zmedia

Gelar Sarjana yang Disalahpahami Masyarakat Indonesia sebagai Sarana untuk Mendapatkan Pekerjaan

Penulis: Moh. Harir
HARIANCENDEKIA, OPINI - Gelar sarjana pada dasarnya merupakan simbol bahwa seseorang telah menempuh proses pendidikan akademik di perguruan tinggi. Gelar ini menjadi bukti bahwa individu tersebut pernah melewati proses belajar, penelitian, dan pengembangan diri dalam bidang tertentu. Karena pada hakikatnya, makna sejati pendidikan adalah proses pencarian ilmu dan pembentukan karakter yang memiliki daya pikir kritis.

Namun, dalam praktiknya gelar sarjana sering direduksi menjadi sekadar syarat administrasi untuk melamar pekerjaan. Banyak di Indonesia, orang berkuliah dengan motivasi utama agar setelah lulus dapat memiliki gelar sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Tidak sedikit pula lulusan sarjana yang merasa gagal ketika belum memperoleh pekerjaan sesuai harapan, seolah-olah gelar yang diperoleh tidak memiliki nilai lain di luar dunia kerja. Pandangan sempit seperti ini menyebabkan pendidikan tinggi kehilangan makna idealnya sebagai sarana pengembangan ilmu dan kemanusiaan.

Fenomena ini terlihat jelas ketika banyak mahasiswa yang memilih jurusan bukan berdasarkan minat dan bakat, melainkan karena prospek kerja yang dianggap lebih menjanjikan. Padahal hakikatnya pendidikan tinggi bukan semata-mata bertujuan untuk mencetak tenaga kerja, melainkan untuk membentuk manusia yang berilmu, berkarakter, dan memiliki daya pikir kritis. Menurut Bagus Mulyadi, gelar sarjana adalah untuk menciptakan lapangan kerja, bukan prasyarat untuk mendapatkan pekerjaan. Karena sejarahnya di Oxford, untuk mendapatkan gelar baccalaureate atau sarjana harus menempuh jenjang pendidikan Liberal Arts yang di dalamnya mahasiswa akan belajar retorika, logika, dan tata bahasa. Maka dari itu, gelar sarjana merupakan bukti bahwa seseorang pernah bersekolah dan berpikir.

Oleh karena itu, penting untuk menegaskan kembali bahwa gelar sarjana bukanlah jaminan pekerjaan, melainkan tanda bahwa seseorang telah menempuh proses pendidikan, memperluas wawasan, serta mengasah kemampuan berpikir dan bertindak secara ilmiah. Pergeseran makna ini perlu disadari agar masyarakat tidak menilai keberhasilan pendidikan hanya dari aspek ekonomi, tetapi juga dari seberapa jauh pendidikan mampu membentuk manusia yang berilmu dan berdaya guna bagi lingkungan sekitarnya. (*)

*) Penulis: Moh Harir.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
ADVERTISEMENT Seedbacklink