zmedia

Apriliana Soekir, PMI Asal Ngawi yang Berani Bongkar Trauma Perempuan dalam Novel Terbarunya

(Doc. Istimewa) Apriliana Soekir Penulis Novel Gadis Berkabung Senyap dan Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong 
Ngawi, Hariancendekia.com - Nama Apriliana Soekir tengah ramai diperbincangkan di dunia literasi tanah air. Perempuan asal Ngawi, Jawa Timur, itu mencuri perhatian lewat dedikasinya dalam menulis di tengah aktivitasnya sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong.

Berangkat ke Hong Kong melalui PT Barkah Hayu Safarindo Magetan, Apriliana membuktikan keterbatasan ruang dan waktu bukan halangan untuk terus berkarya. Di balik rutinitasnya sebagai pekerja domestik, ia aktif menulis puisi, cerpen, hingga prosa yang rutin dikirimkan ke berbagai media massa.

Perjalanan Apriliana menjadi PMI berawal dari pengalaman pahit. Ia mengaku pernah menjadi korban penipuan oleh temannya hingga terjerat utang pinjaman online (pinjol). Namun, keputusan bekerja di Hong Kong bukan semata untuk keluar dari persoalan finansial.

Perempuan yang memiliki hobi menulis dan mendaki gunung itu justru membawa misi kemanusiaan. Selama bekerja di Hong Kong, ia berusaha mendekati dan mendengarkan langsung kisah para buruh migran yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, pelecehan, hingga himpitan ekonomi.

Melalui sambungan video daring, Apriliana mengaku ingin menghadirkan tulisan yang lahir dari pengalaman nyata di lapangan.

“Saya harus ada di sini, merangkul mereka, dan merasakan getir yang sama agar tinta saya tidak hanya bicara soal teori. Saya juga ingin mengubah pandangan kalau TKW itu tidak serendah di pandangan mereka. Kami semua adalah pahlawan devisa negara,” ujarnya.

Di sela waktu istirahatnya, Apriliana aktif mendengarkan cerita para perempuan pekerja migran untuk kemudian dituangkan ke dalam karya sastra. Baginya, tulisan bukan sekadar karya, tetapi ruang untuk menyuarakan pengalaman perempuan yang selama ini jarang terdengar.

Produktivitasnya dalam menulis juga terbilang tinggi. Apriliana memulai debut lewat buku berjudul Kenapa Harus Perempuan yang banyak menyoroti persoalan sosial perempuan.

Ia kemudian merilis novel kedua berjudul Gadis Berkabung Senyap. Novel tersebut ramai diperbincangkan karena mengangkat isu sensitif mengenai pelecehan seksual di institusi yang dianggap sakral, seperti lingkungan pondok pesantren.

Karya itu mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Kritikus sastra independen, Rian Pratama, menyebut novel tersebut sebagai keberanian moral dalam dunia literasi Indonesia.

“Apriliana menulis dengan kejujuran yang langka. Gadis Berkabung Senyap bukan sekadar fiksi, melainkan keberanian moral untuk menyuarakan apa yang selama ini ditutupi oleh tabu masyarakat di institusi sakral,” katanya.

Respons serupa juga muncul di media sosial. Sejumlah pembaca mengaku terenyuh dengan cara Apriliana menggambarkan trauma psikologis korban tanpa terkesan eksploitatif.

Tak berhenti sampai di situ, Apriliana mengaku kini tengah menyiapkan buku ketiganya berjudul Ranjang Terbang yang akan segera dirilis.

Lewat dedikasi dan karya-karyanya, Apriliana Soekir menunjukkan bahwa seorang buruh migran juga mampu menjadi suara bagi perempuan-perempuan yang selama ini hidup dalam sunyi. Dari pengalaman pahit sebagai korban penipuan, ia bertransformasi menjadi sosok inspiratif yang menyuarakan perjuangan perempuan Indonesia di perantauan.

(roz/red)
-Advertisement-iklan
-Advertisement-iklan