zmedia

Momen Anies Baswedan Bacakan Dongeng Anak-Anak Korban Banjir di Aceh Tamiang

Zahwa Husnayya Abdullah, Mahasiswa PBA UIN Syarif Hidayatullah.
HARIANCENDEKIA, OPINI - Akhir-akhir ini beredar di media sosial video yang diunggah oleh Anies Baswedan di akun Instagram pribadinya @aniesbaswedan, Selasa (9/12/2025) “Dongeng dari tepi Sungai Tamiang, Dusun Landuh, Aceh,” tulis Anies dalam keterangan postingannya. Dalam postingan tersebut, mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan mendatangi lokasi bencana di Aceh. Anies menemui dan berinteraksi dengan para pengungsi di Dusun Landuh, Aceh Tamiang. Bukan hanya menemui saja, tetapi Anies juga membacakan dongeng pada anak-anak korban banjir bandang tersebut. Dalam momen itu, Anies Baswedan tampak membacakan sebuah dongeng yang mengandung nilai moral, khususnya mengenai pentingnya bersikap jujur.

Ketika Anies Baswedan membacakan dongeng kepada anak-anak korban banjir bandang di Aceh Tamiang, sebagian orang menilainya sebagai tindakan empati dari seorang tokoh publik. Tetapi dari sudut pandang linguistik ini bukanlah hal yang remeh, momen sederhana itu menyimpan dinamika bahasa yang jauh lebih kompleks dan mendalam. Di balik kisah fabel yang disampaikan, sebenarnya berlangsung berbagai proses mulai dari pemulihan psikologis atau kondisi mental anak-anak, pembentukan kembali rasa diri dan identitas mereka, hingga upaya menata ulang makna atas pengalaman pahit yang baru saja mereka alami.

Kita sering menganggap mendongeng hanya kegiatan menceritakan kisah yang tidak nyata dan terdapat nilai moral saja. Akan tetapi, dalam kajian linguistik, mendongeng bukan sekadar aktivitas membacakan cerita, tetapi juga sebuah tindak tutur sosial, sebuah peristiwa berbahasa yang menyatukan unsur suara, intonasi, ekspresi wajah, pola interaksi, hingga tata naratif yang digunakan untuk membangun kedekatan emosional antara pembaca atau pencerita dongeng dengan pendengar. Bagi anak-anak yang baru mengalami kejadian traumatis seperti banjir bandang yang terjadi hingga merusak rumah dan lingkungan mereka, gaya bahasa yang pelan, berirama, serta disampaikan dengan penekanan tertentu berfungsi sebagai penenang yang mampu menghadirkan rasa aman, hampir menyerupai dengan terapi psikologis.

Salah satu aspek paling penting adalah bahasa yang ditujukan kepada anak-anak. Secara ilmiah, jenis bahasa ini ditandai dengan nada yang lebih tinggi, tempo yang lebih lambat, dan pengulangan yang konsisten. Ketika Anies mendongeng dengan gaya seperti demikian, ia bukan hanya menyampaikan cerita, tetapi juga menyampaikan pesan nonverbal. Studi linguistik menunjukkan bahwa pola intonasi seperti ini mampu menurunkan kecemasan anak dan meningkatkan rasa keterhubungan sosial.

Melihat tindakan Anies dalam konteks pascabencana, dongeng bisa berfungsi sebagai metafora pemulihan. Tokoh-tokoh dalam dongeng yang berjuang, bertahan, dan menemukan solusi, menciptakan kerangka kognitif yang membantu anak melihat bahwa pengalaman pahit tidak selalu berarti akhir dari segalanya. Dari pandangan ahli bahasa, akan melihat momen Anies Baswedan mendongeng sebagai upaya membangun kembali struktur makna yang sempat runtuh karena bencana. Bahasa menjadi jembatan antara trauma dan juga harapan.

Yang menarik juga, momen ini menunjukkan bagaimana seorang tokoh publik menggunakan bahasa dalam situasi yang bisa disebut sedang tidak baik. Dalam linguistic sosial, ada konsep yang disebut dengan empati komunikasi yaitu kemampuan untuk memilih bentuk bahasa yang tepat  untuk konteks emosional tertentu. Membaca dongeng, dibandingkan dengan memberi pidato, adalah pilihan strategi komunikasi yang menunjukkan kepekaan terhadap kondisi psikologis pendengar. Karena bahasa yang digunakan adalah bahasa kedekatan.

Oleh karena itu, menempatkan fokusnya yaitu bukan pada sosok Anies Baswedan sebagai figure politik, melainkan pada bagaimana tindak bahasanya menciptakan ruang yang terasa aman bagi anak-anak. Dalam kondisi pascabencana, pemulihan bukan hanya soal bantuan logistik, tetapi juga mencakup perbaikan kembali alur cerita hidup, dan rasa normalitas.

Melalui dongeng, Anies tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi turut menegaskan bahwa anak-anak memiliki hak untuk merasa tenang, didengar, dan dilindungi. Ia menawarkan bahasa sebagai tempat beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk bencana yang terjadi. Dari sudut pandang linguistik, inilah yang membuat momen tersebut istimewa. Pada akhirnya, tindakan mendongeng itu menunjukkan bahwa pemulihan sosial dapat dimulai dari sesuatu hal yang kecil dan tampak sederhana yaitu suara yang pelan, intonasi yang perlahan namun hangat, dan kata-kata yang membangkitkan optimism. Bagi pandangan ahli bahasa, momen tersebut menjadi penegasan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sarana menyampaikan pesan, tetapi juga mampu bekerja sebagai alat penyembuhan dari trauma. (*)
__________
*) Penulis: Zahwa Husnayya Abdullah, Mahasiswa PBA UIN Syarif Hidayatullah.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
ADVERTISEMENTseedbacklink