![]() |
| Nabilla Aulia Putri, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. |
Istilah seperti burnout, overthinking, anxiety, dan mental health break tidak lagi terbatas pada ruang akademik, melainkan telah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari yang dekat dengan pengalaman hidup Gen Z. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental bukan sesuatu yang jauh atau abstrak, melainkan nyata dan dirasakan langsung dalam keseharian mereka.
Berbagai survei memperkuat kenyataan tersebut. Secara global, satu dari empat Gen Z mengaku mengalami penurunan kondisi kesehatan mental dalam kurun waktu tertentu. Di Indonesia, survei nasional juga mencatat bahwa lebih dari 30 persen remaja menunjukkan gejala gangguan mental emosional. Data ini menegaskan bahwa kesehatan mental bukan sekadar persoalan individual, melainkan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, serta tuntutan zaman. Oleh karena itu, ketika banyak Gen Z merasa lelah secara emosional atau kehilangan motivasi, kondisi tersebut tidak bisa disederhanakan sebagai sikap manja atau kurang bersyukur.
Salah satu faktor yang sangat memengaruhi kesehatan mental Gen Z adalah kebiasaan mengakses media sosial secara terus-menerus. Aktivitas scrolling yang tampak sepele kerap berubah menjadi proses membandingkan diri secara tidak sadar. Setiap hari, Gen Z disuguhi potongan kehidupan orang lain yang terlihat lebih sukses, lebih produktif, dan lebih bahagia. Ketika hal ini terjadi berulang kali, muncul rasa tertinggal serta perasaan tidak cukup baik. Padahal, apa yang tampak di layar hanyalah versi terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan cerita. Jika tidak disadari, kebiasaan ini perlahan dapat menggerus kepercayaan diri dan ketenangan batin.
Di sisi lain, Gen Z juga hidup di tengah budaya produktivitas yang sangat kuat. Ada dorongan untuk selalu sibuk, terus berkembang, dan memiliki pencapaian. Ironisnya, ketika sedang beristirahat, justru muncul rasa bersalah seolah waktu terbuang sia-sia. Padahal, tubuh dan pikiran memiliki batas. Produktivitas yang dipaksakan tanpa jeda sering berujung pada burnout, yakni kondisi kelelahan emosional yang membuat seseorang kehilangan semangat dan arah. Kelelahan ini bahkan kerap dinormalisasi dan dianggap sebagai bagian dari proses menuju kesuksesan.
Tekanan tersebut semakin diperparah oleh kecenderungan overthinking yang cukup kuat di kalangan Gen Z. Kesalahan kecil bisa dipikirkan berulang kali, komentar sederhana terasa sangat menyakitkan, dan masa depan sering dibayangkan dengan penuh kecemasan. Banyak Gen Z merasa hidupnya harus tertata rapi dan jelas sejak usia muda. Padahal, kebingungan dan kegagalan merupakan bagian wajar dari proses tumbuh. Ketika standar yang terlalu tinggi ini tidak tercapai, Gen Z cenderung menyalahkan diri sendiri.
Menariknya, meskipun Gen Z dikenal terbuka dalam membicarakan kesehatan mental di media sosial, tidak sedikit yang masih kesulitan mencari bantuan secara langsung. Curhat melalui unggahan atau kolom komentar terasa lebih aman dibandingkan berbicara tatap muka dengan keluarga, teman, atau tenaga profesional. Akibatnya, banyak emosi yang tertahan dan tidak tersalurkan secara sehat. Padahal, dukungan sosial yang nyata memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan mental seseorang.
Namun demikian, Gen Z perlu dilihat secara lebih utuh. Di balik berbagai tantangan tersebut, mereka memiliki banyak kelebihan yang kerap terlupakan. Gen Z mampu beradaptasi dengan cepat dan belajar secara mandiri melalui teknologi. Mereka juga memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan mental dan nilai hidup, sesuatu yang sebelumnya jarang dibicarakan secara terbuka. Selain itu, Gen Z dikenal kritis dan berani bersuara mengenai isu sosial, keadilan, dan kemanusiaan. Kreativitas serta fleksibilitas mereka dalam mendefinisikan kesuksesan menjadi kekuatan besar di tengah perubahan zaman.
Oleh karena itu, Gen Z bukanlah generasi yang rusak atau lemah, melainkan generasi yang sedang beradaptasi dengan dunia yang jauh lebih kompleks. Tekanan yang mereka hadapi nyata, tetapi potensi yang dimiliki juga tidak kalah besar. Yang dibutuhkan bukanlah saling menyalahkan, melainkan kesadaran untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat, memberi ruang untuk beristirahat, serta keberanian untuk meminta bantuan ketika diperlukan. Bergerak pelan bukan berarti gagal, dan berhenti sejenak bukan berarti kalah.
Pada akhirnya, scroll, like, dan burnout bukan sekadar istilah populer, melainkan cerminan kehidupan Gen Z hari ini. Dengan menjaga kesehatan mental dan mengarahkan potensi yang dimiliki secara tepat, Gen Z bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga menjadi generasi pembawa perubahan. Sebab, menjadi kuat bukan tentang menanggung semuanya sendirian, melainkan tentang mengetahui kapan harus berhenti, bernapas, dan bangkit kembali. (*)
_________
*) Penulis: Nabilla Aulia Putri, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
