zmedia

Mahasiswa UMM Ciptakan Mesin Pengering Gas Hemat Biaya untuk Dongkrak Produksi UMKM Mie Kering

(Doc. Istimewa) Tim mahasiswa UMM raih juara lewat inovasi mesin pengering gas
Kota Malang, Hariancendekia.com - Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi mesin pengering berbasis gas bernama Gas Heated Air Circulation Dryer untuk membantu UMKM mie kering mengatasi kendala cuaca dan tingginya biaya operasional, dengan sistem yang lebih efisien, ekonomis, dan praktis.

Inovasi ini lahir dari hasil observasi langsung terhadap pelaku UMKM yang masih bergantung pada oven listrik berkapasitas kecil. Kondisi tersebut dinilai menghambat produktivitas karena waktu pengeringan yang lama serta biaya listrik yang tinggi.

Ketua tim, Hanum Salsabila Djirimu, mengatakan ide tersebut muncul dari keresahan yang ditemui di lapangan. Ia bersama timnya yakni Berlinda Amalia Diami, Aisyah Leilani Salsabillah, Nadhea Aurelie Salsabila, dan Frisca Shannon Alexandra melakukan pemantauan langsung terhadap pelaku usaha.

“Kami melihat mereka masih kewalahan menggunakan oven listrik berkapasitas kecil, di mana waktu pengeringannya bisa menyita waktu lebih dari tiga jam. Dari keresahan itulah, kami bertekad merancang jalan keluar yang lebih efisien,” ujar Hanum.

Mesin yang dikembangkan menggabungkan sumber panas gas dengan sistem sirkulasi udara. Blower yang terpasang memungkinkan panas tersebar merata ke seluruh ruang pengering, sehingga proses pengeringan menjadi lebih cepat dan konsisten.

Selain itu, alat ini dilengkapi sensor suhu dan timer otomatis yang berfungsi menjaga stabilitas panas selama proses berlangsung. Fitur tersebut membuat pengguna tidak lagi bergantung pada kondisi cuaca.

“Kalau suhu melebihi batas, sistem akan otomatis menyesuaikan. Hasil pengeringan pun jauh lebih konsisten dan pelaku usaha tidak perlu lagi pusing memikirkan cuaca buruk,” jelasnya.
(Doc. Istimewa) Mesin pengering berbasis gas bernama Gas Heated Air Circulation Dryer
Dari sisi ekonomi, penggunaan bahan bakar gas dinilai lebih terjangkau dibandingkan listrik maupun panel surya yang membutuhkan investasi awal besar. Prototipe mesin ini dikembangkan dengan biaya sekitar Rp3 juta.

Dengan biaya tersebut, alat ini dinilai realistis untuk diadopsi oleh pelaku UMKM karena mampu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.

Dosen pembimbing, Adhi Nugraha S.T., M.BA., mengapresiasi inovasi yang dinilai mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Ia menilai mahasiswa tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan bisnis.

“Saya sangat mengapresiasi kepekaan sosial dan kerja keras tim ini. Mereka tidak sekadar mengejar gengsi dalam berinovasi, tapi juga memikirkan aspek keekonomian agar alat ini benar-benar realistis, bisa dijangkau, dan langsung diaplikasikan oleh pelaku usaha kecil,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan tersebut mencerminkan esensi pendidikan teknik yang berorientasi pada solusi praktis bagi masyarakat.

Keberhasilan ini mempertegas komitmen UMM dalam mendorong mahasiswa untuk menghadirkan inovasi yang berdampak langsung. Hanum berharap alat tersebut dapat segera diproduksi secara massal agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.

“Kuncinya hanya berani mencoba dan peka terhadap masalah di sekitar kita. Dari sanalah inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas bisa lahir,” pungkasnya.

(zal/red)
-Advertisement-iklan