![]() |
(Doc. Humas ITN) Muhammad Yazid Khumaidi usai raih emas IPSI 2026 |
Prestasi tersebut menjadi pencapaian penting bagi Yazid yang juga menjabat sebagai Ketua UKM PSHT ITN Malang. Ia mengaku telah mengalami penurunan kondisi fisik sejak sebelum pertandingan dimulai.
“Kemarin itu tensi saya rendah, badan panas, dan kepala pusing. Namun, bagi saya sakit itu bukan halangan. Yang penting mental bertandingnya masih ada. Mindset-nya harus diubah, kita harus jadi juara. Kalau pas tanding saja sudah takut, ya sudah bisa diprediksi bakal kalah,” ujar Yazid dalam keterangan resminya.
Selama turnamen berlangsung, Yazid harus menghadapi tiga pertandingan berat melawan pesilat dari sejumlah perguruan besar seperti ASAD dan Perisai Diri.
Pada partai final, ia berhadapan dengan atlet dari Pagar Nusa yang juga berstatus sebagai atlet Porprov Kabupaten Malang. Duel berlangsung ketat dengan skor yang terus imbang dari 4-4 hingga 11-11.
Dengan tinggi badan 161 sentimeter, Yazid harus menghadapi lawan yang memiliki postur lebih tinggi, yakni sekitar 170 sentimeter. Kondisi tersebut membuatnya harus mengandalkan strategi serta kelincahan untuk mengimbangi permainan lawan.
Ia mengaku sempat kesulitan setelah terkena tendangan T dan beberapa gerakannya mulai terbaca lawan. Namun, latihan intensif pada aspek strike dan agility membantu dirinya mempertahankan performa hingga akhir pertandingan.
Kemenangan akhirnya dipastikan melalui penilaian juri setelah Yazid mampu tampil lebih efektif pada momen-momen akhir laga.
Di balik keberhasilan tersebut, Yazid harus menerima konsekuensi serius terhadap kondisi kesehatannya. Setelah pertandingan final pada Sabtu malam, ia langsung dilarikan ke rumah sakit akibat kelelahan dan kondisi fisik yang semakin menurun.
Yazid menjalani perawatan hingga hari Selasa. Kondisi itu juga membuatnya memutuskan batal mengikuti seleksi Kejurprov yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Mei mendatang.
“Mungkin yang Kejurprov saya batalkan dulu karena harus pemulihan. Target berikutnya tidak muluk-muluk, saya fokus persiapan untuk Kejurda saja nanti,” katanya.
Mahasiswa yang juga merupakan Juara 2 Pencak Silat Sambung Roso Aremashter 2025 tersebut menilai keberhasilan atlet tidak hanya ditentukan pelatih, tetapi juga kesiapan fisik yang dibangun secara mandiri.
Menurutnya, sekitar 90 persen keberhasilan atlet ditentukan oleh latihan fisik pribadi, sementara pelatih memiliki peran penting dalam menyusun strategi saat pertandingan berlangsung.
Menutup keterangannya, Yazid memberikan pesan singkat kepada mahasiswa lain agar terus berkembang dan tidak cepat merasa puas dengan pencapaian yang diraih.
“Jangan mudah puas,” tutupnya.
(rin/red)
