![]() |
| (Doc. Istimewa) Mahasiswa Biologi UIN Sunan Ampel Surabaya menunjukkan sampel produk kosmetik dalam riset pencemaran mikroplastik yang dipaparkan pada seminar di Kampus UINSA Gunung Anyar. |
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa empat dari lima produk kosmetik bibir yang diuji positif mengandung mikroplastik. Bahkan, satu sampel tercatat mengandung hingga 112 partikel plastik berukuran mikroskopis.
Peneliti mikroplastik kosmetik, Kallista Maharani, menjelaskan bahwa keberadaan partikel plastik pada produk kecantikan tidak hanya berasal dari bahan bakunya, tetapi juga dari kemasan produk.
“Mikroplastik ini muncul bukan cuma dari bahan dasar kosmetiknya, tapi juga dari kemasan. Produk yang bergliter atau tahan air sebenarnya mengandung polimer plastik yang sengaja ditambahkan agar awet di kulit,” ujar Kallista.
Menurutnya, produk pemulas bibir termasuk kategori **leave-on**, yaitu kosmetik yang menempel lama di kulit. Kondisi ini membuat partikel mikroplastik berpotensi tertelan secara tidak sengaja saat digunakan.
Sekretaris Program Studi Biologi UINSA, Atiqoh Zummah, menambahkan bahwa sejumlah produsen menggunakan bahan seperti polyethylene untuk membuat kosmetik lebih tahan lama. Namun, penggunaan polimer tersebut justru membawa risiko bagi kesehatan manusia.
“Bahan seperti polyethylene membuat produk tidak mudah terserap kulit sehingga dianggap lebih tahan lama, tetapi keberadaan polimer itu juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan,” jelas Atiqoh.
Ancaman mikroplastik juga ditemukan di sektor pangan. Penelitian menunjukkan adanya partikel plastik berbentuk serat yang menempel pada permukaan daun padi. Serat tersebut diduga berasal dari limbah tekstil yang terbawa udara dan dapat mengganggu proses fotosintesis tanaman.
Selain pada tanaman, mikroplastik juga ditemukan pada hewan. Peneliti menemukan bahwa 100 persen sampel kotoran kelelawar (guano) dari gua di Lamongan mengandung partikel plastik. Hal ini terjadi karena kelelawar memakan serangga yang telah terpapar mikroplastik.
Kondisi tersebut berpotensi memperluas rantai penyebaran plastik di lingkungan. Guano kelelawar yang sering dimanfaatkan sebagai pupuk organik berisiko membawa partikel plastik kembali ke lahan pertanian.
Temuan lain juga menunjukkan bahwa katak di lahan pertanian mengandung rata-rata 9,25 partikel mikroplastik per gram tubuh. Angka ini menunjukkan bahwa amfibi dapat menjadi indikator menurunnya kualitas ekosistem perairan tawar.
Para peneliti pun mendorong perubahan gaya hidup masyarakat untuk menekan pencemaran mikroplastik. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta beralih pada wadah yang dapat digunakan kembali.
Langkah sederhana seperti tidak membakar sampah plastik dan membatasi konsumsi produk berbahan plastik dinilai menjadi cara penting untuk mengurangi paparan mikroplastik yang kini semakin luas di lingkungan.
(rin/roz)
