![]() |
| Muhammad Dzunnurain, Founder Hariancendekia.com |
Hari ini, banyak sarjana di Indonesia mengalami fase membingungkan. Gelar sudah ada, tapi setelah itu bingung mau melangkah ke mana.
Ketika Kampus dan Dunia Kerja Tidak Nyambung
Fenomena ini dikenal sebagai mismatch skill issue. Sederhananya, kemampuan yang dimiliki lulusan tidak sesuai dengan kebutuhan industri.
Mahasiswa bertahun-tahun belajar teori, membuat makalah, dan presentasi. Tetapi ketika masuk dunia kerja, perusahaan justru mencari kemampuan praktis seperti pengolahan data, digital marketing, desain, coding, komunikasi, hingga pemanfaatan AI.
Akhirnya muncul situasi lucu sekaligus tragis. Lulusan banyak, lowongan juga ada, tetapi keduanya seperti tidak saling mengenal.
Sarjana Banyak, Pengangguran Tetap Tinggi
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan pengangguran usia muda dan lulusan perguruan tinggi masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Di sisi lain, banyak perusahaan justru mengaku kesulitan mencari tenaga kerja yang siap pakai.
Artinya, masalah utama bukan sekadar kurangnya pekerjaan. Masalahnya ada pada ketidaksesuaian kemampuan.
Sebagian kampus masih berjalan dengan ritme lama, sementara dunia industri berubah dengan cepat. Industri sudah bicara AI, data digital, dan otomatisasi. Kampus kadang masih sibuk memperdebatkan format cover makalah dan skripsi.
Pendidikan Terlalu Fokus pada Gelar
Kita hidup di negara yang sangat memuja ijazah. Banyak orang percaya semakin tinggi pendidikan, semakin aman masa depan. Padahal realitas sekarang tidak sesederhana itu.
Di Indonesia, pendidikan sering diarahkan untuk mengejar gelar akademik, bukan kemampuan praktis. Yang penting lulus cepat, wisuda.
Soal setelah itu bekerja di mana, kadang urusan belakangan.
Tidak heran banyak anak muda akhirnya merasa “salah jurusan” setelah lulus.
Politik Pendidikan yang Sering Ganti Arah
Masalah lain datang dari kebijakan pendidikan yang sering berubah mengikuti pergantian pejabat. Menteri berganti, program ikut berganti, istilah baru terus bermunculan.
Ada program link and match, Merdeka Belajar, revitalisasi vokasi, dan berbagai pelatihan kerja. Secara konsep terdengar bagus. Namun implementasinya belum merata.
Akhirnya Bertahan dengan Caranya Sendiri
Karena realitas kerja makin keras, banyak lulusan akhirnya memilih jalan alternatif. Ada yang menjadi freelancer, admin online shop, content creator, affiliate marketer, hingga ojek online.
Ini bukan soal gengsi pekerjaan. Banyak anak muda sebenarnya sedang berusaha bertahan di tengah sistem yang belum sepenuhnya siap menghadapi perubahan zaman.
Ironisnya, generasi sekarang dituntut serba bisa. Harus punya pengalaman, skill digital, komunikasi bagus, kreatif, multitasking, dan tetap kuat mental saat HR bilang, “Nanti kami kabari lagi.”
_________
*) Penulis: Muhammad Dzunnurain, Founder Hariancendekia.com.
