![]() |
| Fathi Dafa Nazhari Achmad, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. |
Di era digital yang serba cepat, gaya komunikasi kita memang berubah drastis. Kehadiran aplikasi pesan instan seperti WhatsApp memudahkan kita untuk berkomunikasi tanpa batas ruang dan waktu. Dengan tuntutan komunikasi yang cepat, sederhana, dan keinginan untuk terlihat gaul, sering kali kita mengabaikan kaidah bahasa yang baku. Hal ini menjadi penyebab banyaknya orang yang menyingkat tulisannya dalam berkomunikasi di WhatsApp, dan dari tuntutan tersebut muncullah fenomena “kata singkatan atau pemendekan kata”.
Singkatan sebenarnya bukan fenomena baru. Secara teori, singkatan adalah proses pemendekan kata dengan menetapkan huruf-huruf awalnya saja. Namun, seiring berkembangnya media dan meningkatnya kreativitas warganet Indonesia di media sosial, penggunaannya melampaui apa yang tertulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) atau ejaan yang berlaku. Contohnya mulai dari singkatan “blm” (belum), “tdr” (tidur), “knp” (kenapa), “msk” (masuk), “bljr” (belajar), “jwb” (jawab), dan masih banyak lagi. Semua ini disingkat demi mengefisienkan ketikan atau mungkin karena malas mengetik. Lebih dari itu, muncul pula singkatan yang bukan lagi soal efisiensi, tetapi soal emosi.
Coba perhatikan singkatan “Gpp” (enggak apa-apa) atau balasan satu huruf “Y” (iya). Bagi pengirim, mungkin ini sekadar hemat ketikan. Akan tetapi, bagi penerima, dua singkatan ini sering kali terasa seperti kode keras. Apakah benar ia tidak apa-apa? Atau singkatan “Y” itu tanda ia sedang marah dan malas meladeni percakapan? Di sinilah singkatan berubah menjadi ujian perasaan. Meskipun penggunaan singkatan membuat pengetikan lebih cepat, fenomena ini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia merupakan variasi bahasa yang kreatif dan efisiensi pengetikan. Namun, di sisi lain, jika tidak digunakan dengan bijak, singkatan dapat memicu kesalahpahaman, terutama jika lawan bicara gagal menangkap makna yang dimaksud.
Ketika sebuah singkatan meluncur di kolom chat, hanya ada dua kemungkinan: diterima dengan paham atau justru berujung salah paham. Mengapa satu singkatan yang sama bisa memicu reaksi berbeda? Menurut pandangan penulis, kelompok atau orang yang langsung paham biasanya memiliki “jam terbang” komunikasi yang tinggi. Faktor utamanya adalah intensitas obrolan di WhatsApp. Ketika kita sering bertukar pesan dengan seseorang, lama-kelamaan terbangun sebuah chemistry digital; kita jadi hafal karakter dan gaya ketikannya. Saking seringnya berkomunikasi, kita tidak hanya menangkap maknanya saja, tetapi seolah-olah dapat mendengar nada bicaranya. Selain itu, faktor “melek tren” juga memiliki pengaruh besar. Orang yang mengikuti perkembangan zaman tentu lebih cepat terhubung dengan istilah singkatan baru yang sedang viral.
Ambil contoh singkatan “TMI”. Bagi Gen Z, ini adalah istilah sehari-hari yang berarti Too Much Information (informasi yang terlalu banyak/tidak perlu). Mereka langsung paham bahwa lawan bicara sedang memberi informasi yang tidak diminta. Namun, coba kirimkan singkatan ini kepada kalangan Boomer atau orang tua yang tidak familiar dengan istilah digital. Mereka mungkin mengira itu kode atau singkatan instansi resmi. Ketidaktahuan terhadap konteks inilah yang membuat singkatan yang niatnya praktis justru menjadi bumerang yang membingungkan.
Ketika chemistry digital sudah terbentuk kuat, terjadi fenomena menarik yang dapat disebut sebagai autocorrect alami di otak manusia. Hebatnya otak manusia, ketika membaca chat dari teman, sahabat, atau orang terdekat, kita tidak lagi mengeja huruf per huruf. Otak kita langsung memutar suara dan intonasinya. Kita langsung paham tanpa berpikir panjang. Di sinilah tingkat tertinggi komunikasi di WhatsApp dapat memahami singkatan huruf menjadi kata yang utuh. Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, banyak faktor lainnya, termasuk kemampuan mengikuti perkembangan zaman.
Sebaliknya, insiden salah paham biasanya terjadi karena kurangnya kedekatan emosional. Jika frekuensi komunikasi rendah, singkatan yang niatnya praktis justru dapat menjadi bumerang karena lawan bicara tidak terbiasa dengan gaya bahasa kita. Faktor lainnya adalah karena si penerima pesan kurang mengikuti perkembangan zaman. Bagi mereka yang jarang memantau tren media sosial, singkatan-singkatan baru ini bisa terlihat seperti kode rumit yang membingungkan.
Namun, ada juga pesan yang dapat membuat orang berpikir dua kali, seperti “jmber”. Kata ini dimaksudkan sebagai “jam berapa”, tetapi juga dapat dipahami sebagai “Jember”. Hal ini kembali lagi pada situasi dan konteks percakapan, apa yang sedang dibicarakan, dan apa yang sebenarnya dimaksud pengirim.
Penggunaan bahasa yang baik tetap diperlukan agar pesan tersampaikan dengan utuh. Risiko terbesar dari penggunaan singkatan yang berlebihan adalah hilangnya standar tata bahasa dan potensi kebingungan bagi penerima pesan. Oleh karena itu, sebagai pengguna yang cerdas, kita boleh saja menggunakan singkatan untuk situasi santai, namun sebaiknya kembali menggunakan kata lengkap saat berkomunikasi dalam konteks formal atau dengan orang yang belum terlalu akrab. Pada akhirnya, pesan yang berkelas bukan hanya soal seberapa cepat ia dikirim, melainkan seberapa tepat ia dimengerti. (*)
*) Penulis: Fathi Dafa Nazhari Achmad, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
**) Seluruh isi berita, artikel, atau opini sepenuhnya tanggung penulis, tidak menjadi tanggungjawab redaksi.
