zmedia

Kiai di Pekalongan Ditangkap, Diduga Cabuli Santriwati dengan Modus Pijat hingga Pegang Alat Vital

(Doc. Metropekalongan.com) AKF saat digelandang di Polres Pekalongan
Hariancendekia.com - Kiai AKF, Pimpinan Pondok Pesantren di Kecamatan Buaran, Kota Pekalongan, ditangkap karena diduga melecehkan beberapa santriwati yang mondok di tempatnya mengajar. Modus operandinya, sang kiai meminta santriwati-santriwatinya memijat tubuhnya, lalu disuruh memegang alat vitalnya.

Selain itu, sebagian korban juga mengaku pernah mengalami perabaan pada bagian dada dan kelamin.

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Riki Yariandi, menduga jumlah korban bisa bertambah. Polisi saat ini masih berupaya membujuk korban lain agar berani melapor, termasuk seorang perempuan yang diduga pernah hamil hingga melahirkan akibat kasus serupa.

“Tidak menutup kemungkinan jumlah korban bertambah. Ada informasi salah satu korban sampai hamil dan melahirkan, tetapi yang bersangkutan masih belum bersedia bicara. Posisinya di Kabupaten Pekalongan,” katanya, dilansir dari Metropekalongan.com.

Untuk mempermudah pelaporan, polisi membuka posko pengaduan sekaligus layanan pendampingan psikologis bagi para korban.

Sementara itu, area pondok pesantren telah dipasangi garis polisi. Seluruh aktivitas belajar mengajar di lokasi untuk sementara dihentikan demi kepentingan penyidikan.

Riki mengatakan, penangkapan AKF, dilakukan bukan atas laporan dari Santriwati berinisial F, yang viral mengaku hamil dan melahirkan tanpa berhubungan badan. Penangkapan terhadap sang kiai, dilakukan lantaran ada laporan dari enam (6) santriwati lain, yang diduga menjadi korban pelecehan seksual AKF, saat masih mondok di pesantren terduga pelaku.

Riki mengatakan, pengungkapan kasus ini sempat terkendala karena informasi yang beredar sangat tertutup.

Riki kemudian memerintahkan jajaran Satreskrim untuk melakukan pendekatan personal kepada keluarga-keluarga korban.

“Pada mulanya informasi tentang kasus ini sangat tertutup. Kami minta jajaran reskrim melakukan pendekatan person to person kepada para keluarga korban. Alhamdulillah, akhirnya ada sejumlah korban yang bersedia melapor,” tukasnya.

(rin/red)
-Advertisement-