zmedia

Ketika Kritik Menjadi Sarkas: Bahasa Sindiran di X dan Cancel Culture

Nabila Nurul Haerani, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
HARIANCENDEKIA, OPINI - Pernahkah kamu scroll media sosial terutama Twitter, lalu menemukan cuitan yang menyampaikan pendapat dengan argumen yang berubah menjadi permainan bahasa dan kritik pedas yang dibungkus dengan sindiran tajam, ejekan halus, atau bahkan nyinyiran sinis? Itu bukan hanya “kritik biasa”, tetapi itu adalah “sarkasme”, yaitu gaya Bahasa yang mengejek dengan cara membalik makna. Ketika sarkasme itu tersebar masif dan diiringi aksi boikot atau memutus dukungan terhadap indivdu, kelompok atau komunitas, itulah wujud nyata dari cancel culture atau budaya cancel.

Dalam linguistik, sarkasme termasuk bagian dari pragmatic, yaitu cara seseorang menyampaikan maksud tersirat dari tuturan. Misalnya, ucapan “Keren ya, nyontek tapi bangga” secara literal terlihat seperti pujian, namun makna sebenarnya adalah kritik. Penggunaan sarkasme sering muncul karena netizen ingin menyampaikan protes tanpa mengatakan langsung.

Twitter menyediakan banyak ruang untuk gaya bahasa seperti karakter terbatas, ritme cepat, dan budaya reply-war yang menuntut komentar singkat namun mengena atau tepat sasaran. Tapi, bukan berarti sarkasme selalu tepat sasaran, seringkali sarkasme menimbulkan salah paham karena bentuk figuratif dan kontras antara makna literal dan makna sesungguhnya. Contohnya, Ketika seorang tokoh publik atau influencer berkomentar kontroversial, respons warganet muncul cepat dengan meme, komik, atau quote retoris. Sederhana, tetapi efeknya besar untuk nama seseorang menjadi trending hanya karna satu kalimat.

Komunikasi sarkastik di media sosial menunjukkan bahwa efektivitas sarkasme dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural seperti usia, bahasa asli, dan konteks budaya. Maksudnya, apa yang dianggap lucu atau sindiran oleh satu kelompok bisa jadi menyinggung atau membingungkan kelompok lain. Dengan kata lain, sarkasme itu seperti pisau bermata dua, bisa tajam menusuk argumen dan bisa juga melukai siapa saja, termasuk orang yang tak bersalah.

Sarkasme adalah soal gaya bahasa, sedangkan cancel culture adalah soal tindakan, yaitu ketika sarkasme atau kritik publik memicu boikot, isolasi sosial, pencabutan dukungan tanpa ruang dialog ataupun pemahaman ulang. Cancel culture bisa juga dimaknai sebagai kontrol sosial. Maksudnya, masyarakat akan bereaksi ketika ada ucapan atau tindakan yang dianggap ofensif, diskriminatif, atau merugikan. Cancel culture di Twitter kerap muncul sebagai bentuk sanksi sosial dengan respons cepat terhadap kontroversi, sebagai upaya menegakkan norma sosial dan memberi efek jera.

Namun, cancel culture juga sering menghakimi terlalu cepat, seseorang dihukum dengan diberikan sanksi sosial terlebih dahulu sebelum memberikan klarifikasi. Bahasa sarkas dan cancel culture akhirnya membentuk ruang komunikasi yang keras, salah sedikit akan dihantam ribuan komentar, terutama jika klarifikasinya terlambat.

Kritik adalah bagian penting dari demokrasi, tetapi sarkasme berlebihan justru dapat menutup kesempatan dialog. Bahasa yang kasar mungkin viral, namun apakah itu menyelesaikan masalah? Kita perlu kembali pada esensi komunikasi yaitu memahami dulu sebelum menghakimi.

Media sosial seharusnya tidak hanya menjadi arena lempar sindiran, tetapi ruang berpikir dan saling belajar. Kritik dapat dilakukan tanpa merendahkan, tidak harus selalu pahit. Kita bisa menegur dengan bahasa santun namun tetap tegas. Misalnya, Alih-alih “pinter amat,” bisa menjadi “informasinya kurang tepat, mungkin bisa dicek ulang?”. Bahasa mencerminkan sikap kita. Ketika kita memilih kata yang lebih bijak, kita tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga menunjukkan kedewasaan berkomunikasi.

Fenomena sarkasme di Twitter menunjukkan betapa bahasa dapat berubah sesuai budaya digital. Kritik kini tidak hanya soal isi, tetapi juga gaya penyampaian. Namun di balik hiburan dan kelucuannya, kita perlu bertanya, apakah sarkas ini menyadarkan, atau justru memperkeruh?

Jika kita benar-benar peduli pada perubahan sosial, budaya, atau moral, maka kritik harus dibungkus dengan kejelasan, empati, dan tanggung jawab. Kita butuh opini yang menggugah pemikiran, bukan sekadar menghakimi dan tidak hanya menyuarakan rasa kecewa, tapi juga memberi ruang bagi refleksi bersama. Maka dari itu, sebaiknya kita menggunakan bahasa sebagai alat untuk membangun, bukan untuk meruntuhkan. Dengan begitu, kritik tetap hidup, dialog berjalan, dan media sosial menjadi lebih manusiawi. (*)

*) Penulis: Nabila Nurul Haerani, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.

ADVERTISEMENTseedbacklink