Harian Cendekia

Wajah Asli NDP PMII

Oleh: Haris Ikhdam Kholid
Opini, Hariancendekia.com | Pertama, sejarah perumusan NDP PMII tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan PMII untuk memiliki pijakan ideologis yang mampu menjawab persoalan kader dan masyarakat. NDP lahir sebagai upaya merumuskan nilai-nilai dasar yang menjadi arah perjuangan PMII, bukan sekadar kumpulan konsep keagamaan. Di dalamnya terdapat Tauhid sebagai fondasi utama, hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama, serta hubungan manusia dengan alam. Dengan demikian, sejak awal NDP dimaksudkan untuk membentuk cara berpikir dan cara bertindak kader. Namun, dalam perjalanan sejarahnya, NDP tidak berhenti sebagai dokumen yang bersifat final. Ia terus mengalami pembacaan, perdebatan, dan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan zaman serta kebutuhan gerakan.

Kedua, penyempurnaan NDP PMII merupakan bagian dari dinamika intelektual organisasi. Penyempurnaan tersebut pada dasarnya dimaksudkan agar NDP tetap relevan dalam membaca perubahan sosial, politik, kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, di sinilah muncul persoalan yang menurut saya perlu dibicarakan secara jujur. Dalam proses penyempurnaan, terdapat dua asas yang kemudian tidak lagi tampak secara eksplisit, yaitu asas budaya dan tradisi serta asas ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hilangnya dua asas tersebut bukan berarti budaya, tradisi, ilmu pengetahuan, dan teknologi tidak penting bagi PMII. Justru sebaliknya, ketiadaan rumusan yang eksplisit berpotensi membuat kader kurang memiliki kesadaran bahwa kebudayaan dan IPTEK merupakan bagian penting dari perjuangan ideologis. NDP akhirnya berisiko dibaca hanya sebagai hubungan vertikal dan horizontal, sementara dimensi kebudayaan serta perkembangan pengetahuan kurang mendapatkan ruang yang memadai.

Ketiga, NDP seharusnya dipahami sebagai kerangka ideologis, bukan sekadar materi kaderisasi yang dihafalkan. Kerangka ideologis berarti NDP menjadi alat bagi kader untuk membaca realitas, menentukan sikap, sekaligus mengarahkan tindakan. Tauhid, misalnya, tidak cukup berhenti pada keyakinan kepada Allah, tetapi harus melahirkan keberanian untuk menolak ketidakadilan dan segala bentuk penghambaan manusia kepada manusia. Hablum minallah harus melahirkan tanggung jawab spiritual, hablum minannas melahirkan keberpihakan sosial, sedangkan hablum minal alam menuntun kader untuk menjaga keberlanjutan kehidupan. Ketika NDP ditempatkan sebagai kerangka ideologis, kader PMII tidak hanya bertanya apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu terjadi, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan apa yang harus dilakukan. Di titik inilah NDP menjadi hidup karena diterjemahkan ke dalam praksis perjuangan.

Keempat, NDP juga harus ditempatkan sebagai kalimatun sawa, yaitu titik temu bersama bagi seluruh kader PMII. Kader PMII datang dari latar belakang, pengalaman, daerah, dan pemikiran yang berbeda. Perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menegasikan, melainkan menjadi kekuatan selama memiliki fondasi nilai yang sama. NDP menjadi kalimatun sawa karena menyediakan titik temu antara dimensi keislaman, kemanusiaan, kebangsaan, dan perjuangan sosial. Karena itu, NDP bukan alat untuk menyeragamkan cara berpikir kader, tetapi menjadi fondasi bersama agar perbedaan pemikiran tetap berada dalam koridor nilai perjuangan PMII. Persoalannya, jika dua dimensi penting seperti budaya dan tradisi serta IPTEK tidak lagi dibaca secara eksplisit, maka kalimatun sawa tersebut perlu terus diperluas melalui interpretasi kader agar mampu menjawab realitas baru tanpa kehilangan akar ideologisnya.

Kelima, wajah asli NDP PMII menurut saya justru terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara nilai, tradisi, pengetahuan, dan praksis. Asas budaya dan tradisi mengingatkan bahwa kader PMII tidak lahir di ruang kosong; kader tumbuh bersama sejarah, kebudayaan, kearifan lokal, dan tradisi intelektual masyarakatnya. Sementara itu, asas IPTEK mengingatkan bahwa perjuangan tidak cukup hanya bermodal idealisme, tetapi membutuhkan pengetahuan, kemampuan membaca perkembangan teknologi, dan kecakapan dalam mengelola perubahan zaman. Karena itu, hilangnya kedua asas tersebut secara eksplisit seharusnya tidak membuat kita kehilangan substansinya. Justru menjadi tugas generasi kader hari ini untuk menghidupkannya kembali melalui aktualisasi: menjaga tradisi tanpa menjadi anti-perubahan, menerima teknologi tanpa kehilangan nilai, mengembangkan ilmu tanpa kehilangan spiritualitas, serta bergerak maju tanpa memutus akar kebudayaan. Dengan demikian, wajah asli NDP PMII bukan sekadar enam rumusan yang dibaca dalam forum kaderisasi, melainkan sebuah cara pandang yang menjadikan kader mampu berdiri di antara Tuhan, manusia, alam, kebudayaan, dan perkembangan ilmu pengetahuan secara utuh. (*)
_________
*) Penulis: Haris Ikhdam Kholid.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.

Punya gagasan, atau informasi menarik di sekitar Anda? Kirimkan sekarang

Kirim Tulisan