![]() |
| (Doc. Humas) Suasana seminar Sentuhan Humanis di Era Digital yang digelar DWP Sahabat Kampus UB. |
Pembicara seminar, Wiwin Lukitohadi, SH, M.Psi, CHRM, menyampaikan bahwa kampus modern sering terjebak pada capaian angka, peringkat, dan indikator kinerja, namun luput memperhatikan kondisi emosional baik mahasiswa maupun tenaga pendidik. “Ambisi akademik memang penting, tetapi tidak boleh menghilangkan sisi kemanusiaan. Banyak jiwa yang merasa redup di balik hiruk-pikuk perkuliahan,” ujarnya.
Wiwin menekankan bahwa di era kecerdasan buatan (AI), kemampuan manusia untuk berempati tidak bisa digantikan teknologi apa pun. Ia menyebut konsep Artificial Empathy (AE) sebagai bentuk keunikan manusia yang mampu membangun kedekatan emosional melalui sentuhan, pemahaman, dan tatapan mata. “Istilah memanusiakan manusia masih sangat relevan. Ini bukan sekadar slogan, tetapi prinsip yang harus dijaga dalam ekosistem kampus,” katanya.
Ia juga menyinggung tantangan kesehatan mental yang banyak dialami mahasiswa, terutama mereka yang datang dari luar daerah. Menurutnya, tekanan akademik, tuntutan adaptasi, hingga manajemen waktu dan finansial kerap menimbulkan beban psikologis. “Dalam sebuah kajian, 1 dari 3 mahasiswa di dunia memiliki prevalensi gangguan kesehatan mental. Ini harus menjadi perhatian kita bersama,” ungkapnya.
Dengan jumlah mahasiswa aktif UB yang mencapai sekitar 70.000 orang, Wiwin menyebut bahwa 70 persen di antaranya adalah perempuan. Ia menilai perempuan memiliki karakteristik alami yang dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih empatik. “Kepekaan, intuisi yang kuat, dan kedalaman saat mendengar adalah keistimewaan yang diberikan kepada perempuan. Ini bukan kelemahan, melainkan kelebihan untuk menjadi emotional leader,” pungkasnya.
Program DWP Sahabat Kampus UB diharapkan dapat menjadi ruang inspiratif yang menumbuhkan kepedulian, meningkatkan kesadaran empatik, serta memperkuat nilai kemanusiaan di lingkungan akademik. Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi tempat pencarian ilmu, tetapi juga ruang tumbuh bagi kesehatan mental dan kesejahteraan seluruh sivitas akademika.
Semangat humanis tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya menghilangkan hubungan emosional antarindividu. Di tengah era digital yang serba cepat, empati tetap menjadi pondasi penting bagi dunia pendidikan. (Red)
