![]() |
| (Doc. Istimewa) Pengurus dan anggota MTI Jawa Timur usai Silaturahmi dan Penguatan Organisasi di Surabaya |
Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran MTI Jatim sebagai rumah bersama bagi para pemikir, pelaksana, dan penggerak transportasi di Indonesia.
Kegiatan ini turut di hadiri Prof dr Hary Soegiri MBA MSi., Ketua MTI JATIM, Chairul Djaelani, Penasehat Bambang Harya, Komisi VII DPR RI dan Wahid, Serta Prof Daniel Rosyid tokoh transportasi dan Hartanto staf KSP.
Di Jawa Timur, tantangan sektor transportasi dinilai semakin nyata. Mulai dari pengembangan dan peningkatan transportasi publik, kemacetan Surabaya–Gempol, integrasi komuter dan bus, hingga keselamatan di perlintasan sebidang.
Selain itu, MTI Jatim juga menyoroti keselamatan pelayaran, optimalisasi Pelabuhan Tanjung Perak, logistik Pantura, serta transportasi di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Silaturahmi tersebut memiliki dua tujuan besar. Pertama, menguatkan jaringan. Sebab, transportasi tidak bisa berjalan sendiri.
Akademisi membutuhkan data dari operator. Operator membutuhkan kajian dari kampus. Pemerintah membutuhkan masukan dari praktisi.
Melalui kegiatan ini, MTI Jatim berupaya menyambungkan berbagai simpul tersebut. Kolaborasi dinilai menjadi jalur cepat menuju solusi atas berbagai persoalan transportasi.
Tujuan kedua adalah menguatkan organisasi. MTI Jatim diarahkan menjadi think tank yang kredibel sekaligus mitra strategis Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Untuk mewujudkan hal itu, ada tiga hal yang perlu diperkuat. Yakni tertib organisasi, tajam kajian, dan tegas aksi.
Tertib organisasi mencakup data anggota, iuran, serta program kerja yang terukur. Tajam kajian berarti menghasilkan riset dan rekomendasi kebijakan yang solutif, bukan hanya kritik.
![]() |
| (Doc. Istimewa) Sambutan Prof.Dr.Hary Soegiri, MBA, MSi., Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Jawa Timur |
Dalam kesempatan tersebut, terdapat tiga pesan penting yang disampaikan kepada pengurus dan anggota MTI Jatim.
Pertama, profesional. Seluruh anggota diminta menjaga integritas karena MTI merupakan rumah ilmu, bukan rumah kepentingan.
Kedua, solutif. Setiap persoalan transportasi yang diangkat harus disertai tawaran solusi.
Ketiga, solid. Jawa Timur akan kuat apabila Surabaya, Malang, Kediri, Madura, dan Banyuwangi berada dalam satu komando.
Ke depan, MTI Jatim akan fokus pada integrasi angkutan umum, keselamatan jalan, logistik berkeadilan, serta transportasi rendah karbon.
MTI Jatim juga menyatakan kesiapan menjadi mitra Pemprov Jatim untuk mewujudkan “Jatim Cerdas dan Terhubung” serta menjadikan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara.
Silaturahmi ini diharapkan menjadi awal dari kerja-kerja nyata MTI Jatim yang lebih berdampak bagi pembangunan transportasi di Jawa Timur.
(adv/red)

