Harian Cendekia

Menolak Menjadi Generasi "Copy-paste": Merawat Kembali Roh Literasi dan Dialektika Mahasiswa

Oleh: Moh. Imam Sulistiyu
Seperti yang pernah dipesankan oleh Tan Malaka, “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam pikiran, memperhalus perasaan, serta memperkokoh kemauan.”

Opini, Hariancendekia.com | Di balik dinding-dinding kampus yang megah, ada sunyi yang mengerikan. Sunyi itu bukan lahir dari kedalaman kontemplasi, melainkan dari deretan layar yang memantulkan jawaban instan kecerdasan buatan. Tugas-tugas kuliah dengan puluhan halaman kini terselesaikan hanya dalam waktu lima detik tanpa pernah dibaca kembali, sementara fenomena joki skripsi kian marak, mempertegas bahwa integritas ilmiah sedang dilelang murah di pasar gelap akademis. Forum diskusi mahasiswa yang dulu bising oleh benturan ide, kini berubah menjadi ruang hampa yang dingin dan apatis.

Realitas pahit inilah yang melahirkan label Generasi Salin-Tempel. Namun, menyederhanakan fenomena ini sebagai sekadar masalah plagiarisme teknis atau pelanggaran etika biasa adalah kekeliruan yang berbahaya. Ini bukan lagi persoalan kutip-mengutip tanpa lisensi semata, melainkan sebuah krisis eksistensial akademis yang sedang menggerogoti fondasi paling dasar dari sebuah stradisi intelektual kita. Ketika melihat kemudahan algoritma mengumpulkan hasrat untuk berpikir mendalam, sehingga mimbar akademik perlahan kehilangan ruhnya dan berganti menjadi panggung formalitas yang banal.

Pada akhirnya, tragedi terbesarnya bukan terletak pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan pada letak kejatuhan peran manusia di dalamnya. Hari ini, kita sedang menyaksikan peristiwa tragis dengan tampaknya mahasiswa sedang mengalami degradasi peran yang masif, bergeser dari produsen gagasan yang kritis dan otentik menjadi sekadar konsumen informasi yang pasif dan serba instan. Tanpa kesadaran untuk merebut kembali kedaulatan berpikirnya, mahasiswa hanya akan menjadi penonton bisu di dalam panggung akademis yang mereka huni sendiri.

Akar dari kemerosotan ini berakar pada pergeseran mendasar dalam memaknai literasi. Generasi hari ini tidak pernah kekurangan pasokan data tetapi mereka tenggelam dalam lautan informasi, bahkan ironisnya banyak mengalami kelaparan pemahaman. Secara garis besar kita sibuk membanggakan tingginya literasi mekanis tentang kemampuan membaca teks teknis, namun menutup mata terhadap matinya literasi kritis yang menuntut daya cerna, verifikasi, dan keberanian menginterogasi narasi. Informasi diakses secepat kilat, tetapi menguap tanpa pernah mengendap menjadi pengetahuan tanpa menyisakan tumpukan fakta mentah yang tak bermakna di kepala.

Kondisi ini kian diperparah oleh Digital Convenience Trap sebuah jebakan kenyamanan digital yang bekerja secara halus namun mematikan. Bahkan algoritma dan kecerdasan buatan menyajikan jawaban serba cepat yang memanjakan otak, secara perlahan membunuh daya tahan intelektual mahasiswa dalam melintasi ketidakpastian. Budaya instan ini memahat pola pikir baru yang fatalistis dengan ketakutan yang berlebihan terhadap kompleksitas dan penolakan pada proses belajar yang berdarah-darah. Ketika dinamika berpikir yang rumit digantikan oleh kemudahan satu klik, banyak mahasiswa kehilangan kebiasaan penting untuk bergulat dengan ide-ide besar yang membutuhkan waktu untuk direnungkan.

Dampaknya terasa nyata pada matinya dialektika di ruang publik kampus. Mimbar-mimbar akademis, sudut perpustakaan, hingga diskusi meja warung kopi yang dulunya menjadi kawah candradimuka perdebatan wacana, kini tak lebih dari formalitas berkumpul. Diskusi mahasiswa bergeser drastis dari benturan pemikiran yang bernas menjadi sekadar rutinitas administratif pengisian KRS atau panggung buatan demi eksistensi di media sosial. Ketika ruang publik akademis steril dari perdebatan wacana yang sublim, setail kampus mulai kehilangan fungsinya sebagai benteng daya kritis dan sekadar menjadi pabrik pencetak ijazah tanpa tanpa dikuatkan dengan ruh.

Eskalasi bahaya dari krisis ini tidak berhenti di dalam batas-batas tembok kampus, melainkan merayap secara perlahan dan mengancam masa depan demokrasi serta arah kehidupan pemuda-pemudi bangsa. Ketika melihat mahasiswa Adalah pihak yang digadang-gadang sebagai agent of change yang tidak sadar terbiasa bersikap pasif dan menerima informasi mentah-mentah lewat mekanisme copy-paste, daya kritis mereka akan tumpul dalam membaca realitas sosial. Akibatnya, masyarakat kehilangan benteng pertahanan intelektualnya yang seharusnya mereka menjadi pencerah justru menjadi pihak yang paling mudah dimanipulasi oleh hoaks, propaganda politik pragmatis, dan narasi sektarian. Pada akhirnya, banyak perguruan tinggi mungkin akan terus memproduksi ribuan sarjana berijazah setiap tahunnya, tetapi negara ini akan mengalami kebangkrutan intelektual dengan narasi hilangnya suara-suara otentik dan pemikir orisinal yang mampu menawarkan solusi atas persoalan kebangsaan yang kian kompleks.

Guna mengurai benang kusut ini, perubahan mendasar harus dimulai dari balik meja kuliah melalui revolusi metode pembelajaran. Sebuah perguruan tinggi dan para pendidik harus berani merombak gaya asesmen yang usang dengan aspek tugas pembuatan makalah konvensional yang rentan di copy-paste harus segera ditanggalkan. Dosen perlu mengalihkan orientasi evaluasi pada ujian lisan yang menguji kedalaman argumen, debat terbuka yang mengasah ketangkasan logika, serta analisis studi kasus lokal yang mewajibkan riset lapangan secara langsung. Pada saat yang sama, teknologi seperti AI harus diredefinisi fungsinya secara radikal dan ia tidak boleh lagi disembah sebagai pemegang jawara "jawaban akhir", melainkan hanya diposisikan sebagai sparring partner atau mitra tanding berpikir untuk menguji keandalan dan mematangkan gagasan mahasiswa sendiri.

Namun, rekayasa kurikulum akan sia-sia tanpa adanya kesadaran dari dalam diri mahasiswa untuk merawat kembali "komunitas dialektika". Lingkaran-lingkaran diskusi kecil, kelompok studi independent, dan meja-meja warung kopi harus dihidupkan kembali sebagai kawah candradimuka yang ramah bagi tradisi bedah buku dan negosiasi wacana. Mahasiswa harus melatih kembali keberanian untuk berbeda pendapat, menginterogasi gagasan arus utama, dan merayakan proses berpikir yang rumit tanpa dibayang-bayangi ketakutan akan kegagalan. Keberanian untuk melintasi ketidakpastian itulah yang akan mengembalikan martabat mahasiswa dari sekadar mesin penyerap data menjadi intelektual yang independen dan berdaya ubah.

Pada akhirnya, kita harus menegaskan kembali garis batas yang jelas antara kemajuan alat dan martabat manusia. Kemudahan teknologi sejatinya hanyalah alat bantu untuk mempermudah hidup, tetapi pikiran yang kritis dan otentik adalah mahkota sejati yang melekat pada diri seorang mahasiswa. Seperti yang pernah dipesankan oleh Tan Malaka, “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam pikiran, memperhalus perasaan, serta memperkokoh kemauan.” Jika kita menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin, kita tidak hanya melenyapkan mahkota intelektual tersebut, tetapi juga secara sukarela membiarkan kemauan dan nurani kita tumpul di tengah arus zaman saat ini.

Kini, saatnya mahasiswa membuang mentalitas pembuntut dan berani menanggapi seruan klasik Sapere Aude untuk bagaimana berani berpikir sendiri. Jangan biarkan layar-layar digital melumpuhkan keberanian kita untuk meragukan, menguji, dan merumuskan gagasan secara mandiri. Mari kita rebut kembali fungsi kampus bukan sekadar sebagai pabrik pencari gelar, melainkan sebagai rumah dialektika yang riuh oleh benturan ide-ide segar. Sebab, masa depan bangsa ini tidak akan pernah ditentukan oleh seberapa canggih algoritma yang kita pakai, melainkan oleh seberapa berani kita mempertahankan kedaulatan pikiran kita sendiri. (*)
_________
*) Penulis: Moh. Imam Sulistiyu.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.