![]() |
| Oleh: Salsa Aulia Rahmawati, Mahasiswi Pendidikan Agama Islam, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang |
Hariancendekia.com | Bayangkan seorang murid kelas tiga MI. Ia hafal enam rukun iman dan mendapat nilai penuh di ujian. Siang harinya ia mendorong teman yang lambat di antrean wudu.
Jarak antara hafalan dan perilaku itu nyata. Dalam studi 2026 di sekolah dasar Islam di Karawang, Muzaki dan kolega menemukan bahwa kurikulum dan budaya sekolah sudah memuat nilai tauhid, adab, dan amanah. Penghayatan murid dan konsistensi perilakunya di luar sekolah belum mencapai tahap yang diharapkan.
Pengaruh lain ikut bersaing. Survei APJII 2025 mencatat 79,73% anak di bawah 12 tahun sudah memakai internet, menurut siaran pers Komisi Perlindungan Anak Indonesia pada Safer Internet Day 2026. Guru dan orang tua berbagi pengaruh dengan layar.
Iman Punya Tiga Lapis
Ilmu akidah merumuskan iman sebagai keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Thomas Lickona, pakar pendidikan karakter, menyusun karakter baik dengan urutan serupa: mengetahui kebaikan, menginginkan kebaikan, lalu melakukannya. Hafalan rukun iman mengisi lapis pertama. Rasa yakin dan cinta tumbuh dari pengalaman yang menyentuh perasaan. Amal tumbuh dari latihan berulang. Tiap lapis butuh cara sendiri, dan di sinilah tiga metode berperan: kisah, teladan, dan kebiasaan.
Kisah Membuka Makna
Al-Qur’an menyebut bahwa kisah para rasul memuat pelajaran bagi orang yang berakal (QS Yusuf ayat 111). Kisah menyampaikan nilai lewat tokoh, dan perasaan anak ikut terlibat dengan tokoh itu.
Ayanah dan Ningrum menceritakan kisah Nabi Ayyub kepada 15 anak usia 5 sampai 6 tahun di sebuah PAUDQ di Jakarta Barat. Menurut penelitian mereka pada 2026, kisah itu berkontribusi pada kesadaran berdoa, ungkapan syukur, dan kesabaran dalam bergaul. Nilai masuk lewat tiga jalan: perasaan anak terhadap tokoh, pengaitan pengalaman tokoh dengan pengalaman anak sendiri, dan penguatan nilai dalam kegiatan harian.
Hasil yang lebih terukur datang dari sebuah TK IT di Merangin. Sutiyana dan Wirdasari menjalankan penelitian tindakan kelas dua siklus dengan 15 anak. Skor perilaku akhlak naik dari 51,67% sebelum tindakan menjadi 68,61% pada siklus pertama dan 83,89% pada siklus kedua. Guru memadukan kisah dengan keteladanan dan pembiasaan, dibantu gambar atau boneka.
Teladan Menghubungkan Hati dengan Tindakan
Albert Bandura, pencetus teori belajar sosial, menjelaskan bahwa manusia mempelajari perilaku baru dengan mengamati model. Murid SD mengamati guru dan orang tua sepanjang hari, termasuk saat mereka tidak sedang mengajar.
Studi Maisarah dan rekan di Sekolah Rendah Integritas Teras Islam (SRITI) Al-Qawwam, Pulau Pinang, menunjukkan cara kerjanya. Guru menjadi model utama, murid meniru, dan peniruan itu memperkuat pembiasaan. Paduan keduanya membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual murid.
Guru yang mengajarkan kesabaran lalu membentak murid yang lambat memberi dua pelajaran yang bertentangan. Murid cenderung menyerap pelajaran yang mereka lihat. Orang tua menghadapi hal yang sama di rumah.
Kebiasaan Menguatkan Tindakan
Pembiasaan membentuk budaya sekolah. SRITI Al-Qawwam menyusun rutinitas harian sesuai tahap perkembangan murid, dari salam dan shalat berjamaah sampai tahfidz dan menjaga kebersihan.
Pembiasaan juga punya batas. Studi Karawang tadi menyimpulkan bahwa internalisasi nilai menuntut belajar reflektif yang melampaui pembiasaan. Murid yang mengulang gerakan tanpa memahami maknanya berisiko berhenti ketika guru berhenti mengawasi. Kisah dan teladan memberi murid alasan menjalani kebiasaan itu tanpa pengawasan.
Satu Pekan di Kelas MI
Saya mengusulkan alur berikut berdasarkan studi di atas. Satu pekan memuat satu nilai dan satu kisah, misalnya kesabaran dan kisah Nabi Ayyub.
1. Senin, kisah. Guru menceritakan kisah Nabi Ayyub dalam bahasa sederhana selama 10 sampai 15 menit, lalu bertanya: apa yang Nabi Ayyub lakukan saat sakit, dan kapan kamu pernah harus bersabar? Kelas rendah bisa memakai gambar atau boneka.
2. Selasa sampai Kamis, teladan. Guru menunjukkan kesabaran dalam kejadian nyata: menunggu giliran dengan tenang, menegur kesalahan tanpa membentak, mengucap syukur setelah menerima bantuan. Guru menyebut nama nilainya saat melakukannya, supaya murid mengaitkan perilaku itu dengan kisah hari Senin.
3. Setiap hari, kebiasaan. Murid menjalankan satu praktik kecil, misalnya membaca basmalah sebelum mengerjakan tugas sulit dan menulis satu kalimat syukur di buku catatan. Praktik itu tetap sama sepekan, lalu berganti bersama kisah berikutnya.
4. Jumat, refleksi dan rumah. Murid menceritakan satu momen saat mereka bersabar. Mereka membawa lembar singkat ke rumah, dan orang tua mengisinya bersama anak dengan satu contoh kesabaran yang mereka lihat. Refleksi dan kerja sama sekolah dengan keluarga adalah dua komponen yang menurut studi Karawang diperlukan untuk internalisasi nilai.
Di rumah, orang tua bisa menceritakan ulang kisah pekan itu saat makan malam dan mengucap syukur bersama setelah makan. Guru menilai hasilnya lewat catatan observasi: apakah murid berdoa tanpa disuruh dan apakah mereka menunggu giliran.
Bukti Masih Terbatas
Belum ada yang menguji alur ini. Studi yang saya pakai berskala kecil. Dua penelitian kisah melibatkan masing-masing 15 anak di PAUD dan TK, bukan di SD/MI. Penelitian di SRITI Al-Qawwam melibatkan satu kepala sekolah, dua guru, dan dua murid.
Di antara studi yang saya telaah, tidak satu pun menguji paduan kisah, keteladanan, dan pembiasaan di SD/MI dengan kelompok pembanding. Arah yang tampak masuk akal, dan penelitian lanjutan perlu mengujinya.
Mulai dari Satu Pekan
Guru Akidah Akhlak di MI bisa memulai dengan satu nilai, satu kisah, dan satu kebiasaan kecil selama satu pekan. Hasilnya tampak di luar jam pelajaran: murid berdoa tanpa disuruh, menunggu giliran, dan orang tua melaporkan perubahan di rumah. Guru yang mencatat perilaku itu selama empat pekan bisa menilai sendiri apakah paduan ini berjalan di kelasnya. (*)
_________
*) Penulis: Salsa Aulia Rahmawati, Mahasiswi Pendidikan Agama Islam, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
