![]() |
| Alifah Fitri Nurrahma, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. |
Bagi sebagian orang, dr. Tirta kerap dipersepsikan sebagai figur yang sentimental, toxic, atau identik dengan gaya bicara yang “ngegas” ketika menyampaikan pendapat. Nada suara yang tinggi, gestur tubuh yang ekspresif, serta kritik yang tajam menjadi ciri khasnya. Meski demikian, jika dicermati lebih dalam, gaya bahasa tersebut bukanlah luapan emosi tanpa arah. Sebaliknya, hal itu merupakan strategi komunikasi yang sengaja dibangun agar pesan-pesan penting tidak tenggelam di tengah riuhnya arus wacana di media sosial.
Dalam konteks media digital, konten edukasi dengan gaya penyampaian datar dan terlalu formal sering kali kalah bersaing dengan hiburan ringan atau tren viral. Pada situasi inilah dr. Tirta hadir dengan energi komunikasi yang meledak-ledak, seolah mengajak audiens untuk berdebat langsung melalui kamera. Secara pragmatik, pendekatan ini memicu rasa penasaran dan keterlibatan audiens, sehingga perhatian mereka terfokus pada pesan utama yang disampaikan.
Ditinjau dari perspektif linguistik pragmatik, emosi yang diluapkan dalam tuturan memiliki fungsi ilokusi yang kuat. Nada tinggi dan ekspresi tegas berfungsi sebagai penanda bahwa isu yang dibahas bersifat serius dan memiliki dampak signifikan apabila diabaikan. Dalam konteks edukasi kesehatan, pendekatan semacam ini terbukti efektif untuk menggugah kesadaran audiens, tidak hanya untuk memahami informasi, tetapi juga merasakan urgensi pesan yang disampaikan.
Secara leksikal, dr. Tirta cenderung menggunakan kosakata sehari-hari yang akrab di telinga masyarakat umum. Diksi seperti “bahaya”, “jangan ngawur”, “pakai logika”, atau “ini serius” menghadirkan makna yang lugas dan langsung. Dalam kajian sosiolinguistik, hal ini menunjukkan kemampuannya menyesuaikan pilihan bahasa dengan latar belakang audiens yang relatif homogen, sehingga pesan dapat diterima tanpa jarak sosial maupun intelektual yang berlebihan.
Dari sisi sintaksis, kalimat-kalimat yang digunakan umumnya pendek dan sering berbentuk imperatif. Ujaran seperti “jangan disepelekan” atau “tolong lebih peduli” berfungsi sebagai penekanan terhadap isu yang dibahas. Dalam linguistik pragmatik, struktur imperatif semacam ini membangun strategi tanggung jawab kolektif, sekaligus mengajak audiens untuk terlibat secara langsung dalam permasalahan yang disampaikan.
Selain dikenal dengan gaya “ngegas”, dr. Tirta juga menampilkan cara penyampaian yang lugas dan langsung pada inti persoalan. Ia kerap menyajikan jawaban secara jelas, bahkan menyertakan rujukan berupa artikel ilmiah atau jurnal yang relevan. Gaya to the point ini selaras dengan karakter masyarakat digital yang cenderung tidak sabar terhadap pembahasan yang bertele-tele, sehingga pesan dapat diterima secara cepat dan efisien.
Menariknya, meskipun tuturan dr. Tirta terkesan spontan, emosional, dan penuh tekanan, struktur wacananya relatif konsisten. Ia biasanya memulai dengan memantik isu yang sedang viral, dilanjutkan dengan penjelasan singkat, kemudian ditutup dengan peringatan atau ajakan. Pola ini menunjukkan adanya koherensi wacana yang menjaga pesan tetap terarah. Dalam kajian linguistik teks, koherensi semacam ini penting agar tuturan tidak jatuh menjadi luapan emosi tanpa tujuan komunikatif yang jelas.
Penggunaan pengalaman pribadi juga menjadi elemen penting dalam strategi komunikasinya. Kisah tentang pasien, pengalaman di lapangan, atau cerita selama masa pendidikan medis digunakan untuk membuat pesan terasa nyata dan relevan. Dalam analisis wacana, narasi personal ini berfungsi sebagai strategi evidensial, yakni memberikan dasar pengalaman langsung agar tuturan terdengar lebih kredibel. Dengan demikian, audiens tidak hanya menerima informasi, tetapi juga membangun imaji terhadap situasi aktual yang digambarkan.
Singkatnya, gaya komunikasi dr. Tirta menunjukkan bahwa efektivitas sebuah pesan tidak semata ditentukan oleh kebenaran isi, melainkan juga oleh cara pesan tersebut dikemas secara linguistik. Pilihan diksi yang dekat dengan audiens, struktur kalimat yang lugas, intonasi yang tegas, serta narasi personal yang kuat menjadikan pesan dalam kontennya mudah diingat dan membekas. Di tengah hiruk-pikuk media sosial, gaya “ngegas” ini membuktikan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan strategi sosial yang mampu menggerakkan perhatian, kesadaran, dan sikap publik. (*)
__________
*) Penulis: Alifah Fitri Nurrahma, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
