zmedia

Konferensi Internasional ELT 2025 FKIP Unisma Soroti Teori Connectivism untuk Hadapi Tantangan Pembelajaran Bahasa Inggris di Era Digital

(Doc. Istimewa) Foto bersama panitia Konferensi Internasional ELT 2025 FKIP Unisma di Aula Lantai 7 Pascasarjana Unisma.
HARIANCENDEKIA, MALANG - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unisma menggelar The 6th International Conference on English Language Teaching (ICON-ELT) 2025 pada 18-19 November 2025 di Aula Lantai 7 Unisma. Forum akademik ini menghadirkan peneliti dan pakar pendidikan dari Indonesia, Australia, Taiwan, Thailand, dan Malaysia untuk membahas pembelajaran bahasa Inggris di tengah perkembangan teknologi digital.

Konferensi tahun ini fokus pada Connectivism sebagai tema utama. Teori tersebut menekankan proses belajar sebagai upaya menghubungkan berbagai sumber informasi, kemampuan melihat keterkaitan antar bidang, serta menjaga konektivitas pengetahuan sebagai bagian dari pembelajaran sepanjang hayat. Visualisasi prinsip-prinsip tersebut ditayangkan di layar utama sebagai pijakan diskusi akademik.

Chairperson Konferensi, Ika Hidayati, menegaskan bahwa transformasi digital sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem pendidikan, termasuk dalam pengajaran bahasa Inggris.

“Konferensi ini kami selenggarakan mengikuti perkembangan era digital. Harapannya, apa yang kita pelajari hari ini membuka wawasan bahwa pembelajaran bahasa Inggris sangat terbantu oleh teknologi,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa teknologi kini tidak lagi berfungsi sebagai pelengkap, melainkan menjadi elemen fundamental dalam proses pembelajaran, mulai dari pencarian referensi, kolaborasi akademik, hingga publikasi ilmiah.

Menurutnya, FKIP Unisma membawa agenda strategis dalam konferensi ini, yaitu peningkatan kualitas publikasi dan kompetensi akademik peserta.

“Target kita bukan hanya konferensi, tetapi juga mendorong peserta mencapai publikasi terindeks Scopus, jurnal SINTA, serta sertifikasi kemampuan bahasa Inggris seperti B1 CEFR,” tambahnya.

Ia menambahkan, panitia menyediakan pendampingan agar setiap artikel ilmiah yang dipresentasikan dapat terbit pada jurnal bereputasi.

Meski demikian, Ika mengingatkan bahwa integrasi digital tetap memerlukan kontrol dan etika akademik.

“Tidak semuanya bisa digantikan teknologi. Tetap harus ada kombinasi antara metode digital dan metode tradisional,” tegasnya.

Ia menyebut sejumlah perangkat digital yang kini telah menjadi bagian dari pembelajaran ELT, seperti Learning Management System (LMS), video conference, aplikasi pembelajaran bahasa, perpustakaan digital, hingga perangkat bantu penulisan berbasis kecerdasan buatan.

Konferensi ini turut menghadirkan pembicara lintas negara dengan fokus inovasi pembelajaran. Kehadiran para pembicara internasional dan kolaborasi antar universitas ini memperlihatkan posisi Unisma yang semakin kuat dalam jejaring akademik global, sekaligus memperkuat upaya pengembangan pendidikan bahasa Inggris di Indonesia di tengah percepatan teknologi. (Dzu/Red)
ADVERTISEMENT Seedbacklink