![]() |
| (Doc. Istimewa) dr. M. Fahrul Udin, Sp.A(K). |
Menurut dr. Fahrul, peningkatan kasus influenza berat pada anak sejalan dengan laporan World Health Organization (WHO) terkait sirkulasi global influenza A(H3N2). Virus ini telah lama dikenal dan bukan merupakan virus baru.
“Influenza A(H3N2) bukan virus baru, tetapi memang dikenal memiliki potensi menyebabkan gejala lebih berat pada anak, terutama balita,” ujar dr. Fahrul.
WHO dalam Seasonal Influenza Update menyebutkan bahwa influenza masih menjadi salah satu penyebab utama rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan pada anak. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI juga melaporkan adanya peningkatan kasus influenza musiman pada awal 2026.
Hal ini diperkuat dalam buku teks Kendig’s Disorders of the Respiratory Tract in Children yang menjelaskan bahwa anak memiliki saluran napas lebih sempit serta sistem imun yang belum matang, sehingga lebih rentan mengalami komplikasi influenza, seperti pneumonia.
Sejumlah jurnal internasional, di antaranya Pediatrics, The Lancet Infectious Diseases, dan Clinical Infectious Diseases, mencatat bahwa influenza A(H3N2) berhubungan dengan tingkat keparahan klinis yang lebih tinggi pada anak serta berperan besar dalam penularan di komunitas.
Dr. Fahrul mengimbau orang tua untuk waspada terhadap tanda bahaya, seperti napas cepat atau sesak, demam tinggi lebih dari tiga hari, anak tampak sangat lemas, atau tidak mau minum.
Sebagai langkah pencegahan, WHO dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan vaksin influenza tahunan bagi anak usia di atas enam bulan. Edukasi berbasis sains dinilai lebih penting dibandingkan kepanikan akibat penggunaan istilah populer yang menyesatkan.
“Influenza dapat dicegah dan ditangani dengan baik. Kuncinya adalah edukasi yang benar dan deteksi dini,” pungkas dr. Fahrul. [roz/rin]
