![]() |
| Nachya Khoirunnisa, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. |
Hal ini terasa sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Meski sama-sama belajar bahasa Arab, cara kita mengucapkannya sering kali berbeda-beda, tergantung latar belakang daerah dan bahasa orang tua masing-masing. Alhasil, lahirlah “bahasa Arab rasa Nusantara” yang justru menarik untuk diamati dari sudut pandang linguistik.
Misalnya, mahasiswa dengan latar belakang Jawa sering kali berbicara bahasa Arab dengan intonasi yang lebih halus dan datar. Pengucapan huruf tegas seperti ق atau ط terkadang terdengar lebih lembut karena terbiasa dengan pola bunyi bahasa Jawa. Berbeda dengan mahasiswa dari suku Batak, yang cenderung memiliki tekanan suara lebih kuat, sehingga pengucapan huruf-huruf tebal dalam bahasa Arab terdengar lebih jelas dan tegas.
Mahasiswa berlatar belakang Sunda juga memiliki ciri tersendiri. Logat mereka sering terdengar ringan, cepat, dan mendayu, namun kadang kesulitan membedakan bunyi konsonan tertentu yang tidak terdapat dalam bahasa Sunda. Sementara itu, mahasiswa dari wilayah Bugis atau Makassar biasanya memiliki ritme bicara yang cepat dan intonasi naik-turun yang cukup khas, sehingga bahasa Arab yang diucapkan terdengar lebih dinamis.
Dalam kajian linguistik, perbedaan ini berkaitan dengan fonologi dan interferensi bahasa. Bahasa pertama yang sudah melekat sejak kecil memengaruhi cara lidah memproduksi bunyi bahasa kedua. Karena itu, meskipun struktur kalimat sudah benar secara nahwu dan sharaf, logat lokal tetap bisa muncul dalam pelafalan.
Sayangnya, logat sering disalahartikan sebagai kesalahan. Tidak jarang mahasiswa merasa minder atau takut berbicara bahasa Arab karena khawatir logatnya “terlalu Indonesia”. Padahal, dalam linguistik, kefasihan tidak diukur dari hilangnya logat, melainkan dari kemampuan menyampaikan makna dengan jelas dan tepat.
Justru, keberagaman logat menunjukkan bahwa bahasa Arab bukan bahasa yang eksklusif. Ia hidup dan berkembang di berbagai budaya, termasuk di Indonesia. Logat lokal menjadi bukti bahwa bahasa Arab dipelajari, digunakan, dan dihidupkan oleh banyak penutur non-Arab dengan latar belakang yang beragam.
Sebagai mahasiswa PBA, yang terpenting bukan meniru penutur asli secara sempurna, melainkan terus memperbaiki pelafalan sambil menjaga kepercayaan diri. Karena pada akhirnya, logat bukanlah penghalang komunikasi, melainkan warna yang membuat bahasa terasa lebih hidup dan manusiawi. (*)
__________
*) Penulis: Nachya Khoirunnisa, Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
