![]() |
| Oleh: Salma Hamida Fitra Aulia, Calon Kader PMII RSB |
Opini, Hariancendekia.com | Ketika ruang akademis dan sosial media semakin riuh oleh slogan kesetaraan, corak intelektual perempuan di dalam kampus justru perlahan semakin meredup. Ekspresi pemikiran mereka hanya disalurkan ke dalam kesibukan administratif, tanpa kedalaman gagasan. Beberapa dituntut mengejar nilai dan gelar semata, tanpa keberanian menantang realitas. Sebagian yang lain harus mengandalkan wacana dangkal dan hidup dalam bayang-bayang tradisi pemikiran maskulin yang mendominasi.
Beberapa perempuan di kampus lebih memilih mengistirahatkan pikirannya. Mereka melihat marjinalisasi intelektual sebagai pola rutinitas akademis yang mesti dijalani. Sebagian menyerap komodifikasi pendidikan menjadi bagian dari cara pandang mereka sendiri. Sebagian
lagi justru lebih menikmati perannya sekadar sebagai pelengkap kuota, hiasan seminar, atau sebatas pemanis ruang kelas.
Namun masih ada perempuan yang berusaha untuk melawan. Mereka membaca, berpikir kritis, dan menolak dibungkam. Mereka ingin mengungkap bagaimana ruang akademis masih sering kali menjadi tempat yang asing dan membatasi bagi pikiran sehat perempuan. Musuh utamanya
adalah mentalitas patriarki yang terselubung dalam dogma, serta mentalitas yang membatasi kapasitas berpikir perempuan dengan tatanan hierarkis dan penafsiran-penafsiran sempit atas
peran gender.
Menanti Pembebasan Intelektual
Sebagai rahim dari gagasan dan masa depan, perempuan di kampus harus keluar dari jebakan keheningan pemikiran ini. Ia mesti sadar, bahwa kepatuhan pada dogma akademis bukanlah sebuah kemutlakan. Pilihan untuk berpikir merdeka ada di tangannya, didasari dengan
kesadaran bahwa kualitas peradaban bertopang di bahu orang-orang yang berani berpikir kritis. Ia mesti bangkit dari perasaan tak berdaya yang ditimpakan kepadanya oleh tatanan yang paternalistik.
Namun, ini semua tergantung dari perempuan itu sendiri. Bisa dibilang, kunci dari kebangkitan intelektual kampus adalah perubahan di dalam kaca mata perempuan memandang kapasitas dunianya. Kaum perempuan akademisi bisa bekerja sama dengan gerakan-gerakan kritis lainnya. Namun, pengalaman dan perspektif perempuan dalam membedah ketimpangan
tetaplah sebuah pandangan yang unik, yang tak tergantikan oleh apa pun juga.
Menjadi perempuan intelektual berarti menjadi pemantik kesadaran zaman. Menjadi perempuan di ruang akademik juga berarti hidup dalam dilema. Ia disanjung atas pencapaian formalnya, namun gagasannya kerap kali dikesampingkan sepanjang pergulatan sejarah. Sudah waktunya,
dilema ini diakhiri. Kita perlu mendorong pembebasan dan pemulihan corak intelektual kaum perempuan di dalam kampus. (*)
_________
*) Penulis: Salma Hamida Fitra Aulia, Calon Kader PMII RSB.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
