![]() |
| (Doc. Istimewa) Suasana mahasiswa KIP-K saat mengikuti pelatihan public speaking AKSARA 2026 bersama Nafi Humaira di Unikal |
Kegiatan ini menghadirkan pelatihan public speaking dan forum musyawarah yang dirancang untuk melatih kemampuan berbicara, berargumentasi, serta memperkuat partisipasi mahasiswa di lingkungan akademik.
Narasumber kegiatan, Neni Zulfatun Nafia atau yang dikenal sebagai Nafi Humaira, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisma, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai wadah pembelajaran sekaligus ruang aktualisasi diri.
“Dari TOR yang disusun panitia, kegiatan ini hadir karena tantangan mahasiswa KIP-K, terutama soal kepercayaan diri berbicara di depan publik dan keaktifan dalam organisasi,” ujar Nafi.
Ia menilai kemampuan public speaking mahasiswa saat ini tidak bisa dilepaskan dari faktor wawasan. Menurutnya, kualitas berbicara sangat ditentukan oleh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.
“Hal paling sentral dalam public speaking itu wawasan. Seberapa luas isi kepala akan menentukan selancar apa seseorang berbicara,” katanya.
Nafi juga menyoroti kecenderungan mahasiswa yang lebih fokus pada tren dibanding pengembangan diri. Hal tersebut berdampak pada kemampuan menyampaikan gagasan secara mandiri.
“Sebagian mahasiswa masih terpaku saat presentasi dan tidak bisa lepas dari ketergantungan pada teknologi,” ujarnya.
Dalam sesi pelatihan, ia menekankan pentingnya penyusunan argumen yang sistematis dan teknik penyampaian yang efektif. Peserta dilatih untuk berbicara secara terstruktur agar tidak kehilangan arah dalam menyampaikan ide.
“Saya ajarkan bagaimana menyusun argumen agar tidak lompat-lompat, dan intonasi itu adalah nyawa dalam penyampaian,” jelasnya.
Pendekatan interaktif digunakan agar materi lebih mudah dipahami peserta, terutama dengan menyesuaikan karakter generasi muda. Nafi juga memperkenalkan metode PREP (Point, Reason, Example, Point) sebagai kerangka dasar berbicara.
“Dengan pola sederhana seperti PREP, mereka punya pegangan dan tidak bingung harus mulai dari mana,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa kemampuan public speaking menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa di era saat ini. Kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan keberanian, tetapi juga efektivitas dalam menyampaikan ide.
“Siapapun bisa punya ide, tapi kalau tidak dikomunikasikan, ya berhenti di kepala saja,” tegas Nafi.
Lebih lanjut, Nafi menilai kegiatan AKSARA 2026 tidak bersifat seremonial semata. Ia menyebutkan bahwa materi yang diberikan langsung diaplikasikan oleh peserta dalam forum lanjutan.
“Setelah seminar, mereka langsung mengadakan rapat anggota tahunan. Jadi teori yang diberikan langsung dipraktikkan,” katanya.
Untuk memastikan mahasiswa tidak hanya berani berbicara, tetapi juga memiliki substansi, ia menekankan pentingnya memperkaya pengetahuan.
“Isi dulu pikiranmu sebelum membuka mulut, agar yang keluar bukan sekadar kata, tapi solusi,” ujarnya.
Di akhir sesi, Nafi berpesan agar mahasiswa tidak ragu memulai proses belajar berbicara di depan publik.
“Mulai saja dulu. Kalian tidak harus langsung hebat, tapi harus mulai punya sesuatu yang bisa disampaikan,” pungkasnya.
(rin/red)
