Harian Cendekia

Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan, 1,03 Juta Orang Masih Menganggur

Ilustrasi pencari kerja berlatar belakang sarjana, Foto. Istimewa
Hariancendekia.com | Gelar sarjana belum menjadi jaminan seseorang terbebas dari pengangguran. Data Sakernas Mei 2026 mencatat 1.033.182 penganggur atau 14,31% dari total 7,22 juta penganggur merupakan lulusan sarjana terapan hingga S-3.

Data tersebut mencakup penduduk usia kerja dengan latar belakang pendidikan sarjana terapan, S-1, S-2, dan S-3. Angkanya menunjukkan porsi sarjana di antara penganggur terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini terjadi meski jumlah pengangguran secara keseluruhan cenderung menurun. Dalam periode yang sama, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun dari kisaran 5% menuju 4%.

Berdasarkan Sakernas Agustus 2022, porsi sarjana yang menganggur tercatat 7,98%. Angka tersebut kemudian naik menjadi 10,3% pada Agustus 2023.

Tren kenaikan berlanjut pada Agustus 2024. Saat itu, persentase penganggur berlatar belakang sarjana mencapai 11,28%.

Pada Sakernas November 2025, porsinya kembali meningkat menjadi 12,37%. Selanjutnya, angka tersebut mencapai 14,27% pada Februari 2026 dan 14,31% pada Mei 2026.

Dengan demikian, dalam rentang Agustus 2022 hingga Mei 2026, porsi sarjana di antara penganggur meningkat lebih dari enam poin persentase.

Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan, penganggur merupakan penduduk yang tidak memiliki pekerjaan, sedang mencari pekerjaan, dan bersedia bekerja. Sementara itu, TPT menggambarkan proporsi angkatan kerja yang menganggur.

Data tersebut juga memperlihatkan persoalan pengangguran tidak hanya menyasar lulusan pendidikan rendah. Setiap tahun, rata-rata sekitar 3,6 juta orang dari berbagai jenjang pendidikan mulai SMA, SMK, diploma hingga sarjana tercatat menganggur.

Kenaikan porsi penganggur berlatar belakang sarjana menjadi catatan tersendiri di tengah meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi. Gelar pendidikan tinggi tetap menjadi modal memasuki pasar kerja, tetapi tidak otomatis menjamin terserapnya lulusan ke dalam lapangan pekerjaan.

(red)