![]() |
| Oleh: Siti Mukhrimah Siregar, Mahasiswi PAI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang |
Hariancendekia.com | Pukul 06.45, seorang anak kelas satu MI berhenti di gerbang, menunduk, lalu mencium tangan gurunya. Ia belum bisa menjelaskan arti rukun iman. Gerakan itu sudah menjadi kebiasaannya.
Banyak madrasah menjalankan rutinitas seperti ini: salam, tadarus, salat berjamaah. Sebagian orang tua dan guru meragukan apakah kebiasaan sekecil itu menyentuh iman anak. Saya berpendapat kebiasaan itu menguatkan iman anak usia sekolah dasar, asal orang tua dan guru memberi teladan dan menjelaskan alasannya dalam hubungan yang hangat.
Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dalam hadis riwayat Abu Dawud. Dengan ukuran itu, kejujuran, kesantunan, dan kemauan berbagi pada anak sudah termasuk pendidikan iman. Al-Qur'an memberi contoh lewat Luqman. Ia menasihati anaknya agar tidak menyekutukan Allah, menyuruhnya salat dan berbuat baik, lalu mengajarkan adab berjalan dan merendahkan suara (QS Luqman: 13–19). Tauhid, ibadah, dan adab datang dalam satu rangkaian.
Para ulama menunjukkan jalannya. Kajian atas Ihya' Ulumuddin mencatat bahwa metode pendidikan akhlak Al-Ghazali mencakup keteladanan dan pembiasaan. Ibn Miskawaih menyebut pembiasaan sebagai teknik utama membentuk akhlak. Hadis menghubungkan akhlak dengan iman, dan ulama menghubungkan pembiasaan dengan akhlak.
Riset psikologi menambahkan dua catatan. Pada 2010, peneliti Inggris Phillippa Lally dan rekan-rekannya meminta 96 orang dewasa mengulang satu perilaku sederhana setiap hari. Ada yang butuh 18 hari sampai perilaku itu terasa otomatis, ada yang butuh 254 hari, dan satu hari yang terlewat tidak merusak prosesnya. Penelitian itu tidak melibatkan anak, jadi angkanya tidak bisa dipakai untuk menebak lamanya anak SD membentuk kebiasaan.
Pada 1961, Albert Bandura menunjukkan lewat eksperimen bahwa anak prasekolah meniru perilaku agresif orang dewasa yang mereka tonton. Eksperimen itu menguji agresi, bukan kebaikan. Dugaan bahwa anak SD meniru kebaikan dengan cara serupa masuk akal, tetapi belum terbukti.
Saya juga belum menemukan studi kuantitatif yang kuat tentang pengaruh pembiasaan terhadap iman anak SD di Indonesia. Yang ada studi kasus. Sebuah penelitian di SD negeri di Banyuasin mencatat doa sebelum dan sesudah belajar, Asmaul Husna, serta infak dan sima'an Al-Qur'an setiap Jumat. Para peneliti menilai program seperti ini efektif, tetapi tidak ada sekolah pembanding tanpa program. Anggap temuan itu laporan para pelaku, belum ukuran dampak.
Di rumah, hadis riwayat at-Tirmidzi menyuruh orang tua mengajarkan salat kepada anak berusia tujuh tahun. Kata kerjanya mengajarkan. Orang tua bisa mulai dengan salat berjamaah pada waktu yang sama, dengan anak berdiri di samping mereka, lalu menambahkan doa sebelum makan dan salam saat masuk rumah.
Penelitian di kelas III sebuah SD di Cikarang melaporkan bahwa rutinitas berkata benar dan mengakui kesalahan meningkatkan kejujuran dan tanggung jawab siswa. Orang tua bisa melatihnya lewat contoh, misalnya meminta maaf kepada anak saat keliru.
Rumah tidak bekerja sendirian. Dua MI di Bandung Barat menggandeng orang tua lewat pertemuan rutin, konsultasi, kunjungan rumah, dan grup WhatsApp. Hambatannya, sebagian orang tua sibuk bekerja dan sebagian menyerahkan pendidikan akhlak kepada sekolah. Guru ikut menentukan. Guru yang datang tepat waktu dan salat berjamaah bersama siswa membuat ucapan dan perbuatannya sejalan.
Pembiasaan bisa berhenti pada gerakan. Di satu madrasah ibtidaiyah, peneliti menemukan pelajaran Akidah Akhlak masih banyak menyampaikan konsep dengan penerapan harian yang terbatas. Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menilai pendidikan agama sering menekankan doktrin dan rutinitas ketimbang spiritualitas, nilai, dan makna, seperti dilaporkan Antara pada April 2025.
Psikolog Richard Ryan dan Edward Deci menjelaskan lewat teori determinasi diri bahwa nilai tertanam penuh jika anak mendapat alasan yang bermakna, pilihan yang wajar, dan kedekatan dengan orang dewasa di sekitarnya. Orang tua dan guru bisa menjelaskan alasan satu kebiasaan dalam satu kalimat, lalu membiarkan anak memilih urutan atau waktunya.
Hadiah perlu ditimbang. Meta-analisis Deci dan rekannya atas 128 eksperimen menemukan bahwa hadiah nyata yang dijanjikan menurunkan motivasi intrinsik, dan efeknya lebih besar pada anak daripada mahasiswa. Eksperimen itu memakai tugas laboratorium, bukan ibadah, jadi saya membacanya sebagai peringatan, belum larangan. Sistem poin atau hadiah untuk salat layak dipikirkan ulang.
Usia anak juga berpengaruh. Peneliti di MI Jatirejo, Jombang, mencatat siswa kecil cenderung bermain dan terlambat salat duha, dan peneliti di Banyuasin mencatat fokus kelas bawah tidak stabil setelah istirahat. Untuk kelas satu sampai tiga, kegiatan yang pendek, berulang, dan dipandu guru lebih cocok.
Orang tua dan guru tidak perlu menyusun program besar. Pilih satu kebiasaan yang sesuai dengan usia anak, misalnya salam di pintu atau doa sebelum makan, dan lakukan pada waktu yang sama. Jelaskan alasannya dalam satu kalimat, jalankan sendiri di depan anak, dan beri tahu wali kelas atau orang tua murid supaya rumah dan sekolah menyampaikan pesan yang sama. Kalau semalam terlewat, lanjutkan hari ini.
Pembiasaan hanya satu jalan menguatkan iman anak. Pengajaran konsep, cerita keteladanan, doa, dan kedekatan dengan orang dewasa melengkapinya. Anak yang hari ini mencium tangan gurunya di gerbang akan bertanya alasannya suatu hari nanti. Guru dan orang tua yang sudah memberi contoh lewat kebiasaan sehari-hari punya bahan untuk menjawabnya. (*)
_________
*) Penulis: Siti Mukhrimah Siregar, Mahasiswi PAI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
