Harian Cendekia

Pilkades Batujai: Bukan Sekadar Memilih Pemimpin, tetapi Menentukan Arah Masa Depan Desa

Oleh: Dodik Irwan Ahmad, S.H, Aktivis dan Akademisi
Opini, Hariancendekia.com | Pemilihan Kepala Desa Batujai bukan sekedar agenda politik. Di balik proses pemilihan tersebut, ada harapan masyarakat, masa depan pembangunan desa, pelayanan publik, serta nasib kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini mungkin belum mendapatkan perhatian yang cukup.

Karena itu, masyarakat Desa Batujai perlu melihat pemilihan kepala desa bukan hanya dari siapa yang paling dikenal, paling banyak memasang baliho, paling sering hadir dalam kegiatan masyarakat, atau paling banyak menjanjikan sesuatu. Lebih dari itu, masyarakat perlu bertanya: siapa yang benar-benar memiliki gagasan, keberanian, integritas, dan kemampuan untuk mengurus kepentingan seluruh masyarakat Desa Batujai?

Pertanyaan ini penting karena kepala desa bukan sekedar simbol atau jabatan. Kepala desa memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pembangunan, pengelolaan anggaran desa, pelayanan kepada masyarakat, pemberdayaan ekonomi, pembangunan infrastruktur, hingga memastikan kelompok masyarakat yang lemah tidak semakin terpinggirkan.

Jangan Sampai Demokrasi Desa Berhenti pada Pencoblosan

Kita tentu mengapresiasi masyarakat Batujai yang memiliki hak untuk menentukan pemimpinnya sendiri. Demokrasi di tingkat desa merupakan ruang penting bagi masyarakat untuk menentukan masa depannya.

Namun, demokrasi jangan sampai hanya dimaknai sebagai datang ke TPS, mencoblos, lalu selesai.

Demokrasi yang sehat seharusnya dimulai jauh sebelum hari pemilihan. Masyarakat berhak mengetahui visi, program, rekam jejak, kapasitas, serta komitmen para calon kepala desa. Masyarakat juga berhak mengkritisi dan mempertanyakan program yang ditawarkan.

Jangan sampai masyarakat hanya menjadi objek politik ketika momentum pemilihan tiba, tetapi setelah pemilihan selesai kembali menjadi pihak yang paling sulit mendapatkan akses pelayanan dan perhatian pemerintah desa.

Di sinilah saya kira masyarakat Batujai perlu semakin kritis.
Jangan memilih hanya karena kedekatan. Jangan memilih hanya karena pemberian. Jangan memilih hanya karena tekanan. Pilihlah berdasarkan pertimbangan tentang siapa yang paling mampu bekerja untuk kepentingan masyarakat.

Desa Bukan Milik Segelintir Orang

Kepala desa yang terpilih nantinya harus memahami bahwa ketika seseorang telah mendapatkan mandat rakyat, maka ia bukan lagi kepala dari kelompok pendukungnya saja.

Ia adalah kepala desa bagi seluruh masyarakat Batujai.

Mereka yang memilihnya maupun yang tidak memilihnya memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan publik, pembangunan, kesempatan ekonomi, serta perlakuan yang adil.

Karena itu, politik setelah pemilihan harus segera diakhiri. Jangan sampai masyarakat terpecah hanya karena perbedaan pilihan politik. Jangan sampai muncul praktik membedakan pelayanan berdasarkan siapa yang mendukung dan siapa yang tidak mendukung.

Desa harus menjadi rumah bersama.
Perbedaan pilihan dalam pemilihan kepala desa adalah sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Yang tidak boleh terjadi adalah perbedaan pilihan tersebut kemudian menjadi alasan untuk memecah masyarakat.
Kepala Desa Harus Berani Terbuka
Hal lain yang tidak kalah penting adalah persoalan transparansi dan akuntabilitas.

Masyarakat memiliki hak untuk mengetahui bagaimana anggaran desa dikelola, apa saja program yang dijalankan, berapa anggaran yang digunakan, siapa penerima manfaatnya, dan sejauh mana program tersebut memberikan dampak bagi masyarakat.

Keterbukaan bukan bentuk ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah desa. Sebaliknya, transparansi merupakan bagian dari pemerintahan yang sehat.

Semakin terbuka pemerintah desa, semakin besar pula ruang bagi masyarakat untuk ikut mengawasi dan berpartisipasi.

Kita tentu tidak ingin pembangunan desa hanya terlihat dari banyaknya proyek fisik. Pembangunan harus diukur dari apakah masyarakat semakin sejahtera, pelayanan semakin mudah, anak-anak muda mendapatkan ruang berkembang, perempuan mendapatkan kesempatan yang setara, kelompok rentan mendapatkan perlindungan, serta ekonomi masyarakat benar-benar bergerak.

Jangan Lupakan Anak Muda Batujai

Saya juga ingin memberikan perhatian khusus kepada generasi muda.

Anak muda bukan hanya kelompok yang dibutuhkan ketika kampanye atau kegiatan politik. Mereka adalah bagian penting dari masa depan Desa Batujai.

Pemerintah desa ke depan harus mampu menciptakan ruang bagi anak muda untuk berkarya, berorganisasi, mengembangkan usaha, meningkatkan keterampilan, serta berpartisipasi dalam pembangunan desa.

Jangan sampai anak muda hanya dipandang sebagai massa yang bisa dikumpulkan ketika dibutuhkan, tetapi tidak dilibatkan ketika keputusan-keputusan penting dibuat.

Desa yang maju adalah desa yang memberikan ruang bagi generasi mudanya untuk tumbuh.

Masyarakat Harus Menjadi Subjek Pembangunan

Selama ini kita sering mendengar istilah pembangunan desa. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: pembangunan itu sebenarnya untuk siapa?

Pembangunan seharusnya menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan sekadar objek.

Artinya, masyarakat harus dilibatkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan pembangunan. Aspirasi masyarakat tidak boleh hanya didengar ketika musyawarah desa, tetapi harus benar-benar menjadi dasar dalam menentukan kebijakan.

Pemerintah desa juga perlu membangun mekanisme pengaduan yang mudah, terbuka, dan responsif. Ketika masyarakat memiliki persoalan, mereka harus tahu ke mana harus menyampaikan keluhan dan mendapatkan jawaban.

Kritik masyarakat jangan dianggap sebagai ancaman. Kritik adalah salah satu cara untuk memastikan kekuasaan tetap berada di jalur yang benar.

Batujai Membutuhkan Pemimpin yang Bekerja, Bukan Sekadar Berjanji
Pada akhirnya, masyarakat Batujai tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu bekerja.

Pemimpin yang mau turun ke masyarakat.
Pemimpin yang mau mendengar keluhan.
Pemimpin yang tidak alergi terhadap kritik.
Pemimpin yang berani mengambil keputusan untuk kepentingan masyarakat.

Pemimpin yang mampu mengelola anggaran secara transparan. Dan yang paling penting, pemimpin yang memahami bahwa jabatan kepala desa adalah amanah, bukan hak istimewa.

Karena itu, dalam pemilihan kepala desa Batujai, mari kita dorong politik yang lebih dewasa. Politik yang tidak menjadikan masyarakat sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan. Politik yang tidak berhenti pada janji-janji. Politik yang menempatkan kepentingan masyarakat sebagai tujuan utama.

Saya menulis ini bukan untuk mendukung atau menjatuhkan calon tertentu. Sebagai seorang yang selama ini berada dalam ruang gerakan sosial, advokasi hukum, dan dunia akademik, saya percaya bahwa masyarakat harus memiliki ruang untuk bersuara dan mengawasi proses demokrasi di lingkungannya.

Saya percaya bahwa kekuasaan harus selalu diawasi, kebijakan harus selalu dikritisi, dan kepentingan rakyat harus selalu ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Batujai adalah milik seluruh masyarakat Batujai. Maka, siapa pun yang nantinya mendapatkan mandat sebagai kepala desa, ingatlah bahwa yang diberikan masyarakat bukan sekadar suara, tetapi kepercayaan.
Dan kepercayaan rakyat tidak cukup dibalas dengan janji.

Ia harus dibuktikan dengan kerja, keberpihakan, transparansi, dan keberanian untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Semoga pemilihan kepala desa Batujai melahirkan pemimpin yang bukan hanya menang dalam pemilihan, tetapi juga mampu menang dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya.

Batujai membutuhkan pemimpin yang hadir untuk semua, bekerja untuk semua, dan bertanggung jawab kepada semua. (*)
_________
*) Penulis: Dodik Irwan Ahmad, S.H, Aktivis dan Akademisi.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.