Harian Cendekia

NDP PMII Tidak Pernah Utuh

Oleh: M. Fauzan Firjatullah
Opini, Hariancendekia.com | NDP PMII tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui pergulatan panjang sejak Kongres V PMII di Ciloto, Bogor, pada 1973. Gagasan tersebut terus berkembang hingga Kongres VIII di Bandung pada 1985, yang melahirkan kerangka Nilai Dasar Perjuangan. Kemudian, pada Kongres IX di Surabaya pada 1988, istilah tersebut difokuskan menjadi Nilai Dasar Pergerakan. Perubahan istilah dari “Perjuangan” menjadi “Pergerakan” menunjukkan bahwa NDP tidak hanya dimaksudkan sebagai landasan ideologis, tetapi juga sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak. Namun, pertanyaannya, apakah NDP yang diwariskan kepada kader hari ini masih benar-benar utuh?

Dalam rumusan awalnya, NDP memuat enam nilai: Tauhid, Hablum Minallah, Hablum Minannas, Hablum Minal Alam, Budaya dan Tradisi, serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Enam nilai tersebut menunjukkan bahwa sejak awal PMII tidak membangun paradigma yang hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan. NDP juga menempatkan manusia, alam, kebudayaan, serta ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dalam kehidupan pergerakan. Karena itu, hilangnya pembahasan mengenai Budaya dan Tradisi serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bukan persoalan kecil, sebab dua nilai tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan kader dalam membaca perubahan masyarakat.

Masalahnya, kader PMII di tingkat grassroots hari ini lebih banyak mengenal empat nilai pertama, sementara dua nilai lainnya nyaris tidak menjadi bagian dari pembahasan dalam kaderisasi. Akibatnya, NDP mengalami penyempitan makna dan kehilangan sebagian daya kritisnya. Kader dapat memahami hubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam, tetapi tidak cukup dibekali perspektif kebudayaan serta penguasaan ilmu pengetahuan untuk membaca perubahan zaman. Pada titik ini, NDP berisiko berubah dari paradigma pergerakan menjadi sekadar materi yang dihafalkan. Padahal, pergerakan tanpa pemahaman budaya akan kehilangan konteks, sedangkan pergerakan tanpa ilmu pengetahuan akan kehilangan alat untuk membaca realitas.

Kader PMII juga dituntut memiliki kapasitas dalam memahami keindonesiaan, sebab PMII tumbuh dari realitas masyarakat Indonesia yang beragam dalam budaya, tradisi, dan perkembangan pengetahuan. Di sinilah Budaya dan Tradisi serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menjadi sangat menarik untuk kembali dibahas di tingkat grassroots, khususnya rayon dan komisariat. Dua nilai tersebut dapat menjadi ruang untuk membaca hubungan antara Islam, kebudayaan, tradisi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan persoalan keindonesiaan. Kader tidak cukup hanya memahami nilai secara normatif, tetapi juga harus mampu membaca konteks sosial tempat ia hidup dan bergerak. Jika dua nilai ini dihidupkan kembali dalam kaderisasi, rayon dan komisariat dapat menjadi ruang produksi gagasan, bukan sekadar reproduksi materi. Justru dari grassroots inilah NDP seharusnya diuji, diperdebatkan, dan dikembangkan agar tetap relevan dengan persoalan keindonesiaan.

NDP seharusnya berdiri sebagai kerangka ideologis, kerangka refleksi, sekaligus kerangka aksi. Sebagai kerangka ideologis, NDP memberikan fondasi nilai bagi kader; sebagai kerangka refleksi, NDP harus mampu membaca kemiskinan, ketimpangan, krisis lingkungan, perubahan budaya, teknologi, pendidikan, dan persoalan sosial; sedangkan sebagai kerangka aksi, NDP harus diterjemahkan ke dalam gerakan nyata. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, perubahan budaya, dan derasnya arus informasi, dua nilai yang jarang dibahas tersebut justru semakin relevan. Bagaimana mungkin PMII ingin menjawab persoalan zaman jika perangkat untuk memahami kebudayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan tidak dibicarakan secara serius?

Karena itu, persoalan NDP hari ini bukan sekadar apakah kader mengenal NDP, tetapi apakah kader memahaminya secara utuh. Jika enam nilai tersebut pernah menjadi bagian dari rumusan historis NDP, maka keberadaan dua nilai terakhir harus kembali dipertanyakan dalam kaderisasi. PMII tidak boleh hanya mewariskan empat nilai lalu menganggap tugas ideologis telah selesai. NDP harus dibaca kembali secara kritis agar tetap menjadi alat untuk memahami sekaligus mengubah realitas. Sebab, NDP yang tidak mampu menjawab perubahan zaman hanya akan menjadi teks sejarah, bukan lagi nilai dasar pergerakan. (*)
_________
*) Penulis: M. Fauzan Firjatullah.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.

Punya gagasan, atau informasi menarik di sekitar Anda? Kirimkan sekarang

Kirim Tulisan