![]() |
| Nabila Yuliana, Mahasiswa Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. |
Sebagai mahasiswa, saya sendiri merasakan bagaimana bahasa gaul membentuk cara saya berkomunikasi. Kadang saya menyadari, percakapan sehari-hari saya bersama teman-teman sudah tercampur oleh gaya bahasa khas internet. Rasanya seperti ada "identitas" yang otomatis terbentuk hanya karena kita mengikuti ritme bahasa yang sedang tren di media sosial. Fenomena ini wajar terjadi, karena banyak anak muda yang menggunakan bahasa gaul bukan hanya karena sekedar ikut-ikutan saja, tetapi untuk menunjukkan kedekatan. Mereka merasa bahwa bahasa gaul dapat membuat percakapan lebih cair dan tidak terlalu formal.
Bahasa gaul bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga soal jaga image. Ketika seseorang menggunakan istilah tertentu, orang lain langsung bisa menebak ia bagian dari kelompok seperti apa; anak Jaksel, anak Tiktok, gamer, atau bahkan pecinta K-Pop. Oleh karena itu, bahasa juga menjadi penanda identitas yang jelas tanpa harus kita jelaskan panjang lebar. Namun, bahasa gaul juga dapat membawa dampak negatif seperti: membuat kita gagap saat harus berbicara atau menulis di situasi formal yang pada akhirnya dapat mengurangi kredibilitas profesional kita, dan ketika kita terlalu terbiasa mengabaikan kaidah tata bahasa dan ejaan dalam bahasa gaul bisa berpotensi mengikis kualitas bahasa Indonesia kita yang baku.
Di sisi lain, bahasa gaul secara tidak langsung menunjukkan bahwa anak muda Indonesia sangatlah kreatif. Muncul istilah-istilah baru yang unik dan lucu setiap tahunnya, bahkan beberapa menjadi tren nasional. Kekreatifan itulah yang menjadi tanda bukti bahwa generasi muda terus berinovasi menciptakan gaya komunikasi mereka sendiri. Bahasa gaul menjadi semacam kode rahasia yang menyatukan satu komunitas, mempercepat aliran informasi, dan membuktikan bahwa anak muda mampu menciptakan budaya lisan yang otentik dan berbeda dari generasi sebelumnya. Bahasa gaul membuat media sosial terasa hidup dan dekat sehingga anak muda menjadikan media sosial sebagai ruang untuk bebas mengekspresikan diri.
Pada akhirnya, bahasa gaul akan selalu berubah mengikuti budaya internet yang bergerak cepat. Hari ini kita memakai istilah tertentu, besok mungkin sudah muncul istilah baru yang lebih menarik. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa gaul bukan hanya sekedar alat komunikasi, tetapi juga cerminan cepat dari gaya hidup digital dan dinamika sosial kita, di mana setiap generasi muda seolah punya “kamus rahasia” mereka sendiri yang hanya berlaku untuk periode waktu tertentu. Ini mencerminkan bagaimana anak muda beradaptasi dengan arus informasi yang deras, di mana platform digital seperti Instagram atau Tiktok menjadi laboratorium bahasa yang hidup.
Yang terpenting, kita boleh mengikuti tren tetapi tetap mampu menempatkan diri. Bahasa gaul itu seperti bumbu, boleh dipakai tapi jangan sampai jadi menu utama. Kita bisa menikmati bahasa gaul tanpa melupakan kapan harus menggunakan bahasa formal.
Intinya, kita harus tahu kapan harus pakai jas dan kapan harus pakai jaket. Jangan sampai karena terlalu asyik menggunakan bahasa gaul, kita gagal menyampaikan maksud penyampaian hanya karena diksi yang tidak nyambung dengan konteks formal.
Karena pada dasarnya, apapun bentuk bahasa yang kita gunakan adalah cermin siapa diri kita dan bagaimana kita ingin dikenal oleh orang lain. Jadi, setiap kata dan gaya bahasa yang kita pilih berfungsi sebagai kartu nama linguistik yang secara otomatis memberi label kepada kita, menentukan apakah kita akan dipandang sebagai individu yang akademik, easy-going, kritis, atau bahkan eksklusif. (*)
__________
*) Penulis: Nabila Yuliana, Mahasiswa Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
