![]() |
| Fajry Muhammad Syah, Mahasiswa UIN Syarief Hidayatullah Jakarta. |
Namun, ketika dilihat dari sudut pandang linguistik, bahasa gaul justru merupakan bagian dari dinamika bahasa yang sehat. Bahasa tidak pernah statis, melainkan berubah mengikuti kebutuhan penuturnya, perkembangan budaya, teknologi, dan pola interaksi di masyarakat. Bahasa gaul hanyalah salah satu wujud perubahan itu.
Dalam linguistik, kemunculan bahasa gaul dianggap sebagai variasi bahasa bukan penyimpangan. Ia dipakai dalam situasi santai, percakapan keseharian, atau ruang digital yang sifatnya informal. Bahasa gaul berfungsi untuk membangun kedekatan, menandai identitas kelompok, hingga menciptakan rasa kebersamaan. Ketika seseorang memakai kata tertentu yang hanya dimengerti komunitasnya, ia sedang mengirim sinyal sosial: “Aku bagian dari kelompok ini.” Itu sebabnya bahasa gaul bisa berubah cepat, karena mengikuti tren identitas yang juga cepat bergerak.
Bahasa atau Tren dalam Linguistik
1. Code Mixing dan Code Switcing
Code mixing dan Code switching adalah penggabungan 2 bahasa menjadi satu seperti : “aku better pake ini si” atau “I wanna go now. kalo tidak, aku bisa telat” yang membedakannya adalah code mixing itu penggabungan yang hanya menyisipkan kata saja. Kalau code switching itu penggabungan 2 bahasa per-kalimat.
2. Internet Slang
Internet slang adalah beberapa kata yang disingkatkan seperti: “on the way” menjadi “otw”, gapapa menjadi gpp dll.
Simplifikasi Struktur atau Efisiensi Kalimat
Simplikasi struktur atau efisiensi kalimat adalah mengefisiensi kalimat menjadi menjadi lebih ringkas dan mudah diucap seperti: “aku tidak apa apa” menjadi “gapapa”, “aku tidak mengetahuinya” menjadi “gatau”.
4. Meme Language
Meme language adalah kosakata atau kalimat yang lahir dari jokes atau humor seperti “batre sosial gua abis ni” itu yang artinya energi berinteraksi dengan manusia telat habis, “sigma boy” yang artinya orang yang keren, kalem, cool.
Tren dalam linguistik ini sering dikritik, juga bukan hal baru dalam kajian bahasa. Fenomena ini juga wajar terjadi di masyarakat bilingual seperti Indonesia. Selama seseorang bisa membedakan kapan memakai bahasa baku dan kapan memakai bahasa santai, pencampuran bahasa tidak merusak kaidah. Justru, keterampilan itu menunjukkan bahwa seseorang bahwa seseorang memiliki kemampuan berbahasa yang fleksibel dan mudah menyesuaikan diri secara linguistik.
Bahasa Gaul ini Bisa Memiliki Dampak Positif dan Negatif
Sisi positif, Menambah kosakata baru
Dengan adanya bahasa gaul, bahasa menjadi bervariasi dan tidak berpatokan kepada bahasa yang lama. Ini menandakan bahwa bahasa itu berkembang.
Membuat obrolan lebih mudah dan cepat
Banyak istilah gaul berbentuk singkatan atau kata yang lebih pendek sehingga memudahkan orang dalam berpesan lebih cepat, terutama pada chat atau media sosial.
Sisi negatif, Bahasa baku jarang dipakai
Sering memakai bahasa gaul dapat membuat orang tidak terbiasa dengan bahasa formal saat dibutuhkan, seperti kantor atau sekolah.
Orang beda generasi bisa salah paham
Istilah yang sering digunakan anak muda biasanya hanya dipahami oleh anak mud aitu saja, sehingga orang yang beda generasi bisa salah mengartikan dan kebingungan.
Salah penggunaan dalam lingkup formal
Bahasa gaul dianggap tidak tepat atau tidak sopan jika dibawa ke ranah formal--seperti, lamaran, pidato, dll.
Umur Tren Pendek
Banyak istilah atau bahasa gaul yang hanya tren sebentar sebelum diganti tren baru, sehingga bisa membingungkan dan tertinggal.
Namun secara keseluruhan, dari perspektif linguistic, bahasa gaul bukanlah ancaman. Ia adalah tanda bahwa bahasa Indonesia tetap hidup, berkembang, dan mampu beradaptasi dengan zaman. Setiap generasi selalu punya bahasa gaulnya tersendiri sejak dahulu. Bedanya, sekarang internet membuat penyebarannya jauh lebih cepat.
Jadi, apakah bahasa gaul merusak atau adaptif? Jawabannya jelas, bahasa gaul adalah bentuk adaptasi linguistic dan yang terpenting adalah kemampuan menempatkannya di konteks yang tepat. (*)
*) Penulis: Fajry Muhammad Syah, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
