zmedia

Meski Sudah Menyandang Gelar Doktor, Dosen Sekaligus Lawyer Ini Pilih Kembali Kuliah S1 dan Lulus Tanpa Skripsi

(Doc. Istimewa) Assoc. Prof. Dr. Fitria Dewi Navisa, dosen asal Pasuruan, kembali menempuh studi S1 dan lulus tanpa skripsi melalui jalur prestasi.
HARIANCENDEKIA, MALANG - Prestasi akademik kembali ditorehkan oleh Assoc. Prof. Dr. Fitria Dewi Navisa, S.H., M.Kn., MH, seorang lawyer sekaligus dosen asal Pasuruan, yang berhasil menyelesaikan studi Sarjana (S1) Pendidikan Bahasa Inggris di FKIP UNISMA tanpa melalui penulisan skripsi maupun sidang akhir. Capaian ini diraih berkat konsistensi akademik, rekam jejak prestasi, serta kepatuhan terhadap regulasi kampus yang memungkinkan jalur kelulusan berprestasi.

Keberhasilan tersebut menambah daftar panjang capaian akademik Navisa. Sebelumnya, ia telah menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya pada 2013, S2 Magister Kenotariatan di universitas yang sama pada 2015, S3 Program Doktor Ilmu Hukum pada 2019, serta S2 Magister Hukum di UNISMA pada 2020.

Meski telah menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral, Navisa memilih kembali menempuh studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa Inggris.

Navisa (35) mengungkapkan, keputusannya mengambil S1 Pendidikan Bahasa Inggris berawal dari ketertarikan pribadi sekaligus kebutuhan profesional.

Menurutnya, aktivitas profesional sebagai lawyer dan dosen yang kerap berinteraksi dengan klien serta akademisi luar negeri mendorongnya untuk memperdalam kemampuan bahasa Inggris secara akademik.

“Saya sering punya klien dari luar negeri dan berkolaborasi dengan akademisi kampus di luar negeri. Untuk memaksimalkan gaya komunikasi yang tidak sekadar bicara, tetapi juga memahami grammar, saya memilih mematangkan skill bahasa Inggris dengan kuliah lagi,” katanya.

Sebagai dosen yang telah mengajar sejak 2015, ia mengakui bahwa manajemen waktu menjadi kunci utama keberhasilannya menyelesaikan studi dengan capaian optimal. Ia telah merencanakan target akademik sejak awal perkuliahan.

“Saya me-manage waktu dengan baik antara mengajar dan kuliah. Sejak awal saya sudah merencanakan target, bukan hanya lulus cepat, tetapi juga menghasilkan karya,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejak semester pertama sudah menargetkan minimal dua karya ilmiah sebagai bentuk kontribusi akademik.

“Sejak semester 1 saya sudah menulis artikel dan mensubmit ke beberapa jurnal. Karya ilmiah itu saya dedikasikan untuk program studi,” jelasnya.

Meski demikian, Navisa tidak menampik adanya tantangan selama menjalani perkuliahan. Salah satu kendala utama adalah perubahan jadwal kuliah yang terkadang berbenturan dengan jadwal mengajar.

“Tantangan yang paling terasa ketika dosen tiba-tiba mengubah jam kuliah yang bersamaan dengan jam mengajar,” tuturnya.

Baginya, manajemen waktu bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap masa depan.

“Manajemen waktu sangat penting. Jika seseorang bisa mengatur waktunya dengan baik, maka dia bertanggung jawab atas masa depannya sendiri. Saya harus tahu apa yang harus saya lakukan dalam seminggu, setahun, bahkan lima hingga sepuluh tahun ke depan,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa prestasi akademik tidak selalu ditentukan oleh banyaknya waktu luang, melainkan kejelasan prioritas dan konsistensi.

"Prestasi bukan soal punya banyak waktu, tapi soal punya prioritas yang jelas. Fokus pada yang paling penting, kerjakan sedikit demi sedikit secara konsisten, dan jangan menunggu sempurna untuk mulai,” pungkasnya. [rin/roz]
ADVERTISEMENTseedbacklink