![]() |
| (Doc. Istimewa) Ketum Hanura Oesman Sapta Odang tiba di arena Rakernas dan disambut para kader dengan penuh penghormatan. |
“Bangsa ini sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya, mengawali pidato dengan nada yang tidak biasa untuk forum internal partai. Ia menjelaskan bahwa ketidakstabilan global turut memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor di dalam negeri.
“Ini akibat kejadian-kejadian dunia yang berdampak pada ekonomi, sosial, dan budaya,” tambahnya.
Pernyataan tersebut merujuk pada bencana besar yang dalam beberapa pekan terakhir melanda tiga provinsi di Indonesia. Bencana tersebut menyebabkan lebih dari 700 korban jiwa dan luka-luka. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, distribusi logistik terhambat, layanan publik terganggu, dan aktivitas ekonomi lokal terhenti.
“Tiga provinsi itu mengalami cedera sampai 700 lebih ini hari,” ungkap Oso.
Dalam situasi tersebut, publik mempertanyakan belum ditetapkannya status bencana nasional. Oso mengakui bahwa pertanyaan serupa juga kerap disampaikan kepadanya.
“Banyak yang bertanya, kenapa pemerintah belum menyebutnya bencana nasional?” ujarnya.
Menurutnya, penetapan status bencana nasional bukan keputusan sederhana karena menyangkut konsekuensi anggaran dan kemampuan negara dalam mengerahkan sumber daya secara penuh.
“Tidak gampang menyebut musibah itu bila mana mengakibatkan suatu anggaran terhadap kemampuan negara,” jelasnya.
Meski demikian, Oso menilai negara tidak boleh terjebak pada proses yang lambat. Ia menekankan pentingnya langkah cepat dan berani dalam merespons bencana yang berdampak luas terhadap masyarakat.
“Kita tidak menyalahkan negara, tapi kita mendorong bagaimana langkah-langkah berani diambil,” katanya.
Oso menambahkan bahwa pemerintah harus lebih proaktif dalam memetakan dampak bencana, menentukan prioritas, mempercepat distribusi bantuan, serta mengambil keputusan strategis tanpa menunggu tekanan publik.
“Bencana bukan hanya menguji pemerintah, tapi menguji kemanusiaan kita sebagai bangsa,” ucapnya.
Rakernas Hanura tahun ini pun berubah menjadi momentum refleksi politik dan moral. Oso menyerukan para kader untuk meningkatkan kepekaan sosial, turun langsung membantu masyarakat terdampak, serta mengawal respons pemerintah agar tepat sasaran.
Ia menutup pidatonya dengan penegasan bahwa doa dan simpati tidak cukup untuk menghadapi skala krisis yang terjadi.
“Bangsa ini sedang diuji,” kata Oso.
“Dan kita semua, termasuk partai politik, punya tanggung jawab untuk memastikan negara tidak berjalan sendirian," tambahnya. (*)
*) Pewarta: Moh. Gufron.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
