zmedia

Dialog Kontroversial di Trailer Dilan ITB 1997 Picu Perdebatan Netizen

(Doc. IMDb) Thumbnail Dilan ITB 1997
Jakarta, Hariancendekia.com - Trailer film Dilan ITB 1997 produksi Falcon Pictures memicu kontroversi di media sosial setelah menampilkan dialog sensitif pada adegan penutup, yang memperlihatkan tokoh Dilan mengucapkan “Terima kasih, Soeharto” di tengah momen lengsernya Presiden Soeharto pada Mei 1998.

Trailer berdurasi singkat tersebut menampilkan latar Bandung pada akhir 1990-an, saat gelombang gerakan mahasiswa menuntut reformasi mencapai puncaknya. Dalam cuplikan itu, Dilan yang kini berstatus mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) terlihat terlibat dalam aksi demonstrasi bersama mahasiswa lain.

Visual demonstrasi diperkuat dengan kehadiran spanduk tuntutan reformasi serta suasana aksi massa yang menggambarkan situasi politik menjelang runtuhnya Orde Baru. Adegan ini menandai pergeseran tema film dari romansa remaja menjadi drama dengan latar sejarah politik Indonesia.

Kontroversi mencuat pada adegan penutup trailer ketika Dilan dan rekan-rekannya menyaksikan siaran televisi yang menayangkan pidato pengunduran diri Presiden Soeharto. Saat mahasiswa lain bersorak merayakan momen tersebut, Dilan justru menunjukkan ekspresi datar.

“Terima kasih, Soeharto,” ucap Dilan dalam adegan tersebut.

Dialog itu segera memicu beragam reaksi dari netizen di berbagai platform media sosial. Sebagian mempertanyakan konteks ucapan tersebut, apakah merupakan bentuk sarkasme atau memiliki makna lain dalam pengembangan karakter Dilan.

“Jujur, agak kaget melihat trailer film Dilan ITB 1997. Di akhir trailer, selepas Soeharto mengumumkan mundur dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia, seketika Dilan berucap ‘Terima kasih, Soeharto’,” tulis seorang netizen.

Netizen tersebut juga mengaku belum memahami konteks utuh cerita dalam film. “Sebagai orang yang belum membaca bukunya dan belum menonton filmnya, jujur kaget banget apakah ini memang senyata-nyatanya Pidi Baiq menulis itu secara sadar atau bentuk sarkasme humor,” lanjutnya.

Komentar lain menilai dialog tersebut selaras dengan karakter Dilan dalam novel. “Honestly, Dilan ITB 1997 movie version issa ironically fully accurate from its novel version,” tulis netizen lainnya.

Sementara itu, ada pula yang mengaitkan simbol dalam adegan dengan konteks sejarah yang lebih luas. “Di trailer Dilan ITB 1997, Ariel Noah sebagai Dilan bilang, ‘Terima kasih, Soeharto,’ sambil pakai kaos bertuliskan Solidarność,” tulis pengguna lain, merujuk pada gerakan solidaritas di Polandia.

Selain memicu perdebatan, trailer ini juga menarik perhatian karena pergantian pemeran utama. Ariel NOAH dipercaya memerankan Dilan, menggantikan aktor sebelumnya dalam semesta film tersebut.

Sejumlah aktor papan atas turut meramaikan film ini, di antaranya Niken Anjani sebagai Ancika dan Raline Shah sebagai Milea. Kehadiran mereka memperkuat nuansa baru yang lebih dewasa dalam alur cerita.

Dari sisi produksi, film ini masih melibatkan Pidi Baiq dan Fajar Bustomi sebagai sutradara. Gaya visual yang dihadirkan tetap mempertahankan nuansa nostalgia khas Dilan, namun dengan skala produksi yang lebih besar, terutama pada adegan demonstrasi mahasiswa yang digarap secara kolosal.

Hingga kini, pihak Falcon Pictures belum memberikan penjelasan resmi terkait makna dialog kontroversial tersebut. Film Dilan ITB 1997 dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 30 April mendatang.

Publik kini menanti apakah film ini akan tetap berfokus pada romansa atau justru menghadirkan kritik sosial terhadap masa transisi demokrasi Indonesia.

(zil/red)
dukungan