![]() |
| (Doc. Hariancendekia/Ai) Ilustrasi gunung sampah. |
Hanif menyebut tragedi di TPA Bantar Gebang sebagai peringatan serius bagi pemerintah daerah untuk segera memperbaiki sistem pengelolaan sampah.
Ia menilai peristiwa tersebut juga terasa ironis karena terjadi hanya dua pekan setelah peringatan Hari Peduli Sampah Nasional yang diperingati setiap 21 Februari. Peringatan itu sendiri lahir dari tragedi longsor TPA Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat, pada 2005.
Tragedi di TPA Leuwigajah terjadi pada 21 Februari 2005 ketika gunungan sampah yang telah menggunung selama puluhan tahun tiba-tiba meledak dan memicu gelombang “tsunami sampah”. Ledakan tersebut menimbun permukiman warga di sekitar lokasi.
Dalam proses evakuasi yang berlangsung sekitar 15 hari, tim penyelamat hanya berhasil menemukan 157 jasad korban. Sementara ratusan lainnya dinyatakan hilang. Sebagian besar korban merupakan pemulung dan warga yang tinggal di sekitar kawasan TPA.
Peristiwa itu kemudian tercatat sebagai salah satu bencana tempat pembuangan sampah terbesar di dunia, setelah tragedi TPA Payatas di Quezon City, Filipina, pada 10 Juli 2000 yang menewaskan lebih dari 200 orang.
Sejumlah kajian ilmiah menunjukkan bahwa longsor di Leuwigajah dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari sistem penimbunan sampah dengan lereng yang terlalu curam hingga keberadaan gas metana yang memicu ledakan. Curah hujan tinggi beberapa hari sebelum kejadian juga memperparah kondisi struktur gunungan sampah.
Setelah tragedi tersebut, pemerintah menutup TPA Leuwigajah dan menetapkan 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional, sebagai pengingat pentingnya pengelolaan sampah yang lebih aman dan berkelanjutan.
(rin/roz)
