![]() |
| Salwa Mutiara Bilbina, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah. |
Salah satu kekuatan utama yang membuat novel terasa begitu hidup adalah kemampuan menyajikan interaksi yang terasa autentik di antara para tokohnya, dan penulis memainkan variasi gaya bahasa yang membuat setiap obrolan di dalamnya terasa seperti potongan kehidupan yang biasa kita temui di berbagai sudut kota.
Novel ini berawal pada titik terendah seorang pria bernama Ale yang didiagnosis depresi akut oleh psikiater, sampai di batas akhir ia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi dan tidak ada alasan lagi untuk ia terus melangkah. Di Tengah rasa putus asa yang mendalam, Ale merencanakan sebuah “perpisahan” yang ia tandai dengan keinginan menikmati seporsi mie ayam terakhir. Namun, rencana yang terlihat sederhana itu justru membawanya ke dalam rentetan peristiwa dan pertemuan tak terduga dengan berbagai orang yang memiliki latar belakang, lingkungan, dan gaya bahasa yang beragam.
Secara sosiolinguistik, interaksi Ale dengan orang-orang dalam novel ini mencerminkan betapa dinamisnya bahasa manusia. Bahasa bukan sekedar alat tukar informasi, melainkan identitas sosial seseorang, pengalaman pahit seseorang, dan lingkungan tempat seseorang dibesarkan. Dalam novel ini kita melihat setiap karakter membawa identitas suara mereka sendiri, ada yang menggunakan dialek lugas dan tajam dan ada pula yang menggunakan tutur kata yang lebih tertata.
Dalam perjalanan Ale, setiap karakter membawa identitas suara mereka sendiri. Brian memperlihatkan kontras yang tajam, dapat kita rasakan ketegasan dalam dialek lugas yang tajam saat seseorang menyentak kesadaran Ale “Hilangkan sikap pengecut lo itu... Berdiri tegap dan lawan seakan-akan itu Adalah cara lo bisa tetap hidup dan gak mati. Lagian apa lo udah lupa?! Orang yang takut pisau itu Cuma orang-orang yang pengen hidup, sedangkan lo itu pengen mati!”. Dilihat dari gaya bicaranya yang langsung kepada inti atau disebut juga bald on record, penggunaan bahasa yang blak-blakan ini bisa jadi untuk menyadarkan karakter Ale. Berbeda dengan itu, novel ini juga menawarkan ketenangan lewat tutur kata yang lebih tertata dan penuh empati. Seperti : “Jangan pernah menyesali semua pengalaman buruk yang terjadi di hidup bung… itu semua yang justru kelak akan menjadikan hidup bung seimbang”. Jika bahasa blak-blakan tadi bertujuan untuk tamparan bagi Ale agar sadar, maka tutur kata yang bijak ini berfungsi sebagai pelukan hangat. Penggunaan sapaan “Bung” dan kalimat tertata rapi menunjukan bahwa dalam interaksi sosial, kita juga butuh kelembutan untuk menyembuhkan luka dan memberikan harapan baru.
Membaca seporsi mie ayam Sebelum Mati pada akhirnya menyadarkan kita bahwa bahasa Adalah alat utama untuk menyentuh sisi kemanusian seseorang, meski dengan gaya bicara yang berbeda. Brian Khrisna mengingatkan bahwa tentang komunikasi yang jujur, baik berupa teguran keras maupun pesan yang menenangkan. Mampu menyentuh titik terdalam seseorang dalam memandang hidupnya Kembali. Hal itu hadir secara nyata, sama sederhananya dengan kehangatan dari seporsi mie ayam yang dinikmati oleh seseorang yang sedang mencari alasan untuk Kembali melangkah. (*)
__________
*) Penulis: Salwa Mutiara Bilbina, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
