zmedia

Scroll Tanpa Henti: Pengaruh Media Sosial terhadap Bahasa dan Psikologi Remaja

Naufal ‘Affan Dzulfiqar Nurroziq, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
HARIANCENDEKIA, OPINI - Beragam media sosial, apalagi Tiktok, sekarang sudah menjadi budaya bahkan rutinitas dari kehidupan kita sehari-hari, terutama di kalangan Gen-Z. Hampir sepanjang setiap waktu yang kosong, dimana pun dan kapan pun tangan ini otomatis membuka aplikasi tersebut. Entah menunggu kelas dimulai, menunggu bus datang, bahkan sebelum tidur sampai tertidur pulas masih stay dalam aplikasi tersebut.

Awalnya hanya berniat melihat beberapa video agar menghilangkan rasa capek dan jenuh, tetapi tanpa disadari waktu terus berjalan menjadi berjam-jam. Kejadian ini banyak kita rasakan dan sulit untuk kita membatasi diri terhadap scrolling. Setiap video seakan memancing emosional kita untuk tetap scroll dan semakin tenggelam dalam rasa nyaman dan penasaran.

Selain sebagai hiburan, Tiktok juga menarik jika kita menilai dari sudut kebahasaan dan linguistik. Platfrom ini menjadi ruang perkembangan bahasa yang sangat berpengaruh besar, terutama di kalangan remaja. Banyak kosa kata asing yang muncul dan tersebar luas seperti “for your page (FYP)”, “healing”, “ghosting”, “insecure” dan lain sebagainya. Beberapa bahasa ini diambil dari kata serapan bahasa Inggris, beberapa mungkin kreasi anak muda zaman sekarang, dan sebagian lainya perubahan makna dari kata atau kalimat yang sudah ada. Peristiwa ini merupakan wujud tentang bagaimana besarnya dampak Tiktok dalam penyebaran kosakata baru serta membentuk identitas kelompok.

Tidak dapat kita hindari bahwasanya konten Tiktok Memiliki daya tarik yang sangat kuat karena bahasanya yang terkesan bersahabat, sederhana dan komunikatif. Bahasa yang digunakan cenderung lebih ekspresif dan sesuai dengan kegiatan keseharian para remaja, sehingga menciptakan kedekatan emosional terhadap viewer nya. Banyak remaja merasa terbantu karena menemukan inovasi dan hiburan sekaligus pelarian rasa penat yang mereka alami selama seharian penuh. Bahkan banyak yang merasa mendapat motivasi ataupun pengetahuan baru. Tiktok juga memberikan ruang bagi mereka yang ingin mengekspresikan diri melalui bahasa sendiri. Ketika mereka sulit mengungkapkan apa yang mereka rasa kan di dunia nyata, Tiktok menyediakan tempat untuk berkomentar, postingan, repost dan membagikan postingan yang sesuai dengan isi hati mereka sehingga menciptakan rasa diterima dan lebih dihargai.

Namun di sisi lain, bahasa di TikTok juga bisa menjadi asal bermulanya tekanan sosial. Penggunaan bahasa yang berlebihan untuk menunjukkan pencapaian, gaya hidup, atau keberhasilan bisa menyebabkan praktik penggunaan bahasa untuk membangun value yang tinggi tetapi sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Saat melihat video orang lain yang menggunakan kalimat yang memotivasi tentang prestasi besar atau kehidupan yang tampak sempurna, muncul rasa ingin membandingkan diri sendiri. Bahasa yang sebelumnya digunakan untuk berbagi cerita justru berubah menjadi alat untuk membandingkan diri dengan orang lain, yang pada akhirnya memengaruhi kesehatan mental remaja dan melemahkan rasa percaya diri mereka.

Fenomena linguistik lainnya adalah pencarian validasi melalui bahasa. Remaja yang sering mengunggah konten kerap merasa tertekan untuk menggunakan kata-kata yang dianggap “menarik”, “reliable”, atau “estetik” agar memperoleh banyak like dan komentar. Jika respons penonton tidak sesuai harapan, akan muncul rasa kecewa. Validasi digital melalui bahasa singkat seperti “keren”, “fix relate”, atau emoji hati seringkali dianggap sebagai penentu nilai diri. Dalam hal ini, terlihat bahwa bahasa di media sosial bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai alat negosiasi identitas dan pencarian penerimaan sosial.

Namun, pengalaman setiap orang berbeda. Banyak pula konten edukasi linguistik, literasi bahasa, dan kesehatan mental yang memberikan wawasan baru bagi remaja. Ada yang merasa nyaman setelah melihat komentar yang menunjukkan empati, ada yang menemukan teman baru hanya melalui interaksi bahasa di kolom komentar, bahkan ada yang memulai perjalanan menulis atau berbicara di depan umum berkat TikTok. Dalam hal ini, bahasa di TikTok dapat menjadi sarana pemberdayaan.

Semua hal tersebut menunjukkan bahwa TikTok memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan mental dan perkembangan kebahasaan remaja. Aplikasi ini bisa menjadi ruang pembelajaran dan penyembuhan, tetapi juga bisa menjadi sumber stres. Yang terpenting bukanlah apakah seseorang menggunakan TikTok, tetapi bagaimana cara penggunaannya dan bagaimana bahasa diinterpretasikan dalam interaksi digital.

Mengurangi waktu menggunakan TikTok bukan berarti harus menghentikannya sama sekali. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan. Ketika mulai merasa lelah, cemas, atau kehilangan arah, mungkin saatnya istirahat dari layar dan kembali ke komunikasi langsung berbicara dengan teman, beraktivitas di luar ruangan, membaca buku, atau sekadar beristirahat tanpa ada distraksi. Pada akhirnya, TikTok hanyalah alat. Bahasa yang digunakan di dalamnya tidak seharusnya menentukan nilai diri seseorang. Jumlah like, views, atau followers bukanlah ukuran keberhasilan. Bahasa seharusnya menjadi alat untuk saling memahami dan saling menguatkan bukan untuk saling mengukur. Hidup sebenarnya terjadi di dunia nyata, bukan di balik video beberapa detik yang terus berlalu di layar. (*)
__________
*) Penulis: Naufal ‘Affan Dzulfiqar Nurroziq, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
ADVERTISEMENTseedbacklink