zmedia

Agak Laen 2 dan Cara Bahasa Film Membentuk Cara Kita Ngobrol

Rafi Anas Zhariif, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
HARIANCENDEKIA, OPINI - Film Agak Laen 2: Menyala Pantiku! Baru tayang beberapa hari, tetapi sudah langsung menyedot perhatian publik. Penonton berbondong-bondong memenuhi bioskop hingga film ini menjadi salah satu film lokal dengan pertumbuhan penonton tercepat di awaltahun. Fenomena ini tak hanya menarik dari sisi hiburan, tetapi juga dari sisi linguistik, bagaimana sebuah film dapat mempengaruhi cara orang berbicara, bercanda, dan membangun hubungan sosial.

Sejak hari pertama, lini masa dipenuhi potongan dialog dan istilah yang muncul dalam film. Gaya bicara pada karakternya yang santai, penuh plesetan, dan terasa dekat dengan keseharian membuat penonton cepat melebur dalam dunia film tersebut. Bahasa yang digunakan tidak berjarak, ia terdengar seperti percakapan saat nongkrong, bahasa chat, atau bahkan gaya bicara yang sering muncul di konten-konten video pendek. Karena itu, film ini terasa lebih seperti teman ngobrol daripada tontonan yang jauh dari kehidupan yang nyata.

Dari perspektif linguistic, bahasa dalam film bekerja sebagai “penanda identitas kelompok” Ketika seseorang menirukan dialog atau jargon dari film, ia sebenarnya sedang memberi sinyal bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas film yang sama. Fenomena ini disebut language-based-affiliation, keterikatan berbasis bahasa. Penggunaan kata-kata tertentu, intonasi yang khas, atau cara bercanda yang meniru adegan film membangun rasa kebersamaan, bahkan di antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal.

Selain itu bahasaomedi dalam film memiliki fungsi sosial yang kuat. Ia mampu mencairkan suasana,membuka percakapan, dan membantu orang merasa lebih dekat satu sama lain. Ketika dialog film tiba-tiba muncul dalam obrolan kelas, grup pertemanan, atau ruang kantor, itu bukan sekadar lelucon spontan. Itu adalah bukti bahwa humor dapat menjadi jembatan antar manusia. Bahasa tidak hanya alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga alat untuk membangun kehangantan emosional.

Namun, perubahan gaya bahasa akibat film populermemang perlu disikapi secara seimbang. Bahasa gaul, jargon film, dan plesetan kreatif memang memperkaya komunikasi sehari-hari.

Tetapi tidak semua gaya bahasa tersebut cocok dipakai dala konteks formal. Pengulangan kata hiperbolis, nada cengengesan, serta ekspresi khas film bisa terasa tidak sesuai saat digunakan di ruang akademik, ruang layanan public, atau situasi professional. Masalahnya bukan benar atau salah, tetapi soal kemampuan menempatkan diri secara komunikatif, sebuah kecakapan yang dalam lingusitik disebut register awareness.

Dalam kerangka kode etik jurnalistik, membahas film dan gaya bahasanya harus dilakukan secara proposional dan tidak merugikan pihak mana pun. Fakta bahwa Agak Laen 2 sukses secara komersial adalah informasi publik yang dapat diverifikasi. Namun intrepeksi humor, selera komedi, dan gaya percakapannya tentu bersifat subjektif. Ada penonton yang merasa film ini sangat menghibur, ada juga yang merasa humornya kurang pas. Keberagaman pandangan itu wajar, asalkan tidak dilakukan dengan menghakimi atau memberikan klaim-klaim berlebihan yang tidak berbasis data.

Menariknya, fenomena bahasa film tidak hanya berhenti di penonton dewasa. Banyak anak muda yang spontan mengadopsi intonasi unik pada karakternya. Di sini, media populerberfungsi sebagai linguistic accelerator, pemicu perubahan bahasa yang cepat. Kata-kata yang sebelumnya tidak ada akhirnya muncul sebagai lelucon baru, lalu menyebar secara viral melalui media sosial. Perubahan ini menunjukkan bahwa bahasa adalah organisme hidup yang mengikuti arus budaya, terutama budaya digital yang bergerak serba cepat.

Pengaruh film pada bahasa juga memperlihatkan bagaimana humor berperan sebagai alat bertahan hidup sosial. Dalam situasi masyarakat yang semakin padat tekanan, lelah menghadapi rutinitas, dan sering dibombardir berita negatif, film komedi menjadi ruang aman untuk bernapas. Ketika penonton menirukan dialog lucu setelah keluar dari bioskop, itu pertanda bahwa bahasa dapat menjadi alat pelepas stres. Secara tidak langsung, film menyediakan ruang emosi yang membantu orang merasa lebih ringan.

Pada akhirnya, fenomena Agak Laen 2 meningatkan kita bahwa bahasa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jembatan sosial. Ketika sebuah film mampu membuat orang bercanda dengan gaya yang sama, meniru intonasi tertentu, atau menciptakan makna baru dari satu kata sederhana, itu berarti film tersebut telah menyentuh ruang sosial yang lebih dalam. Di situlah kekuatan komedi berada pada percakapan kecil steleah film beakhir, saat orang saling tertawa, saling meniru, dan merasa menjadi bagian dari cerita yang sama. (*)
__________
*) Penulis: Rafi Anas Zhariif, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
ADVERTISEMENTseedbacklink