyarakat sebelum bersantap.
Fenomena itu terlihat di sejumlah kawasan Surabaya Timur, seperti Rungkut, Gubeng, dan Medokan Ayu. Kafe dengan harga terjangkau tumbuh menyasar pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda.
Bagi kelompok ini, kafe tak lagi sekadar tempat makan. Ruang yang nyaman membuatnya bisa digunakan untuk bekerja, berdiskusi, belajar, atau sekadar nongkrong setelah beraktivitas.
Kondisi berbeda terlihat di Surabaya Barat. Kawasan Citraland, Wiyung, dan Dukuh Pakis lebih banyak menawarkan tempat makan dengan konsep yang mengutamakan kenyamanan keluarga
Ruang yang luas, fasilitas ramah anak, serta menu dengan porsi untuk dinikmati bersama menjadi daya tarik tersendiri. Pilihan tempat makan pun semakin menyesuaikan kebutuhan setiap kelompok konsumen.
Meski tren berubah, makanan khas Surabaya tidak kehilangan peminat. Rujak cingur, rawon dengan kuah kluwek, tahu campur, lontong balap, hingga semanggi gudangan masih menjadi bagian penting dari identitas kuliner kota.
Cita rasa yang kuat dan karakter yang khas membuat hidangan tersebut tetap relevan. Modernisasi justru memperluas cara masyarakat menikmati makanan tradisional.
Teknologi turut mengubah pengalaman kuliner. Layanan pengantaran makanan digital membuat berbagai sajian khas Surabaya dapat dipesan tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Pada akhirnya, perkembangan kuliner Surabaya bukan soal tradisional melawan modern. Keduanya justru berjalan berdampingan, menawarkan pilihan sesuai kebutuhan dan gaya hidup masyarakat.
Di tengah banyaknya pilihan, rasa yang kuat, suasana nyaman, dan pengalaman berkesan tetap menjadi alasan konsumen kembali ke sebuah tempat makan. (Red)
