HARIANCENDEKIA, MALANG - DPM Universitas Islam Malang (Unisma) terus berinovasi dalam pelaksanaan pesta demokrasi mahasiswa. Tahun ini, Pemilihan Raya Mahasiswa Unisma akan diselenggarakan dengan sistem E-Vote yang memungkinkan mahasiswa memberikan hak suaranya secara digital. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi pemilih sekaligus memperkuat transparansi serta efisiensi proses pemilihan.
Sebagai langkah persiapan, pada Selasa, 5 November 2025, telah dilaksanakan pelatihan dan uji coba pertama sistem E-Vote Pemira. Kegiatan tersebut melibatkan Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (DPM-F), Komisi Pemilihan Umum Fakultas (KPU-F), serta Komisi Pemilihan Umum Pusat (KPU-P) Unisma.
Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman teknis terkait mekanisme penggunaan sistem E-Vote, mulai dari proses login pemilih, verifikasi data, hingga tahapan perhitungan suara secara digital. Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga melakukan simulasi pemungutan suara untuk memastikan sistem berjalan dengan lancar, aman, dan bebas dari kesalahan teknis.
Ketua KPU-P Unisma menyampaikan bahwa penerapan sistem E-Vote merupakan bagian dari komitmen universitas untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi serta mendukung proses demokrasi kampus yang lebih modern dan efisien.
“Melalui sistem ini, kami berharap Pemira tahun ini dapat berjalan lebih cepat, akurat, dan transparan. Selain itu, E-Vote juga memudahkan mahasiswa untuk berpartisipasi tanpa harus datang langsung ke TPS,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan DPM-F menambahkan bahwa pelatihan dan uji coba yang dilakukan menjadi langkah awal penting dalam memastikan kesiapan seluruh penyelenggara Pemira di tingkat fakultas maupun universitas.
"Kami ingin memastikan semua pihak memahami sistem ini agar pada hari pelaksanaan nanti tidak terjadi kendala teknis yang berarti,” tuturnya.
Pemira Unisma dengan sistem E-Vote ini dijadwalkan akan berlangsung dalam waktu dekat. Dengan dukungan teknologi digital dan partisipasi aktif seluruh mahasiswa, Pemira 2025 diharapkan dapat menjadi momentum pembelajaran demokrasi yang inklusif, cerdas, dan berintegritas di lingkungan kampus. (Red)
