![]() |
| Oleh: Muhammad Jauharin Nehru, Calon Kader PMII Al-Hikam |
Opini, Hariancendekia.com | Pendidikan modern sering kali terjebak dalam ironi: institusi yang sejatinya berfungsi memerdekakan pikiran justru menjadi alat penyeragaman pola pikir, mencetak manusia yang siap menjadi robot perbudakan. Di Indonesia, yang kerap diplesetkan secara satiris oleh publik sebagai "Konoha", realitas akademik saat ini dibayangi oleh komersialisasi, birokratisasi, dan mekanisasi pembelajaran. Lantas, bagaimana jadinya jika kampus Konoha yang sarat dengan beban pragmatisme ini tiba-tiba menjadi almamater bagi Paulo Freire, sang maestro pemikiran tentang pendidikan yang menindas dan pendidikan gaya bank?
Seandainya Freire berjalan menyusuri koridor kampus hari ini, ia akan menyaksikan bagaimana mahasiswa tidak lagi didorong untuk membedah realitas sosial, melainkan sekadar menabung angka dan mengumpulkan sertifikat kejuaraan. Pendidikan telah terperangkap dalam lima racun: hafalan mekanis, orientasi yang semata-mata berpusat pada ijazah, hilangnya rasa ingin tahu, kepatuhan buta terhadap otoritas, serta keterasingan dari dinamika kehidupan masyarakat.
Untuk meruntuhkan jeruji penjara pemikiran tersebut, Freire mengingatkan kita pada esensi mendasar proses belajar, yakni, "Pendidikan tidak mengubah dunia. Pendidikan mengubah manusia, dan manusialah yang mengubah dunia." — Paulo Freire
Memerdekakan Kembali Jiwa Akademik
Pendidikan harus dikembalikan pada hakikatnya. Pendidikan harus mendorong rasa ingin tahu dan kreativitas di segala bidang, sekaligus berlandaskan nilai-nilai kosmopolitan yang universal. Kampus tidak boleh berubah menjadi sekadar mesin pencetak tenaga kerja murah, tetapi harus menjadi laboratorium kemanusiaan yang mengasah kepekaan kritis mahasiswa terhadap ketimpangan dan ketidakadilan sosial.
Secara sistematis dan bertahap, lima racun pendidikan tersebut harus dilenyapkan melalui langkah-langkah berikut:
- Mengikis kepatuhan pasif dan menggantinya dengan dialog yang membangun kemandirian berpikir.
- Menghentikan komodifikasi pembelajaran agar ilmu pengetahuan kembali menjadi hak publik, bukan komoditas.
- Menghidupkan riset kontekstual yang menyentuh akar permasalahan masyarakat.
- Merobohkan sekat-sekat dogmatis demi menyerap nilai-nilai universal yang inklusif.
- Mengembalikan rasa ingin tahu (curiosity) sebagai penggerak utama dalam ruang kelas.
Yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya masa depan bangsa, melainkan juga jati diri peserta didik dan keberadaan bangsa Indonesia itu sendiri. Semoga hal ini menjadi perhatian kita bersama. (*)
_________
*) Penulis: Muhammad Jauharin Nehru, Calon Kader PMII Al-Hikam.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
