Harian Cendekia

IDEI dan LPS Bahas Strategi Memperkuat Ketahanan Perbankan dan Program Penjaminan Polis

Foto bersama ketua IDEI, ketua LPS Jatim, perwakilan OJK, BI Narasumber dan Moderator, Foto. Istimewa
Hariancendekia.com | Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI) bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyelenggarakan Seminar Nasional “Resolusi Bank dan Program Penjaminan Polis LPS” di Ballroom A Lantai 1, Shangri-La Hotel Surabaya, Rabu (2/9/2026).

Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mempertemukan kalangan akademisi, praktisi, pelaku industri, perbankan, insan ekonomi, mahasiswa, serta pemangku kepentingan lainnya dalam membahas perkembangan dan tantangan sektor keuangan Indonesia, khususnya terkait resolusi bank dan program penjaminan polis.

Seminar diselenggarakan secara hybrid, dengan sekitar 100 peserta hadir secara langsung di Shangri-La Hotel Surabaya dan 190 peserta mengikuti melalui Zoom. Kegiatan juga disiarkan secara live melalui YouTube, sehingga pembahasan dapat menjangkau masyarakat dan pemangku kepentingan yang lebih luas.

Perkuat Kepercayaan Masyarakat terhadap Sistem Keuangan

Ketua/Pimpinan IDEI, Prof. Dr. Hary Soegiri, M.B.A., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kepercayaan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan perekonomian.

Menurutnya, ketika masyarakat memiliki kepercayaan terhadap lembaga keuangan, dunia usaha percaya terhadap sistem perbankan, serta masyarakat yakin bahwa simpanan dan hak-haknya memperoleh perlindungan, maka stabilitas ekonomi dapat semakin kuat. 

“Resolusi Bank dan Program Penjaminan Polis LPS” karena itu tidak semata-mata menjadi tema akademis, tetapi merupakan isu yang menyentuh kepentingan masyarakat luas.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan perkembangan kinerja LPS hingga 2026. Dana penjaminan telah mendekati Rp300 triliun, sementara pendapatan premi penjaminan tumbuh 17,09 persen menjadi Rp10,51 triliun.
Foto pengurus Insan Doktor Ekonomi Indonesia (IDEI), Foto. Istimewa
Selain itu, lebih dari 99 persen rekening nasabah bank umum maupun BPR/BPRS berada dalam cakupan penjaminan sesuai ketentuan hingga Rp2 miliar per nasabah per bank. Capaian tersebut menunjukkan upaya LPS dalam memperkuat perlindungan masyarakat sekaligus menjaga kepercayaan dan stabilitas sistem perbankan nasional.

Resolusi Bank Menjadi Bagian dari Kesiapan Sistem Keuangan

Perkembangan dunia keuangan yang semakin kompleks, percepatan teknologi, serta dinamika ekonomi global menghadirkan risiko yang semakin beragam. Kondisi tersebut membuat kesiapan menghadapi persoalan menjadi sama pentingnya dengan upaya mencegah terjadinya masalah.

Dalam konteks tersebut, resolusi bank menjadi bagian penting dari kesiapan sistem keuangan. Resolusi tidak dimaknai sebagai tindakan yang baru dilakukan ketika masalah terjadi, tetapi sebagai bagian dari mekanisme untuk memastikan bahwa apabila sebuah bank menghadapi persoalan serius, dampaknya dapat dikelola dengan baik, kepentingan nasabah tetap diperhatikan, dan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

Bahas Perbankan Modern hingga Transformasi BPR

Memasuki agenda utama, seminar menghadirkan Dr. Suwandi, Ak., MM, CA., Direktur Eksekutif Surveilans, Pemeriksaan dan Informasi Asuransi LPS, serta Prof. Dr. Pujiono, SE., M.Si., Ak., pakar akuntansi keuangan dan akademisi senior.

Diskusi panel membahas sejumlah isu strategis, di antaranya:
  • Akuntansi resolusi bank dan perusahaan asuransi;
  • Anatomi perbankan modern Indonesia;
  • Analisis kinerja dan ketahanan keuangan;
  • Ketahanan siber di sektor perbankan;
  • Transformasi BPR di era UU P2SK; serta
  • Perkembangan program penjaminan polis LPS.
Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dimoderatori oleh Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., sehingga peserta memperoleh kesempatan untuk mendalami berbagai isu yang berkaitan dengan tantangan dan arah perkembangan sektor keuangan Indonesia.

IDEI Dorong Pertemuan antara Ilmu dan Praktik

Seminar nasional ini juga menjadi bagian dari komitmen IDEI untuk menghadirkan ruang intelektual yang tidak hanya menghasilkan pemahaman akademis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ekonomi Indonesia.
Suasana penyampaian Webinar oleh narasumber, Foto. Istimewa
Prof. Hary Soegiri menegaskan pentingnya mempertemukan ilmu dengan praktik, regulasi dengan pemahaman pelaku industri, serta kebijakan dengan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

“Kita tidak ingin menjadi sekadar penonton terhadap perubahan. Kita harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.”

Melalui forum tersebut, IDEI dan LPS mendorong terbangunnya dialog yang lebih luas antara akademisi, regulator, industri, dunia usaha dan masyarakat dalam menghadapi dinamika sektor keuangan.

Diharapkan, seminar ini tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi dapat melahirkan pemahaman baru, gagasan baru, serta langkah nyata untuk memperkuat ketahanan sistem keuangan Indonesia.

Kegiatan ditutup dengan penyampaian kesimpulan dan closing statement, foto bersama, serta kuis interaktif melalui Kahoot, sebelum dilanjutkan dengan makan siang dan ramah tamah seluruh peserta. (Adv/Red)