![]() |
| (Doc. Istimewa) Peserta mengikuti kegiatan Ngabuburun MRP UB 2026 dengan konsep fun run mengelilingi kawasan kampus menjelang waktu berbuka puasa. |
Penanggung jawab panitia Ngabuburun MRP UB, Habibi, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap pola ngabuburit yang kerap kurang produktif. Menurutnya, bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum penguatan diri, baik secara spiritual maupun fisik.
“Secara garis besar, Ngabuburun adalah fun run yang diinisiasi oleh MRP UB sebagai wadah syiar Ramadhan dan menambah aktivitas positif di bulan suci. Kami melihat ngabuburit sering kali kurang produktif, sehingga kami menghadirkan konsep lari menjelang berbuka yang menyehatkan sekaligus bernilai spiritual,” ujar Habibi.
Kegiatan dimulai dengan registrasi peserta pada pukul 15.55 WIB di halaman timur Masjid Raden Patah UB. Acara dilanjutkan dengan pembukaan, sesi pemanasan (warming up), lari bersama sebagai agenda inti, pendinginan, hingga ditutup dengan buka puasa bersama.
Rute lari dimulai dari Masjid Raden Patah bagian timur, kemudian melintasi Gedung Layanan Bersama (GLB), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Graha Medika, Fakultas Pertanian (FP), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Fakultas Peternakan (FAPET), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Hukum (FH), Gedung Rektorat, Samantha Krida, dan kembali berakhir di Masjid Raden Patah.
Habibi menegaskan, tujuan utama Ngabuburun adalah menghidupkan suasana Ramadhan di lingkungan kampus, menghadirkan alternatif ngabuburit yang sehat dan produktif, serta mempererat silaturahmi dan solidaritas antar peserta.
“Kami berharap Ngabuburun dapat menjadi agenda tahunan yang konsisten. Ini juga menjadi bentuk syiar bahwa MRP bukan hanya pusat kegiatan ibadah, tetapi juga pusat aktivitas mahasiswa dan pemuda yang membangun budaya hidup sehat,” tambahnya.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga disampaikan oleh Ketua Yayasan UB, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S., IPU., ASEAN Eng. Ia menegaskan bahwa ibadah puasa tidak seharusnya dimaknai sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
“Puasa itu bukan untuk tidur-tiduran. Para runner tetap bisa berlari dengan cara yang benar dan di waktu yang benar, yaitu sore hari menjelang berbuka,” tegasnya.
Menurutnya, Ngabuburun menjadi bukti kreativitas mahasiswa UB yang perlu terus dipupuk dan dikembangkan. Ia menilai proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui aktivitas yang membentuk karakter dan kepedulian sosial.
“UB itu unik. Salah satunya karena mahasiswanya aktif dan kreatif, dan itu harus dipupuk serta dilanjutkan. Belajar bukan hanya membaca buku, tetapi juga melakukan hal dan hobi lain untuk membentuk mahasiswa yang utuh, dewasa, dan berguna,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat dari meningkatnya jumlah partisipan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu peserta, Nasriani Purba, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2023, menilai penyelenggaraan Ngabuburun tahun ini lebih tertata.
“Tahun ini lebih rapi karena ada sistem registrasi. Kalau dulu hanya melalui grup WhatsApp,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut ke depan semakin berkembang dan mendapat dukungan resmi yang lebih luas dari universitas.
“Semoga ke depannya makin banyak yang ikut dan ada pengumuman resmi dari universitas agar lebih banyak lagi yang bergabung,” harapnya. [rez/rin]
