![]() |
| (Doc. Tangkap layar) Seorang pemuda berkaos merah menutup wajah saat dikerumuni warga usai diduga mencuri helm di Sudimoro, Kota Malang. |
Wakil Direktur Bidang III Polinema periode 2025–2029, Pipit Wahyu Nugroho, membenarkan bahwa sosok dalam video yang beredar luas di media sosial merupakan mahasiswa aktif Polinema.
“Iya benar bahwa yang beredar di media sosial itu mahasiswa kami,” ujar Pipit, Rabu (25/2/2026).
Menurut Pipit, pihak kampus segera melakukan klarifikasi dan investigasi internal setelah video tersebut memicu kegaduhan di ruang publik. Hasil penelusuran memastikan bahwa RHM adalah salah satu fungsionaris BEM Polinema.
Dari hasil klarifikasi, mahasiswa tersebut mengaku helm yang terbawa bukan diambil secara sengaja. Ia menyatakan tidak menyadari helm tersebut berada di atas sepeda motornya dan mengira helm itu milik rekannya yang datang bersama saat menonton konser di Sudimoro.
“Dari hasil klarifikasi, yang bersangkutan menyampaikan bahwa kejadian tersebut merupakan kekeliruan dan bukan tindakan yang disengaja,” ungkap Pipit.
Meski demikian, peristiwa tersebut berdampak pada citra kelembagaan mahasiswa. Sebagai bentuk tanggung jawab moral, RHM memutuskan mengundurkan diri dari kepengurusan BEM serta mencabut pencalonannya sebagai Presiden BEM Polinema.
Pipit menegaskan bahwa kejadian tersebut berlangsung di luar lingkungan kampus dan bukan bagian dari kegiatan resmi Polinema. Karena itu, penanganan dilakukan melalui mekanisme internal.
“Karena peristiwa terjadi di luar kampus dan bukan agenda Polinema, maka investigasi kami lakukan secara internal,” tegasnya.
Sebelumnya, video yang memperlihatkan seorang pemuda berkaos merah diduga mencuri helm menjadi viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, pemuda itu tampak tertunduk dan berulang kali menutup wajahnya saat dikerumuni warga.
Peristiwa terjadi usai konser musik di kawasan Sudimoro yang menyebabkan kemacetan total akibat ribuan penonton memadati jalan. Pemuda tersebut diduga terjebak di tengah kemacetan sehingga tidak dapat meninggalkan lokasi ketika pemilik helm dan warga menyadari dugaan aksinya.
Dalam video terdengar sorakan warga yang memberikan sanksi sosial tanpa tindakan anarkis. “Ya nangis… ya nangis…!” teriak sejumlah warga. Terdengar pula sindiran dalam bahasa Jawa dari warga yang berada di lokasi.
Hingga kini, pihak kampus memastikan langkah yang diambil telah melalui proses klarifikasi dan pertimbangan internal sebagai bentuk penegakan tanggung jawab etis mahasiswa. [rin/roz]
