![]() |
| (Doc. Pewarta) Edukasi Penyuluhan Inovasi Puding Daun Kelor Pencegah Stunting di Desa Wringinanom |
Transformasi Kelor dari Sayuran Biasa Menjadi Superfood
Kegiatan yang berlangsung selama dua jam di Balai Desa Wringinanom ini dihadiri oleh 21 kader posyandu dari berbagai dusun. Program ini bertujuan mengubah persepsi masyarakat mengenai daun kelor yang selama ini hanya diolah sebagai sayur bening atau lalapan yang kurang disukai anak-anak.
“Selama ini saya tahu kelor cuma buat sayur bening. Ternyata kandungan gizinya sebagus itu, ya. Pantas saja nenek dulu sering bilang kelor itu obat segala penyakit,” ungkap salah satu kader posyandu senior.
Daun kelor memiliki segudang manfaat kesehatan, terutama bagi pertumbuhan balita dan anak-anak. Konsumsi kelor secara rutin dapat membantu tumbuh kembang anak, antara lain melalui kandungan kalsium empat kali lipat lebih tinggi daripada susu sapi yang berfungsi membentuk tulang dan gigi yang kuat. Vitamin A di dalamnya mendukung perkembangan penglihatan yang sehat, mencegah rabun senja, serta menunjang fungsi otak.
Protein lengkap pada daun kelor penting bagi pembentukan otot dan jaringan tubuh. Kandungan zat besi mencegah anemia yang sering dialami anak, sementara vitamin C memperkuat sistem imun agar lebih tahan terhadap penyakit infeksi. Selain itu, antioksidan dalam kelor melindungi sel tubuh dari radikal bebas, meningkatkan nafsu makan, serta memperbaiki sistem pencernaan sehingga penyerapan nutrisi menjadi lebih optimal.
Kandungan Gizi untuk Pencegahan Stunting
Ketua tim mahasiswa, Fu’ad Arif Darmawan, menjelaskan bahwa setiap 100 gram daun kelor segar mengandung 6,7 gram protein, 440 mg kalsium, 0,85 mg zat besi, 380 mikrogram vitamin A, dan 220 mg vitamin C.
“Kelor dikenal sebagai miracle tree karena kandungan gizinya sangat tinggi dan dapat menjadi solusi lokal untuk pencegahan stunting,” jelas Dimas, salah satu anggota Kelompok 12.
Inovasi Puding Kelor Ramah Anak
Inovasi utama yang diperkenalkan adalah puding daun kelor. Produk ini diciptakan untuk mengatasi rasa pahit kelor, sehingga menjadi makanan bergizi yang disukai anak-anak. Puding dibuat dengan bahan sederhana seperti agar-agar plain, serbuk daun kelor, susu full cream, air mineral, gula pasir, dan vanili.
Demo memasak menjadi bagian yang paling menarik. Para kader posyandu ikut serta dalam proses pembuatan, mulai dari mengaduk adonan hingga menuang ke cetakan.
Antusiasme Tinggi dan Komitmen Berkelanjutan
![]() |
| (Doc. Pewarta) Foto bersama usai kegiatan penyuluhan inovatif |
Hasil evaluasi menunjukkan 90 persen peserta mengalami peningkatan pengetahuan tentang manfaat kelor setelah mengikuti kegiatan. Para kader posyandu memberikan respons positif.
“Rasanya enak, tidak pahit seperti yang saya bayangkan. Warnanya juga cantik, pasti anak-anak suka. Saya akan coba buat di rumah untuk anak saya yang susah makan sayur,” ujar salah satu peserta.
Sebagai tindak lanjut, para kader berkomitmen menyebarluaskan informasi ini kepada ibu-ibu balita di wilayah masing-masing. Beberapa kader bahkan berencana mengajukan pengadaan serbuk kelor sebagai program tambahan posyandu.
Untuk mendukung keberlanjutan program, Kelompok 12 KSM-T Unisma juga menanam batang kelor di halaman Balai Desa Wringinanom. Inisiatif ini bertujuan memastikan ketersediaan bahan baku sekaligus mendorong masyarakat menanam kelor di pekarangan rumah masing-masing.
Dampak Jangka Panjang bagi Masyarakat
Program yang dibimbing oleh Hirshi Anadza, S.Hub.Int., M.Hub.Int., ini tidak hanya memberikan edukasi teoretis, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat diterapkan langsung. Tim juga membagikan resep puding kelor serta informasi gizi kepada peserta agar dapat dipraktikkan secara mandiri.
![]() |
| (Doc. Pewarta) Papan baner KSM-T Unisma kelompok 12 |
Selain itu, upaya penanaman pohon kelor dilakukan sebagai bentuk pelestarian tanaman lokal. Keberhasilan program ini diharapkan menjadi model bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan potensi tanaman lokal untuk mendukung pencegahan stunting secara berkelanjutan, membuktikan bahwa solusi gizi tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau biaya besar. (*)
*) Pewarta: Tim KSM Tematik Unisma Kelompok 12.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.


