zmedia

Krisis Konteks di Kotak Pesan: Mengapa Komunikasi Digital Seringkali Gagal Gara-Gara Kita Lupa Waktu dan Tempat

Raihan Fajri Annauriyan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UA.
HARIANCENDEKIA, OPINI - Kita telah memasuki era di mana batas antara ruang kerja, ruang sosial, dan ruang pribadi menjadi kabur. Gawai di tangan kita memungkinkan komunikasi kapan saja dan di mana saja. Namun, ironisnya, kemudahan ini justru menciptakan krisis konteks yang fundamental dalam komunikasi efektif kita.

Komunikasi bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang kapan, di mana, dan bagaimana pesan itu diterima. Dalam komunikasi tatap muka, kita memiliki bahasa tubuh dan intonasi sebagai konteks. Dalam pesan digital, yang tersisa hanyalah teks, dan seringkali, kita gagal menyertakan konteks waktu dan prioritas.

Ambil contoh sederhana: sebuah pesan WhatsApp yang dikirimkan pada pukul 11 malam. Bagi si pengirim, itu mungkin sekadar menyelesaikan pekerjaan. Namun, bagi si penerima, pesan itu bisa menjadi gangguan tidur, sumber kecemasan, atau bahkan interupsi terhadap waktu istirahat pribadinya. Pesan tersebut mungkin berisi hal yang penting, tetapi waktu pengirimannya secara implisit mengkomunikasikan urgensi yang tidak adil dan ketidakpedulian terhadap batasan pribadi orang lain. Kita menuntut perhatian instan, seolah-olah waktu orang lain adalah milik kita.

Komunikasi efektif menuntut kita untuk mengembangkan Sense of Time digital. Kita harus bertanya, "Apakah ini benar-benar mendesak, atau bisa menunggu jam kerja?" dan "Apakah pesan saya sudah menyertakan konteks yang cukup agar tidak menimbulkan pertanyaan balik?"

Sering kali, karena kita terbiasa dengan kecepatan, kita mengirimkan pesan yang terlalu singkat, seperti "Gimana data kemarin?" tanpa menyebutkan proyek mana, data apa, atau tujuan dari pertanyaan tersebut. Kita mengharapkan lawan bicara melakukan pekerjaan mental untuk merangkai potongan informasi. Ini bukan efisiensi, melainkan pemindahan beban kerja. Kita menghemat 10 detik waktu kita, tetapi menghabiskan 5 menit waktu penerima.

Jika kita ingin komunikasi digital kita benar-benar efektif dan tidak merusak hubungan profesional atau personal, kita harus mulai berinvestasi pada Kejelasan dan Penghargaan Konteks. Berikan detail yang cukup. Tuliskan subjek email yang spesifik. Jika pesan tidak mendesak, gunakan fitur kirim terjadwal. Mari kita ubah kebiasaan komunikasi yang egois dan menuntut menjadi komunikasi yang penuh pertimbangan dan menghargai batasan lawan bicara. Karena komunikasi yang matang adalah komunikasi yang menghormati waktu, bukan yang mencurinya. (*)

*) Penulis: Raihan Fajri Annauriyan, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UA.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
ADVERTISEMENT Seedbacklink