Harian Cendekia

Mahasiswa UNJ Kembangkan PsyCare, Chatbot AI untuk Bantu Guru BK Pantau Masalah Siswa

Mahasiswa UNJ mengembangkan PsyCare, chatbot AI pendukung layanan BK di sekolah, Foto. Istimewa

Hariancendekia.com | Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengembangkan PsyCare, chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah. Teknologi ini memberi ruang bagi siswa untuk bercerita sekaligus membantu guru BK memperoleh gambaran awal mengenai persoalan yang dihadapi siswa.

PsyCare dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 yang didanai Kementerian Pendidikan. Inovasi tersebut lahir dari kebutuhan menghadirkan akses pendampingan yang lebih mudah bagi siswa yang belum nyaman menyampaikan masalah secara langsung kepada guru BK.

Salah satu fitur utamanya ialah Curhat Reflektif. Melalui fitur ini, siswa dapat menuliskan perasaan dan persoalan yang sedang dihadapi.

Sistem kemudian mengolah percakapan menjadi informasi ringkas berupa kecenderungan sentimen dan topik permasalahan. Data yang diterima guru BK bukan isi curhat siswa secara utuh, melainkan informasi indikatif mengenai pola persoalan yang muncul.

Pendekatan tersebut dirancang untuk tetap memperhatikan privasi siswa. Guru BK dapat memanfaatkan dashboard PsyCare untuk melihat gambaran permasalahan, menentukan prioritas tindak lanjut, menyediakan materi edukasi, hingga menjadwalkan konseling.

PsyCare telah diuji coba di MAN 3 Jakarta mulai 28 Juli 2026 selama 14 hari. Uji coba melibatkan siswa dari tiga kelas yang menggunakan fitur Curhat Reflektif untuk menyampaikan pengalaman dan persoalan mereka.

Dari proses tersebut, tim menemukan sejumlah tema yang kerap muncul, seperti tekanan akademik, kelelahan emosional, dan persoalan keluarga. Guru BK juga mencoba fitur tindak lanjut berupa penjadwalan konseling dan penyediaan materi edukasi kesehatan mental.

Ketua Tim PKM-KC PsyCare Gilang Ramadhan mengatakan teknologi tersebut dirancang sebagai penghubung awal antara siswa dan layanan BK.

“PsyCare kami kembangkan sebagai jembatan antara siswa dan layanan BK. Kami ingin memberikan ruang awal yang lebih nyaman bagi siswa untuk bercerita, sekaligus membantu guru BK mendapatkan gambaran mengenai permasalahan yang muncul sehingga dapat ditindaklanjuti secara lebih tepat,” ujar Gilang.

Tim menegaskan PsyCare bukan pengganti guru BK atau tenaga profesional kesehatan mental. Teknologi ini diposisikan sebagai sarana pendukung untuk memperluas akses awal pendampingan siswa.

Pengembangan PsyCare melibatkan mahasiswa Sosiologi, Bimbingan dan Konseling, serta Ilmu Komputer UNJ dengan bimbingan Mohamad Saripudin, M.Pd. (Red)

Punya gagasan, atau informasi menarik di sekitar Anda? Kirimkan sekarang

Kirim Tulisan